2 April 2020

Utang BUMN, Pemerintah dan Swasta tembus Rp10.000 triliun, Jokowinomics Borak, Krisis Ekonomi siap Meledak, ungkap Analis

KONFRONTASI- Ketergantungan yang keterlaluan terhadap utang membuat jumlahnya kian menggunung. Angka utang BUMN dan negara dan swasta kini telah tembus Rp10.000 triliun, Jokowinomics porak, borak dan krisis ekonomi siap meledak . Demikian peringatan dari Edy Mulyadi, analis ekonomi dan jurnalis senior.

Para ekonomi sudah ingatkan: Neoliberalisme Jokowi dibangun dengan ekonomi gelembung, yang dibangun dengan gelembung-gelembung persepsi, pencitraan, ditopang buzer-buzer, doping, dan artifisial. Angka pertumbuhan yang menurun di bawah 5% dengan ekonomi bubble itu sudah bermasalah: skandal mega korupsi Jiwasraya, Asabri, Garuda, Bumiputera, dan sederet utang raksasa BUMN yang bakal meledak sebagai krisis ekonomi. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal IV-2019 hanya 4,97%. Penguasa juga terus membebani rakyat dengan aneka pajak. Pencabutan subsidi dan belanja sosial di APBN mengakibatkan harga-harga pangan, energi dan kebutuhan lain melambung tinggi.

''Pada 1998 Indonesia diterjang krisis karena masalah kredit properti yang ugal-ugalan dan berujung dengan tumbangnya perbankan nasional. Kali ini, kontributor utama krisis adalah amburadulnya kinerja lembaga keuangan nonbank (LKNB) seperti asuransi, leasing, dan perusahaan-perusahaan fintech/digital macam unicorn. Hal ini diperparah lagi dengan pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang buruk, jeblok. ''demikian Edy 

Skandal megakorupsi Jiwasraya yang merugikan negara Rp13 triliun dan Asabri Rp10 triliun, cuma puncak gunung es belaka. Masih banyak skandal lain di lingkungan BUMN yang jumlahnya ditaksir sekitar Rp150 triliun. Gelembung ekonomi Jokowi yang sering dibanggakan pemerintah adalah stabilnya nilai tukar rupiah. Padahal, penguatan rupiah terjadi karena doping yang dananya berasal dari utang. Bank Indonesia (BI) rajin mengintervensi pasar agar rupiah tetap bergerak di bawah Rp14.000/USD.

Padahal salah satu biang kerok terjadinya defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) adalah neraca perdagangan yang njomplang, timpang, defisit terus. Nilai tukar rupiah yang kuat akan menyulitkan ekspor, karena harga komoditas di pasar internasional jadi mahal.

Begawan ekonomi Rizal Ramli menyebut, tidak diperlukan kampak atau golok untuk meledakkan gelembung.  Hanya dibutuhkan peniti yakni peniti-peniti kebenaran dan fakta real, maka gelembung-gelembung ekonomi bodong itu meledak.

(tg/berbagai sumber/Edy Mulyadi,jurnalis senior)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...