Kadin butuh Rp1600 Trilyun, Rakyat Butuh Makan. NSF Ada Dana. Ikhtiar dan Gotong Royong Dibutuhkan

KONFRONTASI- Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Perkasa Roeslani menyarankan agar pemerintah untuk menambah jumlah stimulus dari saat ini totalnya sebesar Rp405 triliun menjadi Rp1.600 triliun untuk memitigasi dan menangani dampak Virus Corona baru atau COVID-19.. Rosan menilai bahwa stimulus yang telah dikeluarkan pemerintah masih belum ideal, terutama jika melihat masih ada 93 juta masyarakat miskin dan rentan miskin, serta pengusaha kecil dan pekerja informal lainnya yang belum mencakup bantuan."Kami melihat bahwa kebutuhannya sebesar Rp1.500 triliun sampai Rp1.600 triliun,''ujarnya.. PHK massal sudah menimpa lebih dari 2 juta buruh, pekerja harian, UKM,  usaha mikro kecil dan kaum sektor informal.

Sedangkan hasil riset gabungn berbagai organisasi kesehatan/ lembaga kedokteran, pemerintah dan swasta menyebutkan , jika tanpa intervensi, maka jumlah kematian akibat COVID-19 di Indonesia bisa mencapai 2,6 juta orang. Durasi epidemi diperkirakan berlangsung sekitar 4 hingga 5 bulan, dengan puncak kasus infeksi mencapai 55 juta orang pada Mei 2020, dan puncak kebutuhan ICU sekitar 6 juta orang.

Demikianlah, mayoritas rakyat butuh dana untuk hidup dan tidak mungkin hal itu  semuanya bisa dipenuhi pemerintah Jokowi yang sudah kalang kabut mengatasi krisis ekonomi dan pandemi Corona ini.

Dalam kaitan ini, pegiat sosial  alumnus ITB dan AS Ir Imbang Djaja  mengaku sudah kelelahan menawarkan usulan ke pemerintah dan dunia usaha  agar mencoba ke NSF, namun tak ada respon mereka.

Imbang  masih mengharap dan mendorong Indonesia  ikhtiar  dan gotong royong di era krisis ekuin dan bencana ini mengajukan pinjaman  ke National Standard  Finance (NSF) USA, yang jelas  di luar IMF/WORLD BANK. ‘’ Potensi NSF perlu dicoba, colateralnya pakai milik para pihak yang  saya lobi dan mereka komit bantu rakyat, dan saya sudah berbicara dengan mereka,  dengan komitmen collateral dari mereka lebih dari US$1 Trilyun dan siap menggunakan colateral (agunan) itu utk memberi pinjaman US$500 milyar dari NSF bagi rakyat Indonesia (bukan utk pejabat/oknum elite penguasa ). Dan  prosesnya sekitar 21 -31 hari, dan tergantung kebutuhan kita . Saya saat ini punya kuota NSF $500 milyar yg siap dipinjamkan ke NKRI. Para pemilik collateral siap dipinjam collateral nya, semua memang ada bunga yg harus dibayar, tapi dengan  ''finance engineering'', pengusaha, negara  atau pihak swasta peminjam ke NSF tidak harus membayar bunga, namun pinjaman pokok-nya bisa dipakai selama 25-30th, mari ikhtiar,’’ kata Imbang Djaja. 

Namun tidak ada respon dari BUMN, pejabat, pemerintah pusat/daerah,  Kadin/pengusaha dan kelas menengah di Indonesia. 

Simak https://konfrontasi.com/content/ragam/para-pemegang-dana-amanah-siap-bantu-bangsa-dan-negara-catatan-imbang-djaja 

Simak https://www.konfrontasi.com/content/ragam/rakyat-butuh-dana-untuk-bertahan-hidup-potensi-nsf-perlu-dicoba

Kata Imbang, bisa juga semua BUMN, Kadin, pengusaha, pejabat dan penguasa mengontak langsung NSF:Kemudian tanyakan langsung ke CEO-nya (Russel Duke), selengkapnya: Russell Duke, President & Chief Executive Officer, National Standard Finance LLC, National Standard Global Management, 1201 W. Peachtree Street, Atlanta, Georgia 30309, USA +1-404-795-5051, +1-404-374-5145, RDuke@NatStandard.com (www.NatStandard.com)  tentang NSF dan soal Swiss Key Trading-SKT  (https://www.moneyhouse.ch/en/company/swiss-key-trading-sa-13163584451 ), dimana Imbang Djaja dapat membantu prosesnya untuk Indonesia dan Asia Pacific.

Keluarga Imbang  bergerak di bidang pendidikan dan mengelola sekolah  di Jakarta dan punya jaringan pesantren, namun semua terpukul wabah Corona dan krisis ekuin. ''Saya mengakses NSF, tak punya relasi di IMF/Bank Dunia,''ujarnya. 

''Sekali lagi, tidak ada respon dari BUMN, pejabat, pemerintah pusat/daerah,  Kadin/pengusaha dan kelas menengah di Indonesia. Harusnya kita gotong royong. Saya terpaksa akan konsentrasi ke luar negeri, Filipina, Brunei dan Malaysia membutuhkan dana NSF itu, jadi saya fokus ke luar negeri dulu,  agar kemudian bisa menolong rakyat di dalam negeri,'' kata pendiri PPMI itu. (sumber2)

 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...