Risma Diminta Tak Usah Recoki Urusan Jakarta

KONFRONTASI -   Pernyataan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, perihal banyak warga Jakarta pindah ke Surabaya lantaran anak-anaknya terjangkit asma, menuai reaksi di sebagian kalangan Legislatif DKI. Kalangan dewan tak hanya meminta penjelasan serta data yang detail menyangkut warga Jakarta yang pindah ke Surabaya, namun Risma juga diminta tak mencampuri urusan kota lain.

Partai NasDem DKI menilai pernyataan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, soal banyak warga DKI pindah ke Surabaya karena anak-anaknya terjangkit asma, kurang bijaksana. Risma diminta menjelaskan secara detail pernyataannya itu.

"Bu Risma ini indikatornya ucapannya di mana? Orang sakit itu karena apa? Apakah karena pencemaran udara? Apakah karena hal-hal lain?. Jadi, bagi saya, Bu Risma kurang wise juga untuk membahas hal-hal seperti itu," kata Ketua Fraksi NasDem DKI Wibi Andrino, di Jakarta, Minggu (19/1/2020).

Ia sekaligus meminta Risma agar tak mencampuri urusan kota lain. Bahkan menurut Wibi, jika Risma ingin berbuat untuk DKI, ia menyarankan agar Risma mengikuti Pilgub DKI 2022 mendatang.

"Selesaikan saja masalah kota masing-masing sebelum mencampuri masalah kota yang lain," katanya.

"Ya, kalau nanti Bu Risma ingin berbuat sesuatu untu Jakarta, ya maju saja sebagai gubernur DKI nanti. Tapi nanti, tahan dulu komentarnya. Karena di Jakarta hari ini tidak butuh komentar, kita butuh akselerasi luar biasa untuk warga di Jakarta," ujar Wibi menambahkan.

Sebelumnya, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini membeberkan mengenai sejumlah cara menekan solusi di wilayahnya. Dia terus menambah jumlah pohon karena jumlah kendaraan di Surabaya terus bertambah.

"Makanya Surabaya seperti hutan. Di tengah kota tapi seperti hutan. Karena selalu saya tambah terus (pohonnya) karena mobilnya tambah terus," kata perempuan yang akrab disapa Risma itu dalam gelaran Indonesia Millenial Summit, di The Tibrata, Jakarta, Jumat (17/1/2020).

Tunjukkan Data

Sementara itu, pihak PKS meminta Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, menunjukkan data terkait pernyataannya bahwa banyak warga DKI yang pindah ke Surabaya karena terjangkit asma. PKS meminta Risma membuat perbandingan Jakarta dan Surabaya dengan data yang jelas.

"Kalau itu kan harus dibuktikan dengan data dong, banyaknya berapa, terus penyebabnya apa karena sekolah apakah karena memang sakit, jadi harus jelas, kalau dia membuat pernyataan seperti itu, angka 2, 3 itu banyak kalau dalam definisi jumlah. Terus harusnya dibuat perbandingan juga berapa banyak yang belajar di Jakarta, kaya orang Surabaya yang pindah ke Jakarta kan banyak, jadi harusnya perbandingan itu harus clear secara data," kata penasihat Fraksi PKS DPRD DKI, Nasrullah di Jakarta, Minggu (19/1/2020).

Nasrullah mengakui, memang kualitas udara di Jakarta kurang baik karena banyaknya jumlah kendaraan. Namun, kata Nasrullah, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sudah melakukan upaya untuk menekan polusi.

Tak hanya Fraksi NasDem dan PKS DPRD DKI, Fralsi Gerindra DPRD DKI juga meminta Risma membuktikannya dengan data-data.

"Saya rasa nggak seperti itu, jadi Bu Risma juga jangan mengklaim seperti itu. Jadi harus mempertanggungjawabkan data-data yang dia peroleh. Dia pindah ke Surabaya karena asma atau bukan. Pada saat dia pindah ke Surabaya, kemudian asmanya sembuh dia harus bisa mempertanggungjawabkan," kata Wakil Ketua Fraksi Gerindra DKI, S Andyka di Jakarta, Minggu (19/1/2020).

Jika pernyataan Risma itu terkait kepentingan politik, Andyka meminta kader PDIP itu untuk menahan diri. Ia bahkan menyindir bahwa Pilkada masih lama.

"Kalau memang ini terkait dengan kepentingan politik, belum waktunya. Belum waktunya, kalau terkait dengan kepentingan politik. Syahwat politiknya ditahan dulu. Jadi ada beberapa hal keunggulan yang dimiliki Surabaya tapi ada hal-hal lain yang tidak dimiliki Surabaya. Tapi Jakarta memiliki keunggulan," imbuh dia.(Jft/Hanter)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...