Belajar dari dampak Puisi Sukmawati

ACEH- ''Belajar dari dampak  puisi Sukmawati, soal Sukmawati Sukarnoputri, mungkin orang melihat kasus itu  lebih banyak politiknya. Hukum diberi tafsir politik dgn seluruh kepentingannya. Wajar saja jika pelapor "diperiksa", mungkin lebih  tepat ditanyai, soal laporannya apakah cukup atau bisa dijadikan kasus hukum? Memenuhi unsur dan adanya bukti dan saksi? Wajar aja,'' kata Teuku Syahrul Ansari, advokat dan pengamat hukum menanggapi kasus Sukmawati yang ramai didemo ribuan ummat Islam yang mempersoalkan puisinya sebagai perbuatan melanggar ajaran Islam, spiritualitas dan hukum..

''Tapi dalam hal politik, walau sudah cukup unsur dengan bukti, tapi pelapor yang diperiksa berulang2, karena polisi belum berani periksa terlapor atau pelapor mau dikerjain? Maka sejuta praduga bisa terjadi, karena ini bukan soal teknis hukum melainkan politik,'' ujarnya berefleksi.

Teuku Syahrul Ansari menuturkan tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan  teknis hukum. ''Soal etika, budaya, ekonomi dsb, punya mekanisme penyelesaian dalam dirinya, jika bidang  terseb\ut menjadi sistem. Seharusnya, masalah politik bisa diselesaikan lewat mekanisme politik. Karena hukum (pidana) itu adalah ultimum remedium, obat terakhir. Itu artinya juga, jgn terlalu memanfaatkan hukum utk kepentingan politik. Atau penguasa maupun oposisi, memanfaatkan penegak hukum dan mekanisme penegakkannya semata2 jadi alat pemukul lawannya.  Orang mungkin lalu lemlihat hukum dimanfaatkan utk membuat orang susah, dan misbruik van process recht adalah kejahatan yg serius. Mari budayakan musyawarah, sebagai nilai luhur,'' kata Ansari (Alon), mantan Ketua Badko HMI Jateng..

''Ada pendapat bahwa kalau Sukmawati  bisa dimaafkan, secara seiring HRS (Habi Rizieq)  harus dibebaskan,''imbuhnya.

Teuku syahrul Ansari mengakui, berbagai kalangan melihat penguasa yg memanfaatkan hukum dan kewenangannya utk menggebuk HRS. Itu dilihat dari kacamata sosiologi hukum. ''Soal Sukmawati, ada yang menilai hal  itu karena kebodohannya, dan kebodohan ini jadi amunisi hukum dan politik untuk menerjangnya,'' imbuh Alon Ansari, alumnus pasca sarjana FH UI

(ff)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...