15 December 2019

Situng KPU Harusnya Bisa Dirancang untuk Deteksi Human Error

KONFRONTASI– Sistem penghitungan suara atau Situng dalam real count Komisi Pemilihan Umum atau KPU disorot, karena menuai protes. Dugaan kecurangan hingga kesalahan input data C1, karena human error menjadi catatan untuk Situng KPU.

Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan menilai, polemik Situng KPU menambah sejumlah ketidakwajaran dalam perhelatan Pemilu 2019.

“Ketidakwajaran tersebut masih berlanjut pada perhitungan suara di KPU yang menggunakan aplikasi yang dikenal dengan Situng," kata Anthony dalam keterangannya, Selasa 30 April 2019.

Dia menekankan, perlu KPU merespons secara detail ke publik soal ketidakwajaran Situng. Alasannya, karena kesalahan input data TPS ke sistem Situng KPU dinilai hanya menguntungkan paslon 01 Jokowi-Ma'ruf Amin. Namun, merugikan bagi paslon 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

"Karena hanya menguntungkan paslon 01 saja, maka kesalahan input data ditengarai sebagai indikasi ketidakwajaran,” jelas Anthony.

Menurutnya, KPU tak hanya cukup menjelaskan ke publik bahwa kesalahan data, karena human error. Namun, perlu secara detail dengan mengajak dua kubu memaparkan, agar meredam tensi politik.

“Di sini ada beberapa persoalan utama terkait kesalahan input data. Pertama, harus diakui manusia dapat melakukan kesalahan, dan itu adalah manusiawi. Dan sekarang masyarakat diminta untuk maklum atas kesalahan manusia ini," tuturnya.

Kemudian, seharusnya Situng sudah dirancang KPU untuk mendeteksi dan memprediksi human error. Bila ini sudah dilakukan maka tak perlu muncul tensi politik yang masih memanas karena ketidakpuasan salah satu pihak.

"Kalau kesalahan input masih dapat terjadi pada aplikasi Situng KPU ini. Maka Situng KPU ini harus dinyatakan tidak layak digunakan khususnya untuk kepentingan nasional yang sangat penting seperti pilpres dan pileg karena menyangkut martabat bangsa," ujarnya.(mr/viva)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...