Atas Nama Tuhan, Pendeta Cabuli Gadis Dibawah Umur Sampai Hamil

Konfrontasi - Kasus pencabulan yang dialami CV (15 tahun) oleh pendeta membuat keluarga merasa geram. Kakak sepupu korban, Henfri (38 tahun) menuturkan, keluarga sangat marah dan kaget dengan kejadian ini, apalagi keluarga mereka sudah bertahun-tahun beribadah di gereja yang berlokasi di Jalan Ampera, Kelurahan Duren Jaya, Bekasi Timur itu.

''Kami sudah lama beribadah di sana. Makanya, pas adik saya ngaku, keluarga kaget dan marah sekali. Saya gondok banget sama tuh orang (tersangka)," kata Henfri (38 tahun) saat ditemui di rumahnya, Desa Setia Mekar, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Jumat (18/9).

Henfri menuturkan, saat CV hilang pada tahun 2013 lalu, anak itu masih mengenakan seragam sekolah. Saat itu, CV yang masih berusia 12 tahun berangkat sekolah seperti biasanya namun tidak pulang hingga keesokan harinya. 

Keluarga yang panik sempat melaporkan ke polisi, namun tidak berapa lama ada pesan singkat SMS dari CV yang mengabarkan bahwa ia baik-baik saja dan hanya ingin menenangkan diri. Pelaku berinisial DM (57 tahun) yang sudah dipercaya oleh keluarga terus menenangkan keluarga dan mengatakan bahwa CV pasti baik-baik saja seperti isi pesan singkat anak itu. 

Tak ada yang menduga kalau kepercayaan mereka dikhianati sedemikian bejatnya oleh pelaku. "Kita ditenangin terus, dia pasti baik-baik aja. Ya kita percaya aja kan sudah bertahun-tahun beribadah sama dia," kata Henfri.

Setelah CV menghilang selama lima bulan, anak itu kembali pulang ke rumahnya di Bekasi Timur dalam kondisi yang baik-baik saja. Mereka memang sempat curiga jika tubuh anak itu terlihat lebih berisi, tapi kecurigaan mereka menghilang begitu saja karena CV pun tidak dalam keadaan yang mengkhawatirkan.

Setelah itu, lanjut Henfri, adik sepupunya itu masih juga mengikuti kegiatan keagamaan di gereja yang terletak di Jalan Ampera, Duren Jaya, Bekasi Timur tersebut. Keluarga pun tidak merasakan ada keanehan dari perilaku pelaku atau CV karena anak itu sudah mengikuti sekolah minggu sejak usia 9 tahun.

Berita mengejutkan itu kemudian diakui CV ke keluarga pada Juli lalu. Dengan ketakutan dan menangis, anak itu bercerita kepada seluruh keluarganya yang saat itu sedang berkumpul di rumahnya. 

Berdasarkan cerita CV, kata Henfri, anak itu mulai digoda oleh pendeta cabul DM saat mulai memasuki kelas 1 SMP. Saat itu, atas nama Tuhan, pendeta cabul itu mengatakan ia harus meniduri CV. CV yang memang polos percaya saja dengan modus itu. 

Berkali-kali anak itu digauli hingga hamil. Kemudian saat kabur, lanjut Henfri, anak itu sudah hamil 4 bulan. Keluarga tidak curiga dengan bentuk badannya yang semakin gemuk karena CV dalam masa pertumbuhan.

Henfri menuturkan, saat awal kabur, adik sepupunya itu diongkosi untuk tinggal di hotel di Ungaran, Bali. Anak itu diberi kartu ATM dan dikirimi uang setiap bulan. Beberapa kali CV meng-SMS ibunya dan mengatakan baik-baik saja, dan jika ia tinggal di rumah orang kaya. 

Tapi setiap akan ditelepon, nomor tersebut selalu tidak aktif. "Ngomongnya sih tinggal sama orang kaya, enak. Pas kita telepon nomornya nggak aktif terus," imbuh Henfri.

Ketika melahirkan, anak itu dipindahkan ke Malang, ke yayasan penampungan anak yang bermasalah. Saat di sana, pendeta tersebut datang dan mengaku sebagai ayah CV meminta anak itu diurus dengan baik di sana.

Ketika CV melahirkan bayi laki-laki pada 19 Desember 2013, bayi itu pun segera diadopsi oleh pihak di sana. Selang seminggu, CV pulang dalam keadaan baik-baik saja sehingga keluarga tidak curiga. 

Menurut pengakuan CV, pendeta tersebut berjanji menikahinya setelah ia lulus SMA. Sejak 2013, CV terus diperkosa pendeta GM hingga dia sudah tidak mampu lagi menahannya. Bahkan sering menjemput CV sepulang sekolah untuk dibawa ke hotel. 

Setelah mendengar cerita CV, keluarga pun melaporkan perbuatan pendeta cabul itu ke Polda Metro Jaya pada awal Agustus lalu. "Kita laporin ke Polda. Udah dikasih bukti-buktinya, udah dipanggil saksinya. Tapi sampai sekarang belum ada perkembangan juga. Orangnya udah kabur sekarang," ucap Henfri geram.

Henfri dan keluarga berharap bahwa pelaku segera ditangkap dan diadili. Ia pun meminta tolong pihak KPAD Bekasi agar mencarikan anak yang dilahirkan adiknya itu.

"Dia pernah bilang, kangen banget pengen ketemu. Tapi bayi itu tetap diadopsi atau nggak, kami belum tahu. Kita kan juga mikirin masa depannya gimana," ujar Henfri. (rol/mg)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...