16 August 2018

Rupiah Keok, Pertamina Timbang Kerek Harga Pertalite-Pertamax

KONFRONTASI -  PT Pertamina (Persero) mengaku tengah mengkaji penyesuaian harga jual Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi, jenis Pertalite dan Pertamax. Hal itu dilakukan guna mengimbangi tekanan dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS)

"Kami sedang mengkaji (penyesuaian harga BBM nonsubsidi)," ujar Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati di kantor Badan Pengatur Hilir (BPH) Minyak dan Gas (Migas), Rabu (16/5).

Sesuai Peraturan Menteri ESDM Nomor 21 Tahun 2018, tentang Perubahan Keempat atas Permen ESDM Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perhitungan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak, penentuan harga BBM nonsubsidi harus mendapatkan persetujuan Kementerian ESDM.


Nicke mengungkapkan bahwa perseroan saat ini tengah fokus untuk mempersiapkan pasokan premium penugasan di seluruh Indonesia. Menurut dia, saat ini masih terdapat sebanyak 1.926 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Jawa, Madura, dan Bali yang tidak menjual premium. Namun, sebanyak 571 SPBU diantaranya siap menjual premium kembali karena memiliki tangki timbun lebih dari satu.
Lihat juga: BPH Migas: 1.900 SPBU di Jawa, Bali, Madura Tak Jual Premium

Hal itu sebagai tindak lanjut dari revisi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan harga Jual Bahan Bakar Minyak (BBM) yang menunggu diteken Presiden Joko Widodo. Dalam beleid revisi baru, pemerintah memasukkan wilayah Jawa, Madura, dan Bali (Jamali) sebagai ruang lingkup penjualan wilayah penugasan premium.

"Fokus kami pada penyiapan premium dari revisi perpres 191/2014 itu dan di waktu bersamaan kami akan mengusulkan untuk harga (BBM nonsubsidi) tetapi kami belum mengusulkan," katanya.

Sebagian minyak mentah Pertamina masih harus diimpor mengingat produksi dalam negeri tak mencukupi kebutuhan bahan bakar domestik. Sebagai gambaran, produksi minyak domestik hanya berkisar 800 ribu barel per hari sementara konsumsinya mencapai dua kali lipatnya.

Guna menyiasati volatilitas rupiah, Nicke mengungkapkan perseroan telah melakukan lindung nilai (hedging) untuk transaksi impor setiap tahunnya. 

"Semua bisnis pasti akan terkena dampak (pelemahan rupiah terhadap dolar AS) namun bagaimana mitigasinya," jelasnya.

Lihat juga: Penggunaan BBM Selama Ramadan Diproyeksi Naik 15 Persen

Secara terpisah, Direktur Supply Chain Logistik dan Infrastruktur Gandhi Sriwidodo menambahkan perseroan terus berkoordinasi dengan pemerintah terkait penyesuaian harga.

"Kami kan sepenuhnya milik negara, harga kami akan konsultasikan kepada pemerintah, kapan siapnya ini pemerintah menerima perubahan harga," kata Gandhi.

Sebagai informasi, saat ini, Pertamina memiliki beberapa jenis BBM nonsubsidi diantaranya Premium, Pertalite, Pertamax, Pertamax Turbo, dan Pertamax Racing. 

Sejak awal tahun, perseroan telah beberapa kali melakukan penyesuaian harga BBM non subsidi. Salah satunya, produk Pertalite sejak awal tahun telah dikerek dua kali sebesar Rp300 rupiah.  (KONF/CNN)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


loading...