31 March 2020

Utang Grup MNC Tembus Rp 79 Triliun, Ini Bank yang Jadi Kreditur Terbesarnya

KONFRONTASI - Utang tujuh perusahaan di bawah Grup MNC yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia melonjak menjadi sekitar Rp 79 triliun pada periode Maret 2017. Lantas Bank mana saja yang paling banyak memberikan pinjaman kepada perusahaan milik konglomerat Hary Taoesoedibjo ini?

Hasil analisis Bareksa terhadap laporan keuangan perusahaan per kuartal I 2017 menunjukkan sejumlah pinjaman sindikasi dari bank asing memiliki jumlah paling besar. Sementara Bank lokal yang paling banyak memberikan pinjaman kepada perusahaan MNC Grup adalah bank milik pemerintah, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).

Kucuran utang sindikasi paling besar dimiliki oleh PT Global Mediacom Tbk (BMTR) sebesar Rp 5,4 triliun dan PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) Rp 3,3 triliun yang juga diakui sebagai utang milik induk usahanya yaitu PT MNC Investama Tbk (BHIT).

Adapun tiga kreditur yang paling besar memberikan pinjamannya adalah Ing Bank N, cabang Singapura sebesar US$ 30 juta atau setara Rp 390 miliar (dengan asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sebesar Rp 13 ribu).

Sementara bank terbesar kedua adalah Siemens Financial Services Inc yang memberikan pinjaman sebesar US$ 22,5 juta atau senilai Rp 292 miliar.

Adapun Standard Chartered meminjamkan sebesar US$ 20 juta atau senilai Rp 260 miliar.

Utang sindikasi tersebut memiliki bunga per tahun sebesar 3,5 persen ditambah LIBOR 3 bulan yang dibayar setiap tiga bulan. Pembayaran pokok pinjaman akan jatuh tempo 36 bulan setelah tanggal penggunaan pertama.

Pinjaman tersebut dijamin dengan hak tanggungan atas tanah dan bangunan yang dimiliki oleh RCTI, jaminan fidusia atas piutang usaha dan klaim asuransi milik RCTI, jaminan fidusia atas benda bergerak milik RCTI, gadai atas saham RCTI yang dimiliki oleh MNC dan jaminan atas rekening Interest Reserve Account serta jaminan perusahaan dari RCTI.

Sementara itu utang sindikasi PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY) mencapai Rp 2,2 triliun, dengan rincian kreditur terbesar adalah Standard Chartered Bank, cabang London sebesar US$ 45 juta atau setara Rp 585 miliar, Deutsche Bank Singapura sebesar US$ 30 juta atau setara Rp 390 miliar dan Ing Bank Singapore sebesar US$ 25 juta atau setara Rp 325 miliar.

Tabel: Utang Bank Jangka Panjang MNC Grup

 

 
 

 

Selain pinjaman sindikasi dari bank asing, MNC Grup juga mengantongi pinjaman dari sejumlah bank lokal, dengan porsi BBRI sebagai kreditur tersebesar, dengan total pinjaman sebesar Rp 1,65 triliun hingga Maret 2017.

Kucuran utang dari BBRI ke Grup MNC terbagi ke lima perusahaan, yakni MNCN, PT MNC Land Tbk (KPIG), BMTR, BHIT, dan PT MNC Kapital Indonesia Tbk (BCAP)

Menurut laporan keuangan kuartal I 2107, MNCN masih memiliki utang jangka panjang dari BBRI sebesar Rp 268 miliar. Utang tersebut muncul sejak 20 Desember 2013. MNCN memperoleh fasilitas Kredit Investasi (KI) dari BBRI dengan jumlah maksimum sebesar Rp 337 miliar yang terdiri dari kredit investasi pokok sebesar Rp 315 miliar dan kredit investasi IDC sebesar Rp 22 miliar dengan tingkat bunga 10 persen per tahun dan jangka waktu utang sampai dengan Desember 2023. Pembayaran pokok pinjaman setiap 3 bulan dan telah diubah dimulai pada Maret 2016.

Fasilitas kredit ini dijamin dengan hak guna bangunan No. 601 dan No. 867 seluas 5.837 meter persegi, yang berlokasi di Kelurahan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Adapun pinjaman BBRI terhadap KPIG hingga Maret 2017 masih tercatat sebesar Rp 576 miliar. Perusahaan mendapatkan fasilitas pinjaman kredit investasi dengan maksimum pinjaman Rp 1,15 triliun. Periode pinjaman adalah 108 bulan, dimulai dari 18 Desember 2014 hingga 17 Desember 2023.

Pinjaman tersebut dijamin dengan sebidang tanah seluas 7.332 meter persegi dan bangunan di atasnya yang terletak di Kelurahan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Sementara PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP) memiliki total utang sebesar Rp 10 triliun, namun dari tidak dijelaskan dalam laporan keuangan baik jangka waktu ataupun jenis bank yang menjadi pihak kreditur.

Untuk diketahui utang tujuh perusahaan di bawah Grup MNC yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia melonjak menjadi sekitar Rp 79 triliun pada periode Maret 2017. Berdasarkan hasil riset Bareksa, sebanyak 44 persen dari total utang ini adalah utang jangka pendek yang sifatnya akan jatuh tempo dalam waktu kurang dari setahun yang mencapai Rp 34,7 triliun. Total utang jangka pendek ini naik 80 persen jika dibandingkan akhir 2014. (selengkapnya baca di sini)

Grup MNC saat ini tengah didera berbagai macam isu negatif. Mulai isu pemutusan hubungan kerja massal kepada karyawan di anak perusahaan, status Hary Tanoe sebagai tersangka hingga sengketa kepemilikan MNCTV.***

(Bareksa.com)
Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...