23 February 2020

Apakah Ganggang Makanan Masa Depan?

KONFRONTASI -   JIKA  nanti orang bertanya dari mana anda mendapatkan protein, jawabannya bisa jadi si hijau.

Sementara vegan dan vegetarian menghindari ikan dan kerang, ada jenis makanan laut lain yang perlu kita bicarakan. Itu pun bisa menjadi solusi bagi banyak masalah, termasuk kelangkaan pangan.

Ganggang, si hijau yang berlendir dan mungkin membuat anda ngeri ketika melihatnya di air, sedang diamati oleh para ahli gizi dan pengusaha makanan. Mereka menilainya sebagai anugerah potensial yang kurang lebihnya, belum dimanfaatkan akhir- akhir ini.

Dilansir The Guardian baru-baru ini, para pemburu makanan sehat tentu saja sudah tidak asing lagi dengan ganggang. Jika anda pernah ke toko smoothie akhir-akhir ini, anda mungkin melihat ganggang spirulina pada menunya. Unicorn latte dan semangkuk smooties yang yang pernah anda lihat juga terbuat dari E3 majik biru, jenis ganggang lain.

Seperti yang sudah diketahui oleh para penggemar smoothie, ganggang-ganggang ini memiliki efek yang mengesankan pada kesehatan.

Mereka dikemas dengan berbagai vitamin dan antioksidan, serta lebih banyak protein daripada kebanyakan sayuran. Ganggang ini juga bisa menjadi cara untuk mendapatkan asam lemak omega 3 yang tepat bagi vegan dan vegetarian.

Ketika kacang dan biji-bijian bisa menjadi sumber omega-3, mereka hanya mengandung satu dari tiga jenis utama yang diketahui sebagai alpha-linolenic acid atau ALA. Dua lainnya, eicosapentaenoic acid (EPA) dan docosahexaenoic acid (DHA) sangat berkaitan dengan semua manfaat kesehatan yang pernah anda dengar terkait omega-3 dari kesehatan mental, hingga peradangan. 

Tubuh manusia bisa mengubah ALA menjadi EPA dan DHA, tetapi tidak secara efektif. Ganggang mikro adalah satu-satunya tanaman yang dikenal sebagai sumber DHA dan bisa meningkatkan level EPA dalam tubuh.

Alasan mengapa ikan cenderung unggul sebagai sumber dari dua omega ini adalah karena mereka hidup dari ganggang mikro sendiri. Jadi, jawaban terkait minyak ikan secara sederhana adalah memakan apa yang dimakan ikan.

Akan tetapi, potensi penggunaan ganggang jauh lebih luas dari hanya sebagai suplemen untuk diet vegan. Ada beberapa sifat yang membuat ganggang unik diantara sumber-sumber makanan lain.

Ganggang bisa tumbuh sangat cepat, bahkan di lingkungan paling tidak ramah sekalipun. Mereka bahkan tidak memerlukan air yang bagus. Pada dasarnya, mereka merupakan tanaman dengan kebutuhan yang sedikit. Semua ini dikombinasikan dengan kepadatan nutrisi yang luar biasa.

Beberapa perusahaan rintisan telah memilih ganggang untuk produknya dengan penuh semangat. Kekayaan yang dimiliki ganggang, digabungkan dengan kebutuhan sumber dayanya yang sedikit membuat mejadi solusi untuk nutrisi yang menjanjikan. 

Triton Algae Innovations dan iWi adalah dua perusahaan yang mengeksplor berbagai kemungkinan dari ganggang. Triton menumbuhkan ganggang mereka di dalam lab dan iWi menanamnya di gurun Texas dan New Mexico.

Menurut laman iWi, ganggang mereka memproduksi lebih banyak “asam amino esensial dan nutrisi penting per hektar daripada pertanian nabati atau hewani lainnya”, dan semua dilakukan tanpa mengganggu ekosistem laut.

Kedua perusahaan memiliki ketertarikan dalam nutrisi berkelanjutan dan mengenali ganggang bisa menjadi cara yang sangat efektif untuk memberi makan dunia.

Akan tetapi, apa yang mereka pikirkan bukan hanya suplemen dan jus hijau yang pahit. Terdapat ratusan ribu ganggang dan hanya beberapa yang memiliki bau dan rasa seperti makanan hijau yang tidak enak yang mungkin anda bayangkan.

Peruahaan iWi sudah menjual suplemen mereka. Namun, seperti yang dikatakan oleh CEO nya, Miguel Catalayud pada CNN Business, ganggang yang ditanamnya “hampir tidak terlihat” dan secara teori bisa digunakan dalam berbagai macam makanan tanpa merubah rasa dan aromanya.

Triton juga bereksperimen dengan penggunaan serbaguna pada ganggang. Salah usahanya adalah heme (salah satu komponen protein) yang berasal dari ganggang yang membuat Impossible Burger (burger tanpa kandungan daging produksi Impossible Foods) “berdarah”.

Menurut Forbes, heme ini tidak memerlukan rekayasa genetika yang artinya, mereka bisa dilabeli sebagai bebas Genetically Modified Organism (GMO). Dalam artike tersebut, CEO dari Triton, Xun Wang menegaskan bahwa perusahaan ganggang bisa digunakan bukan hanya sebagai untuk pengganti makanan secara teknis, tetapi juga sebagai bahan untuk membuat berbagai makanan seperti pasta dan burger vegetarian.

Beberapa ganggang juga ada yang siap dimasak langsung. Rumput laut yang bisa dimakan bukanlah sesuatu yang baru (seperti yang diketahui para pecinta sushi), tetapi para ilmuwan makanan telah mulai melihat pada penggunaan tradisionalnya di masa lampau.

Anda mungkin mengingat beberapa laporan beberapa tahun lalu terkait ilmuwan di Oregon State University yang membiakkan ganggang merah jenis baru yang memiliki nutrisi yang tingi. Ganggang tersebut juga memiliki citarasa seperti bacon. Sesuatu seperti ini menjadi layak secara komersial dan akan menjadi kemenangan besar bagi para pecinta kuliner, pecinta lingkungan, dan kesehatan.

Sangat menarik bahwa perusahaan rintisan dengan teknologi pangan berpikir serius tentang tidak hanya bagaimana mengatasi kelaparan global secara berkelanjutan, tetapi juga bagaimana solusi mereka dapat diintegrasikan kedalam kehidupan nyata. 
Dari semangkuk smoothie berwarna hijau terang dan kuning hingga pasta yang padat nutrisi, ganggang mungkin merupakan terobosan baru berikutnya untuk nutrisi yang inovatif dan berkelanjutan.(Jft/PR)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...