Dianiaya Guru, Tiga Siswa MTs Alami Trauma Berat

Konfrontasi - Tiga orang siswa salah satu MTs Negeri di Desa/Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu mengaku telah dianiaya guru mereka sendiri. Orang tua ketiga siswa itupun mendatangi sekolah untuk memprotes hal tersebut.

Adapun ketiga siswa itu bernama Pusin (14) siswa kelas VIII E, Juwanto (13) siswa kelas VII D dan Noval (14) kelas VIIIe C. Seluruhnya warga Desa Tugu Lor, Kecamatan Sliyeg Kabupaten Indramayu.

Ketiga siswa itu diduga dianiaya oleh tiga orang guru mereka. Yakni Sy yang merupakan guru SKI, Muh guru Akidah Akhlaqdan Rf guru Bahasa Arab.

Salah seorang siswa, Pusin, mengaku telah dipukuli, ditendang, ditempeleng dan dibenturkan ke tembok. Peristiwa tersebut terjadi ketika terjadi keributan di antara dia dan temannya pada Kamis (3/9) lalu.

''Waktu itu kami ada pertengkaran dengan siswa lain terus kami dipanggil lalu ditendang, dijedotin ke tembok oleh ketiga guru tersebut,'' kata Pusin kepada para wartawan, Selasa (8/9).

Pusin mengaku, akibat peristiwa itu, dirinya mengaku masih merasa kesakitan dan trauma. Namun, dia tidak memberitahukan kejadian tersebut kepada orang tuanya.

Namun, orang tua Pusin ternyata mengetahui peristiwa itu dari teman Pusin lainnya. Dia pun langsung mendatangi sekolah karena tak terima anaknya diperlakukan seperti itu.

''Guru itu harusnya melindungi, mengayomi dan mendidik, bukan melakukan kekerasan terhadap anak,'' kata orang tua Pusin, Jafar saat mendatangi MTs Negeri Sliyeg di Desa/Kecamatan Sliyeg.

Jafar berharap, pihak sekolah melakukan proses mutasi kepada ketiga guru tersebut. Jika tidak, dia mengancam akan menempuh jalur hukum.

Sementara itu, salah seorang guru yang diduga melakukan penganiayaan, Sy mengaku telah melakukan hal tersebut. Namun, dia melakukan hal itu semata-mata untuk tujuan mendidik.

Sy menjelaskan, peristiwa itu bermula ketika salah seorang siswa, Juwanto menyuruh salah satu siswa lainnya untuk membeli nasi. Namun, siswa tersebut menolaknya sehingga secara spontan Juwanto menendang siswa tersebut hingga akhirnya terjadi perkelahian.

Sy mengatakan, dirinya dan kedua guru lainnya datang untuk melerai Juwanto, Pusin dan Noval. Pihaknya memanggil ketiga siswa itu ke ruang lobi BK sekolah. "Perkelahian antarsiswa tersebut sering terjadi sehingga saya pun spontan melakukan hal tersebut," tutur Sy.

Sedangkan kedua guru lainnya, Muh dan Rf, awalnya membantah melakukan dugaan penganiayaan terhadap ketiga siswa. Mereka berdalih hanya bermaksud mendidik para siswanya agar tidak mengulanginya lagi. Ketiga orang guru itu pun berjanji tidak akan melakukan hal tersebut. Mereka juga meminta maaf. (akl/ar)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...