24 September 2018

Sorban Ngabalin, Ikhtiar Istana Yang Gagal

KONFRONTASI -  Presiden Joko Widodo tampaknya ‘jatuh hati’ betul dengan Dr Ali Mochtar Ngabalin. Setelah sempat gagal jadi Menteri Agama (Menag) menggantikan Lukman Hakim Saifuddin, Ali Mochtar Ngabalin akhirnya menjadi staf ahli khusus di kantor staf presiden yang dipimpin Moeldoko. Salah satu tugasnya adalah membangun komunikasi antara Pemerintah dengan masyarakat umumnya.

“Alhamdulillah, saya diberi kepercayaan untuk membantu Pemerintah,” kata Ali Mochtar Ngabalin, kepada INDOPOS, Rabu (23/5).

Ia menjelaskan, bersama staf khusus lainnya, diterima Presiden Jokowi di Istana pada Selasa (22/5). Ini pertemuan pertama dengan Presiden, sekaligus dimulainya aktivitas keenam staf khusus tersebut. “Saya mendapat tugas untuk membangun komunikasi dengan masyarakat, meluruskan yang selama ini kurang lurus,” kata Ngabalin, yang juga ketua umum Pengurus Pusat  Badan Koordinasi Mubaligh se-Indonesia (Bakomubin) itu.

Ngabalin, putera kelahiran Fakfak, Papua Barat ini menyampaikan terima kasih kepada Presiden Jokowi, yang mempercayakan tugas ini kepadanya. "Saya menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya atas kepercayaan Bapak Presiden kepada kami, khususnya saya sebagai pejabat di lingkungan Istana Negara, dan saya siap pertaruhkan semua potensi untuk kepentingan umat, bangsa, dan negara," kata Ngabalin.

Dalam bertugas di istana, Politisi Partai Golkar yang juga mubaligh ini, berada di bidang komunikasi politik, tepatnya  di bawah koordinasi Deputi IV KSP Eko Sulistyo.

Kalau kita coba analisa mengapa istana merekrut Ali Ngabalin sebagai staf kantor presiden, hanya ada satu alasan yang mungkin. Yaitu dia diharapkan bisa melawan dan menjinakkan suara-suara yang semakin hari membuat elektabilitas Jokowi makin merosot.

Suara Ngabalin kencang, dianggap sebagai tukang debat walaupun seringkali isi pembicaraannya biasa-biasa saja bahkan tak punya poin, dan yang paling penting, dia pakai sorban. Hal yang terakhir ini walaupun kedengaran konyol, tapi itulah kenyataannya.

Sorban Ngabalin adalah bahasa visual istana bahwa istana dekat dengan umat Islam. Sorban Ngabalin dianggap sebagai simbol keislaman dan kesantriannya yang menunjukkan istana sama sekali tidak anti umat Islam.

Sebelumnya, Ngabalin disebut-sebut bakal diangkat Jokowi sebagai Menteri Agama menggantikan Lukman Hakim Saifuddin, pada reshuffle 16 Agustus 2017 lalu. Jokowi sudah setuju, namun salah seorang petinggi istana disebut-sebut tak menyetujui jika Ngabalin diangkat menjadi menteri.

“Kalau hanya staf khusus, saya setuju,” kata petinggi istana tersebut. Ketidaksetujuannya terhadap Ngabalin yang akan menjadi menteri, masih terkait dengan persoalan lama di Partai Golkar.

Sumber di istana menyebutkan, Ngabalin sebenarnya sudah lama keluar masuk Istana, untuk sekedar berbincang dengan presiden dan mengikuti rapat-rapat. Presiden Jokowi disebut-sebut ‘jatuh hati’ dengan Ngabalin, karena mampu memberi penguatan terhadap pemikiran dan langkah-langkah presiden.

“Saya tidak pernah melihat Pak Presiden tertawa lepas, seperti ketika bincang dengan Ali Mochtar Ngabalin. Mereka diskusi berdua. Pak Jokowi tampak senang betul,” kata sumber INDOPOS di Istana.

Ditanyai soal ini, Ngabalin tidak membantah. Menurut dia, kepada siapa saja, ia berusaha menjadi orang yang bermanfaat, baik bagi dirinya sendiri dan orang lain. “Pak Presiden itu orangnya rendah hati. Beliau mau belajar, terutama belajar soal Islam. Beliau banyak bertanya, ya, karena saya juga sebagai ulama, misi menyampaikan dakwah harus dilakukan kepada siapa saja dan di mana saja, ya saya jelaskan, saya jawab pertanyaan Pak Presiden,” kata Ngabalin kepada INDOPOS, Rabu (23/5).

Dia menegaskan, akan tetap menjadi mubaligh, walau kini masuk Istana sebagai staf khusus dan juru bicara Pemerintah. Menurut dia, hanya kematian yang menghentikan kerja-kerja dakwah.

 

“Saya tetap berdakwah, saya tetap menjadi mubaligh, saya tetap memimpin organisasi mubaligh. Tidak ada yang berubah. Hanya kematian yang menghentikan kerja-kerja dakwah saya,” kata Ali Mochtar Ngabalin

Ia menjawab sejumlah pertanyaan INDOPOS seputar tudingan miring yang diarahkan pada dirinya, setelah tersiar kabar, bahwa Ali Mochtar Ngabalin masuk Istana. Menurut Ngabalin, kerja-kerja dakwah sudah dimulainya sejak ia masih remaja. Sejumlah organisasi Islam pernah diikutinya.

 Bahkan, saat ini Ngabalin  tercatat sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Badan Koordinasi Mubaligh se-Indonesia (Bakomubin).

Menurut Ngabalin, bersedianya ia menjadi staf khusus, tentu dengan pertimbangan kerja-kerja dakwah bagi kepentingan umat. Menurut dia, kerja mubaligh itu adalah menyampaikan pesan.

 “Kalau kita berfikir kerja dakwah hanya dari mimbar, tidak boleh masuk istana, apakah Anda yakin, pesan umat dari mimbar itu menembus dinding Istana? Saya mencoba mengambil kesempatan itu, agar pesan umat, menembus Istana dan langsung sampai ke Presiden,” tegas Ngabalin.

Dalam pandangan istana, dengan masuknya Ngabalin yang memakai sorban, yang selama ini didominasi oleh lawan politik Jokowi, maka istana akan mampu membalikkan persepsi publik. Publik, yang sebagian besar beragama Islam, dan utamanya alumni 212, diharapkan bisa berubah pikiran mengenai Jokowi.

Kalau itu jalan pikiran istana, maka sudah pasti pemilik ide terlalu menggampangkan masalah. Luka hati umat Islam yang mengalami penzoliman sejak Ahok jadi Gubernur DKI masih basah karena penzoliman masih berlangsung sampai hari ini.

Ditanya apakah ia akan tetap menjadi ketua umum PP Bakomubin, Ngabalin menegaskan, ia akan tetap menjalankan peran itu. “Bakomubin itu menjadi katalisator yang menjembatani, mendekatkan kepentingan pemerintah dengan umat dan bangsa. Ini bukan kerja sebulan dua bulan, tapi kerja panjang,” tegas Ngabalin.

Apakah ditariknya ia ke Istana, merupakan strategi Jokowi dalam upaya merangkul umat Islam? Maklum, Jokowi selama ini dituding tidak pro terhadap umat muslim, terutama ulama. Tak sedikit ulama yang dikriminalisasi. Menjawab pertanyaan ini, Ngabalin mengatakan,”Pak Jokowi itu kan umat muslim, bagian dari masyarakat yang besar ini. Pak Jokowi tidak pernah jauh dari umat.”

Sementara, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengungkapkan alasan pengangkatan Ngabalin. "Dia adalah politisi senior yang punya banyak pengalaman dan jaringan," ujar Moeldoko dalam siaran pers, Rabu (23/5).

Ngabalin bergabung dalam KSP per 1 Mei 2018. Dia menduduki posisi Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi.

"Dia akan membantu mengomunikasikan apa yang sudah dikerjakan oleh Pemerintah. Sudah begitu banyak program dan kebijakan yang dibuat Pemerintah, dan memerlukan komunikasi kepada publik yang lebih luas," papar Moeldoko.

Moeldoko menjelaskan, posisi Ngabalin bukanlah sebagai juru bicara presiden. Saat ini juru bicara presiden atau staf khusus presiden bidang komunikasi dijabat oleh Johan Budi SP.

Sakit hati ini sudah sedemikian dalam sehingga hanya hal yang bersifat substansial yang bisa menyembuhkannya. Yaitu, mengeluarkan kebijakan yang adil yang memanusiakan umat Islam yang menjadi pemilik mayoritas negeri ini. Bukan dengan akal-akalan memainkan semiotika sorban yang dangkal yang tidak menyentuh substansi keberatan umat Islam selama ini.

Tetapi kalaupun sekarang Jokowi mengeluarkan kebijakan yang memberikan keadilan kepada umat Islam, sudah pasti sangat terlambat. Umat Islam sudah bulat tekad agar Jokowi sesegera mungkin turun dari jabatannya. Dia dianggap menjadi masalah, bukan solusi bangsa.

"Tugasnya adalah sebagai Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden. Bukan sebagai Juru Bicara Presiden atau Staf Khusus Presiden," ujar Moeldoko.

Penunjukan Ngabalin sebagai Juru bicara pemerintah, justru menuai respon kurang baik oleh Juru bicara Persaudaraan Alumni (PA) 212 Habib Novel Bamukmin. Ia pesimistis kehadiran Ngabalin sebagai staf khusus Presiden Joko Widodo bisa menghentikan segala bentuk kriminalisasi terhadap ulama dan ormas Islam.

"Saya tidak yakin dia bisa membela kepentingan umat Islam,  khususnya hentikan kriminalisasi terhadap ulama dan aktivis yang kerap mengkritik kebijakan Jokowi," kata Habib Novel kepada INDOPOS di Jakarta,  Rabu (23/5).

Dirinya pun menganggap Ngabalin bukanlah seorang mubaligh sebagaimana yang diberitakan oleh sejumlah media.  "Kami tidak menganggap dia seorang Dai. Dia bagi kami hanya seseorang yang sedang merendahkan harga dirinya kepada pemerintahan yang tidak berpihak kepada ulama,"  cetusnya.

Bahkan,  dengan ditunjuknya  Ngabalin sebagai stafsus,  kata Habib Novel, hal itu telah membuka sikap asli Ngabalin yang ternyata pro pemerintah, bukan kepada ulama.

"Beberapa waktu lalu, Ngabalin pernah menawarkan diri ingin bergabung dalam kepengurusan Presidium Alumni 212. Lalu dia termasuk yang tidak setuju berubah nama menjadi Persaudaraan Alumni 212. Dan bersyukur,  ternyata para ulama di Persaudaraan melihat ada gelagat buruk dari sosok Ngabalin.  Maka, dengan menjadi stafsus presiden,  'belang'-nya makin kelihatan," cetusnya menambahkan. (KONF/INDOPOS)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  



Berita lainnya

loading...