Iran Makin Siap Perang, Langgar Batas Uranium Perjanjian Nuklir

KONFRONTASI -  Presiden Iran, Hassan Rouhani, baru-baru ini mengatakan bahwa negaranya saat ini sedang memperkaya uranium pada tingkat yang lebih tinggi.

Setelah ketegangan politik antara Iran dan Amerika Serikat semakin memanas, kesepakatan Nuklir tahun 2015 berada di ambang kehancuran.

Rouhani mengklaim sedang memperkaya Uranium sebelum perjanjian nuklir membatasi kegiatan itu.


Sebuah pernyataan yang dilakukan oleh Rouhani ini kemungkinan akan membuat marah pemerintah Trump dan kritik pemerintah.

Dikarenakan uranium yang diproduksi oleh pemerintahan Iran ini merupakan bahan yang dapat digunakan untuk bom nuklir.

Trump telah berulang kali mengatakan bahwa dia tidak akan membiarkan Iran mengembangkan senjata nuklir selama ia mengawasi, sehingga Gedung Putih menganggap bahwa pernyataan Rouhani sebagai provokasi yang jelas.

Ketika Trump menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir 2015, hal tersebut diyakini para ahli merupakan cara efektif untuk mencegah Iran membuat bom.

 

Para kritikus menganggap bahwa keputusan yang di ambil oleh Trump dan strategi 'tekanan maksimum' yang lebih luas terhadap Iran.

Namun dengan Rouhani memberikan pernyataan maka terlihat bahwa pendekatan-pendekatan yang dilakukan merupakan kesalahan.

Para kritikus juga mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh keduanya adalah benar, namun hanya sampai taraf tertentu.

Pernyataan Rouhani dianggap provokatif namun itu juga konsekuensi langsung yang harus AS hadapi ketika menarik diri dari perjanjian nuklir 2015.

Dalam pertemuan Rouhani dengan Bank Sentral Republik Islam, pada Kamis, 16 Januari 2020, apa yang dilakukan oleh Iran adalah tanggapan pada penarikan diri yang dilakukan AS pada perjanjian Nuklir.

Baca Juga: Sule Dikabarkan akan Segera Menikah dengan Pramugari, Asisten Rumah Tangga Buka Suara

"Menanggapi penarikan AS dari kewajibannya, kami memutuskan untuk mengurangi komitmen kami selangkah demi selangkah," ujar Rouhani dalam pidatonya, dikutip Pikiran-Rakyat.com dari laman Vox.

Dalam penyataan Rouhani penting untuk dicatat bahwa tidak berarti Iran bergerak untuk membuat senjata nuklir.

Masih ada waktu sekitar satu tahun untuk mendapatkan bom jika memutuskan untuk mulai membuat bom dan ambang pengayaannya masih jauh di bawah apa yang diperlukan untuk membuat perangkat yang sukses.
Terlebih lagi, melihat rezim Iran belum pernah benar-benar menyatakan ingin membangun senjata nuklir.

Selain hal tersebut, ada pula alasan lain untuk tetap tenang, ada kemungkinan bahwa Rouhani sedang mengalami situasi overhyping.

Menurut seorang ahli di Perusahaan Konsultan Internasional Grup Eurasia, Henry Rome, menyatakan bahwa Iran hanya mengoperasikan sebagian kecil dari sentrifugal yang dimilikinya.

"Iran saat ini hanya mengoperasikan sebagian kecil dari sentrifugal yang dimilikinya sebelum JCPOA," kata Henry Rome.

Ia juga mengatakan bahwa Iran melebih-lebihkan kemampuan mereka mengenai perakitan nuklir.

"Iran cenderung melebih-lebihkan tentang kemampuan nuklirnya ketika berbicara dengan audiensi domestik." ujarnya.i

Seorang pakar senjata nuklir dari Washington, Elana DeLozier menuliskan dalam akun Twitter resminya, @ElanaGulf pada Kamis sore, bahwa Iran hanya perlu melipatgandakan produksinya hanya dalam waktu satu bulanKarena salah satu cara untuk mengetahui apakah perkataan dari Rouhani itu benar adalah dengan cara melihat sebuah laporan dai Badan Energi Atom Internasional, yang merupakan pengawas nuklir internasional, mengenai kepatuhan nuklir Iran yang keluar bulan depan.

    Rouhani says #Iran is producing more enriched uranium now than before JCPOA. From about 2012 to 2014, Iran was producing (on average) ~230 kg <5% LEU on ~9k IR-1 centrifuges and ~4.6 kg 19.75% LEU on 328 IR-1s at Natanz FEP and PFEF + ~10.5 kg 19.75% LEU on 696 IR-1s at Fordow.— Elana DeLozier (@ElanaGulf) January 16, 2020

Menurut para ahli lainnya, mengatakan bahwa penyataan yang dikeluarkan oleh Rouhani dapat ditafsirkan sebagai sinyal bagi negara-negara Eropa untuk tetap bertahan dalam kesepakatan.

Namun dibalik penyataan tersebut orang paling penting mendengar perkataan dari Rouhani pada akhirnya adalah Trump.

Jika Trump merasa Iran semakin dekat dengan pembuatan sebuah bom, maka akan ada kemungkinan ia memilih untuk menempatkan lebih banyak sanksi ekonomi pada Iran ataupun kemungkinan kecil ia akan memberikan otoritas pada serangan militer.

Namun pernyataan yang dikeluarkan oleh Rouhani dan keputusan Iran untuk memperkaya Uranium, akan menghasilkan dua keputusan yang kemungkinan dua-duanya dapat terjadi.

Kemungkinan yang pertama adalah pernyataan Rouhani dapat menekan negara-negara lain untuk mundur.

Sedangkan kemungkinan yang kedua adalah meningkatkan ketegangan yang saat ini sedang bergejolak.(Jft/PR)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...