22 August 2019

Beredar Video Air Laut di Pesisir Cilacap Surut 20 Meter, BPBD: HOAX!

KONFRONTASI -  Sebuah pesan berantai dan video soal air laut surut di pesisir selatan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah beredar di media sosial, Minggu (21/7/2019).

Adapun pesan itu menyebutkan, masyarakat yang berada di Cilacap dimohon untuk segera pulang.


Pasalnya, air laut sudah surut sejauh 20 meter.

"Sekilas info lur. Bagi yang keluarganya lagi berlibur di Cilacap dimohon untuk segera pulang."

"Yang punya keluarga di Cilacap untuk siaga dikarenakan air laut sudah surut 20 meter."

Demikian bunyi pesan berantai yang viral tersebut.

Tak hanya itu, informasi surutnya air laut di pesisir Cilacap juga dilengkapi dengan foto dan video kondisi pantai yang terlihat perahu-perahu terdampar di tepi pantai.

Selain itu, seorang pengguna Facebook, RT, juga menyebarkan informasi ini dalam bentuk video di akunnya.


Video berdurasi 18 detik ini diunggahnya pada Minggu (21/7/2019) dan telah ditonton sebanyak 370 kali penayangan

"Ini enggak beres pantai Cilacap teluk penyu air surut ini, bertanda kayak mau tsunami ini, sama persis kayak yang di Aceh tahun 2004 yang lalu."

"Tapi Allahualam-lah aja sampe pokoke, pengin e tah sing selamet (jangan sampai terjadi tsunami, harapannya semua selamat)," tulis RT dalam unggahannya.

"Itu hoaks. Foto (yang menunjukkan air laut surut) bukan kondisi saat ini, foto tahun kapan itu?" ujar Tri Komara kepada Kompas.com, Minggu (21/7/2019).


Hoaks, video yang menampilkan kondisi air laut yang surut sejauh 20 meter di pesisir Cilacap, Jawa Tengah.

Hoaks, video yang menampilkan kondisi air laut yang surut sejauh 20 meter di pesisir Cilacap, Jawa Tengah. (Facebook: Ragil Trevel)

Selain itu, Tri mengungkapkan, tim BPBD telah berkeliling mengecek kondisi pesisir laut selatan.

Tim tidak menemukan fenomena air laut yang surut seperti yang nampak dalam foto dan video yang beredar.

"Air laut sementara normal, tidak surut, (justru) sedang pasang."

"Tim BPBD sudah berkeliling ke wilayah pesisir pantai," ujar Tri.


Setelah beredar kabar potensi tsunami yang mencapai ketinggian 20 meter di laut selatan, Tri mengimbau masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir untuk tetap tenang.


Sebelumnya, dikutip dari Tribun Jogja, lautan yang berada di pantai selatan di DIY memiliki potensi bencana gempa bermagnitudo 8,8 dan tsunami hingga ketinggian 20 meter.

Wilayah ancaman berupa bencana gempa bumi yang berpotensi tsunami di DIY terletak di pesisir selatan yang berbatasan dengan Samudera Hindia.

Hal ini diungkapkan oleh pakar Tsunami dari Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) Widjo Kongko dalam sesi jumpa media di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Rabu (17/7/2019).


Dijelaskan, Samudera Indonesia/Hindia di selatan Pulau Jawa merupakan pertemuan lempeng Eurasia dan Indoaustralia yang merupakan potensi sumber terjadinya gempa bumi tektonik.

Letak pertemuan lempeng di tengah laut menyebabkan wilayah pesisir menjadi rentan terhadap bahaya tsunami yang diakibatkan oleh pergeseran lempeng tersebut.

Widjo menyebut, pergeseran lempeng tersebut berakibat adanya potensi gempa megathrust yang memiliki potensi kekuatan hingga magnitudo 8,8 di selatan Pulau Jawa sehingga menyebabkan tsunami.

"Ada segmen-segmen megathrust di sepanjang selatan Jawa hingga ke Sumba di sisi timur dan di selatan Selat Sunda."

"Akibatnya, ada potensi gempa megathrust dengan magnitudo 8,5 hingga 8,8," jelasnya.

Berdasarkan permodelan, gelombang tsunami tersebut memiliki potensi ketinggian mencapai 20 meter dengan jarak rendaman sekitar tiga hingga empat kilometer.

"Jika BMKG membutuhkan waktu lima menit sejak gempa untuk menyampaikan peringatan dini, maka masyarakat hanya memiliki waktu sekitar 25 menit untuk melakukan evakuasi atau tindakan antisipasi lain," tegasnya.

Ia juga menjabarkan, daerah yang berpotensi terkena dampak gelombang tsunami jika terjadi gempa megathrust di selatan Jawa khususnya di selatan DIY cukup panjang yaitu mulai dari daerah Cilacap hingga ke Jawa Timur.

Berdasarkan catatan, gempa besar di selatan Pulau Jawa yang menimbulkan gelombang tsunami pernah beberapa kali terjadi.


Diantaranya pada tahun 1994 di Banyuwangi dengan magnitudo 7 dan pada 2006 yang menyebabkan tsunami di Pangandaran akibat gempa bermagnitudo 6,8.

"Pada gempa 1994, memang tidak ada catatan terjadi tsunami di DIY."

"Namun pada 2006, ada catatan terjadi tsunami di selatan DIY tetapi jangkauannya tidak melebihi Gumuk Pasir di Parang Kusumo," bebernya.

Kendati demikian, dari penelitian yang dilakukan, peristiwa gempa megathrust di selatan Pulau Jawa pernah terjadi dengan kekuatan magnitudo 9.

"Umur radioaktif dari unsur-unsur yang kami temukan di Lebak Banten dan Bali memiliki umur yang sama."

"Artinya, pernah ada tsunami di selatan Jawa yang disebabkan gempa dengan magnitudo besar," pungkasnya.(Jft/TribunCilacap)

 

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...