Terjadi Perebutan Lahan Sungai Ngobo, Bak Adu Kesaktian, Keserakahan dan Kekuasaan

KONFRONTASI -   Mengutip kisah Dewi Kilisuci dilamar dua orang raja dikenal akan kesaktiannya, Lembu Suro dan Mahesa Suro. Saat keinginannya akan terwujud, keduanya justru terjebak dalam sumur atas tipu daya dilakukan, putri Jenggolo Manik yang terkenal akan kecantikannya.

Apakah hal ini akan terjadi di Aliran Sungai Ngobo, saat sejumlah pihak ingin menguasai dengan segala cara kemudian tidak mendapatkan hasil yang diharapkan.

Keberadaan Sungai Ngobo berada di Lokasi PTPN XII Ngrangkah Sepawon Kecamatan Plosoklaten, memiliki kandungan batu dan pasir berasal dari Gunung Kelud yang berjumlah tak terhingga. Keberadaannya mampu menghidupi ribuan warga yang tinggal di kawasan lereng gunung berapi ini.

Namun fakta di lapangan, sejumlah permasalahan seolah tidak henti, bahkan sejumlah pihak terkesan menutup diri bila permasalahan muncul.

Seperti terjadi pada Sabtu siang, seiring pergantian Manager PTPN XII, dari Ir. Yudi Kristanto kepada pejabat baru Ir. Roi Roki Situmorang, satu unit alat berat didatangkan oleh CV Mansurin Barokah mengklaim telah mengantongi izin IUP-OP dan Kementrian Kehutanan.

Acara tasykuran pun digelar pada 10 Oktober lalu, tak tanggung – tanggung dihadiri Kusnadi, Wakil Ketua DPR Propinsi Jawa Timur menyatakan dihadapan sejumlah media merupakan bagian CV Mansurin Barokah. Juga terlihat hadir, Ketua DPRD Kabupaten Kediri, H. Sulkani serta sejumlah pejabat dari unsur TNI dan Polri.

“Saya berbahagia sekali, saya yang menjadi bagian dari CV Mansurin Barokah dan CV Dapur Ngebul tidak ingin berjalan sembrono. Artinya semua perizinan harus terpenuhi dahulu. Karena jalur transportasi harus melewati Perhutani maka kita harus meminta izin terlebih dahulu. Tasyakuran ini merupakan wujud syukur karena izinnya semua sudab keluar,” kata Kusnadi, usai acara makan tumpeng bersama di jalur masuk lokasi penambangan.

Namun kenyataannya, para penambang manual ini dilarang mencari pasir atau bila tetap ingin bekerja menyetorkan 7 rit pasir dengan dihargai Rp 146ribu.

“Kita mau dikadali, bukan lagi dianggap manusia yang butuh makan dan menghidupi keluarga. Kita suruh kirim 6 rit dan dihargai 146 ribu. Itupun mengambil dari lokasi dan mengirim sampai ke lokasi penampungan milik mereka,” jelas Slamet Gendut, tokoh penambang pasir manual, saat dikonfirmasi di Kawasan Aliran Sungai Ngobo.

Mbah Met, sapaan akrabnya justru menyayangkan ulah sejumlah kelompok mengaku telah mengantongi izin dan didukung LMDH, kemudian Pagar Nusa serta atas kesepakatan dengan warga, menyampaikan berita bohong ke media.

“Masyarakat sekarang tidak bodoh, mari kita buktikan saat rapat akbar nanti. Kami harapkan semua hadir dan duduk bersama, biar bisa membuka mata dan telinga bagimana nasib kami,” terangnya.

Sesuai agenda, pada Selasa tanggal 27 Nopember 2018 pukul 08.00 akan digelar pertemuan mengundang semua pihak, baik pemerintah daera, Polri, TNI, Perhutani, PTPN XII serta semua penambang pasir untuk duduk bersama.

“Pernyataan ini saya anggap sebagai undangan, jangan terus tidak datang beralasan tidak dapat atau belum terima undangan,” tegasnya. (Jft/Duta)

 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...