21 September 2019

Bantai Etnis Rohingnya, Anggota Militer Myanmar Dilarang Masuk AS

KONFRONTASI -  Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepada Panglima Tertinggi Myanmar, Min Aung Hlaing dan pimpinan militer lainnya pada Rabu, 17 Juli 2019, atas pembunuhan terhadap muslim Rohingya di Rakhine. Para anggota militer itu pun dilarang memasuki wilayah Amerika Serikat sampai batas yang tak ditentukan. 

Dilansir laman Channel News Asia (CNN) yang bersumber dari Reuters, langkah AS ini merupakan respons terkeras yang diambil AS untuk menghukum para pejabat militer Myanmar yang dinili terlibat dalam pembantaian Rohingya pada tahun 2017 lalu.

“Kami terus khawatir bila pemerintah Myanmar tidak mengambil tindakan tegas atas pelanggaran HAM yang dilakukan militernya. Padahal, laporan soal pelanggaran HAM oleh militer Myanmar terus berdatangan, ujar Menlu AS Mike Pompeo seperti dikutip CNA.
 
"Panglima tinggi Myanmar membebaskan para kriminal ini setelah hanya satu bulan dipenjara, sedangkan reporter yang melaporkan peristiwa pembunuhan di Inn Din ke dunia luar dipenjara lebih dari 500 hari,”  ujar Pompeo menambahkan.

Pompeo mengungkapkan bahwa aksi Min Aung Hlaing, yang baru-baru ini memerintahkan pembebasan tentara yang dihukum akibat pembunuhan di desa Inn Din selama pembersihan etnis Rohingya pada tahun 2017, adalah “salah satu contoh buruk dari kurangnya pertanggungjawaban militer dan kepemimpinan seniornya yang berkelanjutan.”

Pembantaian di desa Inn Din dibongkar oleh dua reporter dari Reuters, Wa Lone dan Kyaw soe Oo, yang ditahan selama 16 bulan dengan tuduhan membongkar rahasia negara. Keduanya dibebaskan pada 16 Mei lalu setelah banyak negara Barat dan aktivis HAM mengecam  tindakan kriminalisasi terhadap wartawan itu.

Pengumuman soal sanksi AS terhadap sejumlah pejabat militer Myanmar ini, dilontarkan pada hari pertama konferensi menteri internasional yang membahas kebebasan beragama,l yang dipandu oleh Pompeo di Departemen Luar Negeri dan dihadiri oleh perwakilan dari Rohingya.

Penumpasan militer pada tahun 2017 di Myanmar menyebabkan lebih dari 730.000 masyarakat Muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh. Penyelidikan PBB mengungkapkan bahwa pembunuhan masal, pemerkosaan, pembakaran dan genosida, merupakan bagian dari operasi militer Myanmar.(Jft/PR)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...