21 September 2019

Awas, 'Balas Dendam' Saat Buka Puasa Bisa Picu Obesitas

KONFRONTASI-Ibadah puasa mengajarkan umat muslim untuk merasakan lapar dan haus, serta mengendalikan hawa nafsu, termasuk dalam hal mengonsumsi makanan. Hal ini membuat tidak sedikit orang yang meniatkan puasa tidak hanya sebagai ibadah tetapi juga menjadi ajang diet alias menurunkan berat badan.

Faktanya, justru tidak sedikit orang yang mengalami kenaikan berat badan setelah bulan Ramadan. Mengapa demikian?

Menurut Dokter Spesialis Bedah Rumah Sakit Siloam, Errawan R. Wiradisuria, masalah obesitas tidak hanya karena masalah genetis tetapi juga karena gaya hidup. Meskipun berpuasa, tetapi tidak menjalankan pola makan dengan benar, bukan tidak mungkin di akhir bulan puasa malah akan terserang obesitas.

Dia memberi contoh, banyak orang yang makan makanan berat justru ketika sudah larut malam, bukan pada saat berbuka. Apalagi, setelah makan kemudian dilanjutkan dengan tidur. “Banyak juga yang berpuasa tetapi lebih banyak tidur dan bersantai. Hal ini membuat kalori dalam tubuh tidak terbakar dengan baik,” katanya.

Guna menghindari obesitas setelah berpuasa, Errawan menyarankan untuk tetap menjalankan aktivitas seperti biasa. Dia menambahkan sebenarnya pola makan saat berpuasa sangat baik bagi tubuh. Namun, banyak orang yang justru ‘balas dendam’ ketika berbuka.

Padahal, pada malam hari cenderung tidak ada aktivitas yang bisa membakar kalori. Menurut Errawan, hingga kini obesitas menjadi salah satu masalah utama yang dihadapi masyarakat di Indonesia.

Data riset kesehatan dasar menyebutkan pada 2012, penderita obesitas pada pria naik enam kali lipat dibandingkan dengan 10 tahun sebelumnya.

Adapun di kalangan perempuan, kenaikan angka obesitas bisa mencapai 3,5 kali lipat. Di sisi lain, obesitas merupakan masalah kesehatan yang bisa menyebabkan berbagai penyakit kritis seperti hipertensi, diabetes, atau serangan jantung.

Untuk mengatasi masalah obesitas, salah satunya bisa dilakukan dengan pembedahan. Operasi yang disebut sleeve gastrectomy ini pada intinya dilakukan dengan memotong kapasitas lambung sehingga menyusut hingga tersisa 25% saja.

Dengan lambung yang lebih kecil, seseorang akan membutuhkan makanan yang lebih sedikit sehingga mengurangi obesitas. Kendati demikian, pelaksanaan operasi tersebut tidak bisa sembarangan. Er rawan menuturkan, untuk melakukan operasi, pasien setidaknya memiliki body mass index (BMI) 30 dan memiliki penyakit yang menyertainya.

Namun, jika penderita obesitas tidak mengalami keluhan apapun, dokter menyarankan untuk menunggu BMI berada di angka 35.

POLA MAKAN

Setelah dilakukan pembedahan yang mengecilkan ukuran lambung, pasien harus mengubah pola makannya. Errawan menuturkan pada awalnya pasien akan mengalami mual dan lemas. Namun, kondisi tersebut akan menghilang seiring dengan berjalannya waktu. Setelah operasi dilakukan, pasien hanya boleh mengonsumsi makanan cair atau yang sudah dihaluskan selama 4 minggu. Setelah itu baru diperbolehkan mengonsumsi makanan semi padat seperti sereal.

Konsumsi makanan padat seperti biasa baru bisa dilakukan setelah 3 bulan. Pembedahan, jelas Errawan, memang terbukti bisa menurunkan berat bedan secara drastis. Namun, juga ada risiko lain yang muncul seperti kulit akan menggelambir karena terjadi penyusutan berat badan secara drastis, tetapi bisa diatasi dengan bedah plastik.

Di sisi lain, kendati memiliki risiko, Errawan menuturkan pembedahan penting dilakukan untuk mencegah kemunculan penyakit berbahaya pada penderita obesitas. Melalui operasi tersebut, Errawan menjelaskan sekitar 50%-80% berat badan akan turun dalam waktu 12 bulan. Selain itu, risiko mengidap diabetes juga merosot 72%, kolesterol jahat anjlok 79%, penurunan tekanan darah hingga 69%, dan gangguan tidur yang turun hingga 74%.[mr/bns]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...