Disekap 17 Jam, Dianiaya Pengusaha, Live di Instragam

Konfrontasi - Urusan utang piutang membuat WU mengalami trauma yang sangat mendalam. Dia disekap oleh salah satu pengusaha dekorasi berinisial MT selama 17 jam pada Senin (8/5) lalu. Selain itu, dia juga dianiaya MT dan anak buahnya.

Saat itu, WU yang sedang berada di rumahnya di Tarakan didatangi MT beserta beberapa anak buahnya. WU dan MT terlibat pembicaraan terkait alat dekorasi yang belum dibayar korban.

“Saya memiliki usaha event organizer (EO) dan berkerja sama dengan MT terkait pemakaian alat dekorasi sudah hampir tiga tahun. Saat itu, saya berbicara dengannya terkait pembayaran yang belum bisa saya lakukan karena adanya masalah dalam keuangan saya,” tutur WU, Kamis (11/5/2017).

Mendengar penjelasan WU yang belum bisa membayar utang membuat MT naik pitam. Dia memaksa WU untuk ikut dengan menaiki mobilnya menuju ke gudang dekorasi miliknya.

“Di dalam gudang tersebut saya diancam oleh MT dengan disaksikan anak buah dan belasan pelajar dari sekolah yang sebelumnya menggunakan jasa EO saya, agar membayar hingga pukul 00:00 Wita,” ungkap WU.

Dia mengaku diancam bakal dipukul beramai-ramai oleh anak buah MT yang berjumlah tujuh orang.

“Saat itu saya berusah menghubungi beberapa keluarga maupun teman saya namun hasilnya nihil,” tuturnya.

Tepat pukul 00:00 Wita, WU yang tak bisa membayar utang langsung dianiaya.

“Tidak hanya MT yang memukul saya, anak buahnya yang berjumlah sekitar tujuh orang dan salah seorang pelajar yang ada di situ ikut menganiaya saya pada saat itu,” ungkapnya.

Peristiwa itu sempat direkam secara live streaming menggunakan Instagram oleh salah satu pelajar. Akibatnya, netizen bisa menyaksikan peristiwa mengerikan itu.

Disekap 17 Jam, Dianiaya Pengusaha, Live di Instragam - JPNN.COM

“Usai dianiaya oleh MT dan beberapa orang yang digudang, saya kembali diancam bila tidak cepat melunasi utang tersebut, saya akan dibunuh dan dikubur di belakang gudang miliknya. Selain itu kedua telinga saya akan dipotong untuk di jadikan alat klakson. Menurut dia (MT) kedua telinga saya sudah cukup untuk melunasi utang saya,” bebernya.

Setelah itu, WU didatangi salah seorang anak buah MT berinisial AO yang ikut memberikan kata intimidasi kepada dirinya.

“Setelah mengintimidasi saya, AO langsung memukul belakang leher saya dan jatuh tersungkur ke depan. Melihat saya sudah tak berdaya AO menginjak tulang rusuk saya, saya juga melihat saat itu MT ikut memukul saya kembali,” ucapnya.

Selanjutnya, WU disekap di dalam gudang yang dalam posisi terkunci dari luar. WU dilarang keluar hingga dapat melunasi utangnya. Dia diberi waktu hinga esok hari pukul 14: 00 Wita.

“Saya bangun pukul 07:00 Wita, pada saat itu saya menelepon MT untuk memohon agar membiarkan saya keluar dari gudang untuk bertemu keluarga saya membicarakan terkait masalah ini,” ungkapnya.

Sekitar pukul 12:00 Wita, WU keluar dari gudang. Dia dikawal oleh beberapa anak buah MT dan pelajar yang sebelumnya memakai jasa EO WU.

“Pelajar ini bahkan mengikuti saya sampai ke rumah orang tua saya,” ucapnya.

Sampai di rumah, WU kaget karena ibu dan anaknya sudah babak belur karena dihajar MT dan anak buahnya.

“Orang tua saya tidak terima dan menyarankan saya melaporkan hal ini ke pihak kepolisian. Sebab, tindakan yang dilakukan MT dan anak buahnya sudah masuk kategori tindakan kriminal,” ujarnya.

Atas pertimbangan tersebut, dia langsung melaporkan kejadian itu ke Polres Tarakan, Selasa (9/5). Hal ini terlihat dengan surat Tanda Bukti Lapor Nomor: TBL/96/V/2017/Kaltim/Res Trk.

Namun laporan itu dicabut oleh WU pada Kamis (11/5/2017) karena dirinya akan menyelesaikan permasalahan dengan cara kekeluargaan. (jp/mg)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...