19 August 2019

Survei- Survei yang Menangkan Jokowi jelas Propaganda dan Tidak Bisa Dipercaya

KONFRONTASI- Survei-survei 9 lembaga survei atau lebih yang selalu unggulkan Jokowi  jelas survei bayaran dan tidak lebih dari propaganda untuk menangkan Jokowi pada Pilpres 2019.  Sebab PRabowo sudah mengalahkan dan menyalip elektabilitas Jokowi. Survei pro-Jokowi itu jelas tidak bisa dipercaya dan tak kredibel karena tidak jurdil, tak transparan dan hanya melegitimasi secara kasar agar Jokowi dua periode meski periode pertama Jokowi gagal,kobrut dan tidak kompeten sama sekali. Survei itu secara moral-etis  bodong karena bau sangit propaganda dan pencitraan konyol, padahal Jokowi gagal ekonomi dan ratusan industri bangkrut atau mati sementara pengangguran meluas, daya beli rakyat ambruk dan ekonomi terpuruk. ''Bahasa inggris Jokowi sangat  buruk dan kosa katanya asal ngomong, mencla-mencle, mana bisa Jokowi mikir memecahkan masalah bangsa yang sangat kompleks, mana gagasannya? Janganlah membohongi rakyat dan membodohi rakyat, bakal hancur Indonesia,'' kata Muslim Arbi, mantan HMI ITB. 

Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Ferdinand Hutahaean menyebut setiap survei yang menyebut pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin unggul 20 persen harus dipertanggungjawabkan dan harus dipertanyakan karena itu tidak bisa dipercaya, mengandung dusta dan sekedar propaganda dengan efek penggiringan..

Ferdinand bahkan menantang pihak TKN dan lembaga survei terkait membuka data seluas-luasnya dari mentahan survei yang dilakukan lawan politiknya itu.

"Survei yang memberikan Jokowi unggul 20 persen itu kami tantang buka mentahan row datanya, buat lembaga juga buka siapa yang biayai survei mereka," kata Ferdinand saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Kamis (14/2).


Ferdinand juga menanggapi ucapan Wakil Ketua TKN Johnny G Plate yang menyebut Prabowo-Sandi hanya bermimpi bisa unggul 63 persen dari Jokowi-Maruf.

Kata Ferdinand, dirinya hanya bisa mentertawakan ucapan Jhony yang bahkan menyebut hasil survei internal dari BPN tidak bisa dipertanggungjawabkan secara akademik.

"Saya harus tertawa dan mentertawakan Jhony Plate. Mengapa? Justru survei mereka yang harusnya dipertanyakan," kata dia. "Kami justru menduga bahwa lembaga survei yang masih memberikan Jokowi unggul 20 persen kebanyakan survei di kantor pendukung Jokowi barangkali."

Dia bahkan mengatakan Prabowo lebih unggul daripada Jokowi karena antusiasme masyarakat di setiap kunjungan capres dan cawapresnya ke daerah-daerah.

"Fakta bahwa di setiap kunjungan Prabowo-Sandi selalu jauh lebih meriah berkali lipat bahkan lebih dari tiga kali lipat jumlah massa dibandingkan dengan acara Jokowi-Ma'ruf. Ini fakta nyata yang tidak bisa dibantah. Dan fakta nyata ini sudah sesuai dengan survei internal BPN," kata Ferdinand.

Menurut dia, pihak TKN setiap kali menyebut Jokowi-Ma'ruf unggul hanya sedang menghibur diri atas kentaranya kekalahan yang akan diterima Jokowi-Maruf di April mendatang.

Sebab, kata dia, hal ini terlihat jelas dari sikap Jokowi dan Ma'ruf yang tampak panik dan cenderung banyak menyerang karena rendahnya elektabilitas pasangan ini.

"Mereka hanya sedang menghibur diri, justru dari seluruh gerak gerik Jokowi-Ma'ruf terlihat jelas bahwa mereka sedang panik dan tidak nyaman dengan elektabilitas yang ada sehingga lebih banyak menyerang," katanya.

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis hasil survei terbaru capres-cawapres 2019 usai debat perdana dilaksanakan pada 17 Januari 2019. Hasilnya, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf sebesar 54,8 persen, sementara elektabilitas Prabowo-Sandi sebesar 31,0 persen.

Sebelumnya Lembaga survei Y Publica merilis hasil survei yang digelar 8 Desember 2018 hingga 8 Januari 2019. Survei menunjukkan elektabilitas pasangan Jokowi-Ma'ruf masih unggul dari pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019.

Saat itu, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf sebesar 53,5 persen dan Prabowo-Sandiaga sebesar 31,9 persen. [cnn]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...