22 September 2019

Orang-orang yang tak punya hasrat seksual di China: 'Seks tak bermakna dan tak produktif'

KONFRONTASI  -  Aseksual, atau orang-orang tanpa hasrat seksual, meningkat jumlahnya di China. Bagaimana kisah mereka berhadapan dengan budaya di sana?

Diane Xie tak khawatir ia tak punya ketertarikan seksual dan tak bisa membayangkan harus berhubungan seks dengan seseorang.

"Menurut saya terbebas dari hasrat seks bagus buat saya karena menurut saya seks itu tak bermakna dan tidak produktif."

Tak ada angka pasti berapa jumlah orang yang mengaku aseksual di China. Psikolog Kanada profesor Anthony Bogaert memperkirakan untuk Inggris, jumlahnya bisa satu persen populasi orang dewasa.

Dengan memakai perkiraan ini, peneliti di China menduga ada 10,8 juta orang aseksual di China, dengan angka 1,08 miliar orang berusia di atas 20 tahun menurut perhitungan terakhir.

Orang aseksual di China kini aktif di beberapa forum daring di beberapa media sosial di sana. Banyak yang bertukar pengalaman secara rutin dan mengembangkan kosa kata sendiri.

'Gejala'

Diane berusia 20-an. Ia pernah kuliah di Hong Kong, Inggris dan Belanda.

Pertamakali mengenali dirinya sebagai aseksual ketika ia berpacaran dengan seorang pria Belanda yang ia temui di universitas.

Sesudahnya ia merasa bingung kenapa tak punya ketertarikan seksual kepada teman kencannya, sekalipun ia merasa punya hubungan romantis.

Akhirnya ia berhasil mengenali "gejala" itu ketika mendiagnosa diri secara daring.

Ia kemudian mengenai AVEN — Asexual Visibility and Education Network — komunitas aseksual daring terbesar. Sesudah membaca definisi aseksual di sana, ia merasa itulah dirinya.

Ilustrasi

Menurut Diane sebagai perempuan China, mengaku aseksual sangatlah sulit karena budaya yang mengedepankan nilai keluarga. Orangtua pasti panik dengan kemungkinan tak menikah dan tak punya anak.

Tekanan

Tekanan untuk menikah dan punya anak juga datang dari pemerintah, seiring kekhawatiran krisis demografi di China. Juga ada kekhawatiran surplus jumlah laki-laki akibat aborsi selektif yang dilakukan terhadap perempuan karena kebijakan satu anak di masa lalu.

"Saya berulangkali mencoba bercerita kepada orang tua saya. Sekarang ibu saya mengerti dan berjanji tak akan memaksa saya menikah jika itu membuat saya tak bahagia.

Namun ayah berkeras, ia berpikir saya belum bertemu saja dengan orang yang saya suka," kata Diane.

'Jebakan besar'

Tetapi Diane hanya satu dari sejumlah besar perempuan China yang menimbang ulang tak hanya soal seks dan hubungan, tapi juga nilai pernikahan dan reproduksi.

"Menurut saya pernikahan itu jebakan besar buat perempuan," katanya.

"Kalau reproduksi bisa dilakukan tanpa seks dan pernikahan, orang bisa menikmati lebih banyak kebebasan pribadi."

Diane mengatakan ia punya teman baik, tapi percaya bahwa ia akan sendiri saja sampai akhir hidupnya. Menurutnya sulit untuk menemukan orang yang cocok secara romantis tapi juga aseksual di saat yang sama.

Professor Day WongProfesor Day Wong dari Hong Kong Baptist University meneliti aseksualitas di China.DAY WONG

 

Aseksual sebagai orientasi seks

Aseksualitas pelan-pelan mulai dikenal sebagai orientasi seksual di China seiring peningkatan di media sosial.

Di Douban asexuality group saja, ada lebih dari 10.000 pengguna. App populer di China seperti Zhihu, WeChat, dan QQ punya komunitas aseksual yang anggotanya bisa berjumlah puluhan ribu.

Agen dan situs kencan yang mencomblangi pernikahan aseksual seperti www.wx920.com di China juga muncul.

Profesor Day Wong mempelajari minoritas seksual di China selama lima tahun terakhir, dan hasil risetnya melihat ada spektrum dalam hal ini. Menurutnya, ada beberapa kategori dalam aseksualitas. Aseksual romantis tak memiliki ketertarikan seksual tetapi tertarik untuk menjalin hubungan romantis.

Beberapa menggunakan istilah 'cinta platonis' untuk menggambarkan tipe cinta non-seksual yang mereka dambakan. Ini bisa berupa kategori hetero-romantis, homo-romantis atau bi-romantis.

Maka ada juga aseksual panromantis yang secara romantis tertarik pada orang lain, tanpa terbatasi jenis kelamin atau gender mereka.

Aseksual aromantis beragam, mulai dari yang memilih pertemanan, hingga yang mengaku tak bisa berafeksi, bahkan termasuk kepada keluarga dan orang tua.

Ilustrasi

Stigma

Perempuan aseksual menghadapi tantangan khusus di budaya China, kata Profesor Day Wong.

Menurut survey daring tahun 2015 terhadap aseksual di China, 80% responden menyatakan jenis kelamin mereka secara biologis adalah perempuan dan kebanyakan berpendidikan perguruan tinggi.

"Sesudah reformasi di China, banyak klinik kesehatan seksual dibuka. Mereka menekankan pentingnya pernikahan yang harmonis. Maka jika Anda tak memiliki hasrat seksual, Anda akan mendapat stigma karena mengancam hamoni pernikahan dan stabilitas sosial," katanya.

Di grup daring aseksual, Profesor Wong menemukan pria heteroseksual yang antara lain mengeluarkan komentar, "kalau kamu mau berhubungan seks dengan saya, pasti kamu tak begini."

"Itu sesungguhnya merupakan seksisme, bahwa pria lebih baik dalam berhubungan seks dan bisa mendidik perempuan menjadi seksual," katanya.

Bahasa baru

Alih-alih menyerah pada sikap bermusuhan, Profesor Day Wong melihat komunitas aseksual membentuk bahasa dan identitas mereka sendiri.

Misalnya dengan memakai istilah "zen" atau "green character" untuk menggambarkan sikap "berdamai dengan sekitar tanpa hasrat seks pada orang".

Yang juga sedang naik daun di China adalah keluarga "DINK" (double income, no kids - penghasilan ganda tanpa anak) yang mencerminkan keluarga ideal pasangan aseksual. Hubungan yang menguntungkan ikatan pernikahan tanpa dimensi seksual.

Bahasa ini populer lewat forum daring, yang juga menyediakan platform untuk saling berhubungan.(jft/BBC)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...