18 December 2018

Idul Fitri: Pemuda Patani Bangkit Kampanye “Cinta Baju Melayu”

KONFRONTASI - Pada hari Raya Idul Fitri tahun ini, tampaknya warga masyarakat Patani (Thailand Selatan) baik penduduk yang tinggal di Desa maupun kota sama-sama untuk mengankan ciri khas budaya tempatan. Hal demikian juga telah diperkenalkan oleh seorang pemuda sebagai ketua proyek kampanye “Cinta Baju Melayu”, Muhammad Rusdi Syeik Harun, ketua Proyek Kampenye mengatakan dia telah memperkenalkan sudah 4 tahun tentang kampanye mengajak warga masyarakat untuk mengenakan budaya Melayu khususnya pada hari kebesaran. Oleh karena sebelumnya warga diintimidasi oleh kerajaan menyebabkan penduduk lokal tidak berani untuk berpakaian ciri khas budaya Melayu.

“Saya buat kampanye baju Melayu ini sudah 4-5 tahun, selepas itu tanggapan masyarakat sangat baik, dan pada tahun ini saya buat dengan lebih besar lagi proyek ini dengan mengajak kedai-kedai lain untuk menyokong proyek tersebut”, jelas Rusdi.

Rusdi mengajak pemuda dan pemudi tempatan yang belum pernah berpakaian baju Melayu untuk mengenakan kembali pakaian budaya diri sendiri melalui upload photo di media sosial dengan hastag “Cinta Baju Melayu”.

Proyek ini berkampanye melalui akun Facebook tujuan mengajak pemuda dan pemudi untuk kembali mengenakan baju budaya tempatan saat berhari Raya Idul Fitri tahun ini”, kata Rusdi seperti dilansir TV3 Malaysia.

Negera Melayu Patani Tersisa Nama

Sejak 1785 kerajaan Siam Thailand telah melakukan ekspansi wilayah jajahan sehingga berhasil menganeksasikan ke atas sebuah Negeri Melayu Patani Darussalam melalui perjanjian Anglo-Siamese Treaty pada 1909 yang ditandatangani Raja Thailand dan pemerintah Inggris, tanpa mengumumkan bagi penduduk lokal. Tragisnya, Hal tersebut menyebabkan rakyat Patani terpisah dengan saudaranya penduduk Melayu di wilayah sebelah utara bagian Negara Malaysia.

Kerajaan Thailand menyingkirkan terhadap raja dan putra-putra Melayu, pentadbiran ke atas wilayah jajahannya dan beberapa wilayah diperintahkan oleh seorang berbangsa Siam. Secara politik kekuasaan dan otoritas diserahkan kepada pegawai-pegawai Siam yang dilantik oleh kerajaan yang berpusat di ibukota Bangkok.

Sementara tahun 1939 Thailand di bawah perdana menteri Phibun Songkhram ketika itu memulai menerapkan kebijakan asimilasi terhadap penduduk Patani di wilayah bagian selatan. Kebijakan asimilasi yang mengupayakan pembauran dua kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli sehingga membentuk kebudayaan baru. Penduduk Patani dilarang berpakaian ciri khas Melayu, memaksa untuk berbahasa Thai, dan mengamalkan sesetengah ajaran Islam.

Demikian hal tersebut, penduduk Patani hari ini membangkit kembali untuk membuktikan bahwa jati diri dan bangsa Melayu Patani tak akan hilang di dunia.

Meriah Muslim Melayu Patani di Hari Raya Idul Fitri

Penduduk masyarakat Muslim Melayu Patani menyambut Hari Raya Idul Fitri dengan penuh antusias dan gembira riang. Saling bermaaf-maafan, kunjung-mengunjungi sesama saudara untuk mengeratkan tali silaturahim. Pada momen ini juga mereka mengenakan baju budaya Melayu sebagai corak merefleksikan adat pakaian kebudayaan yang dirintis oleh leluhur bangsanya.

Wan Muhamad Noor Matha, selaku mantan Menteri Keamanan, dan DPR Thailand yang juga sangat mendukung seluruh warga masyarakat Melayu Patani untuk mengenakan budaya Melayu pada hari raya Idul Fitri, bagi  laki-laki untuk mengenakan baju Telok Belango dan perempuan untuk mengenakan Baju kurung. Ia mengatakan Oleh karena jati diri bangsa Melayu semakin hilang kalau warga tidak ingin mempertahankan.

“Hari Raya Idul Fitri tahun ini, saya sangat suka sekali yang ada para pemuda yang bangkit aksi kempanye budaya Melayu oleh karena kita adalah orang Melayu. Kalau kita cinta budaya Melayu tetapi tidak menunjukan budaya Melayu kita, saya takutnya suatu hari masa depan anak cucu kita tidak kenal lagi budaya Melayu. Oleh karena itu sepakatlah kita untuk cinta budaya Melayu, denga setiap orang pada pagi hari raya marilah kita pakai baju Melayu”, tandas Wan Muhamad Noor Matha didalam rekaman video yang telah viral melalui akun facebook cinta baju Melayu pada Jum’at (15/5) pekan lalu.

Saat ini, aspirasi masyarakat Patani sudah tidak lagi bertahan dalam suasana kerusuhan konflik yang sudah berkepanjangan itu. Mereka tidak berharap lagi dengan jalan kekerasan bersenjata yang telah banyak terkorban. Namun jauh sebelumnya perjuangan masyarakat Patani telah diperjuangkan oleh seorang tokoh dengan cara damai, seperti Tuan Guru Haji Sulong Abdul-Qadir.

Penduduk masyarakat Patani telah melahirkan kesadaran (spirit nation and state) mereka ingin menentukan nasibnya sendiri yang tidak menggantungkan lagi harapan dan cita-cita kepada pemerintah dalam masalah proses penyelesaian konflik di Patani, Thailand bagian selatan.

Dewasa ini, warga Patani ingin menentukan nasib bangsa mereka. Baik di dalam maupun di luar negeri. Orang tuanya mengirimkan putra putri untuk melanjutkan studi di nageri jiran seperti Malaysia, Indonesia, Brunei bahkan sampai ke Timur Tengah. Hingga saat ini, jumlah mencapai lebih dari 6000 orang Patani sedang menuntut ilmu di luar negeri.

Aksi Kostum Melayu Muslim Patani di Internasional

Momentum aksi kempanye “Cinta Baju Melayu” juga dirayakan oleh para mahasiswa Patani yang  berada di perantauan. Mereka mengenakan baju Malayu saat berhari raya di nageri orang. Sebagai mempromosikan budaya Melayu Patani untuk lebih dikenal oleh warga Negara luar, entah mayarakat serumpun Melayu dan masyarakat lingkungan internasional.

Kampenye “Cinta Budaya Melayu”, menurut Nik Saibudin, selaku ketua umum PMIPTI Yogyakarta sebagai mendorongkan visi kesatuan nasional untuk maju kedepan, tak terkecuali yang sedang di perantauan juga harus mendukung terhadap hal ini.

“Pada hari raya tahun ini kita juga berpakain baju Melayu. Meskipun kita sedang di tanah Jawa, dengan sebab pada tahun ini seluruh masyarakat Patani telah berpakain baju Melayu untuk menjunjung tinggi nilai budaya atau disebut jati diri bangsa” ujarnya di sela-sela acara menyambut malam takbiran di asrama PMIPTI Yogyakarta, Kamis malam (14/6/2018) pekan lalu.

Sementara Suharianto, selaku Tim Pembangunan Masjid Jogokariyan mengatakan bahwa Patani bagi warga Indonesia adalah warga minoritas muslim yang berada di Negara Thailand dan sering diintimidasi dan teraniayai oleh pemerintah non muslim dengan berbagai macam. Dan pada akhir ini, dia berpesan agar warga Patani tetap konsisten dalam menjaga keimanan dan nilai kebudayaan meskipun secara geografisnya masih dibawah Thailand, dan semoga semangat perjuangan bangsa Patani tidak pernah pudar.

“Patani bagi kami secara garis besarnya adalah saudara Muslim yang menjadi minoritas berada di bawah Thailand, yang sering di kejar-kejar dan dianiaya oleh pemerintah non muslim, meskipun dari segi geografis wilayah masih di bawah Negara Thailand yang tidak pro Islam. Namun mereka masih tetap konsisten mempertahankan budaya” kata bapak Suharianto kepada wartawan Tunas Online, pada Sabtu (16/6/2018). di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Kota Yogyakarta,[Red/Hamsyari/ian]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...