Rezeki Nomplok Pertamina untuk Rakyat atau Akan Dicaplok Penguasa?

KONFRONTASI-  Harga BBM di Amerika sudah  diturunkan. Di Indonesia masih masih  Rp7.000- 9 ribuan/liter. 

Rejeki nomplok Pertamina itu  tanpa perlu kerja Rp. 60Trilyun  perbulan (asumsi konsumsi pertamax 50 juta kilo liter pertahun di 2018) diraih Pertamina. Anggaplah konsumsi menurun hingga 25 juta Kiloliter, peningkatan konsumsi selama 2 tahun, sekarang  30 juta Kiloliter. Masih ada minimum Rp 35 Trilyun per bulan.
Apakah mungkin  dipakai utk kegagalan di BUMN Jiwasraya yang bermasalah ? Atau untuk Pembangkit China yg mangkrak di berbagai wilayah dan merugikan Indonesia? Atau utk pindah ibukota yg gak  jelas manfaat utk siapa? Atau, rezeki Pertamina itu untuk  foya foya  lg bidang  infrastruktur yg manfaatnya dinikmati segelintir penguasa dan taipan? Itulah pertanyaan publik dan netizen.

Semoga rezeki BBM untuk penguasa itu  tidak dikorupsi dan tak diselewengkan karena melanggar hukum, sumpah dan tidak berkah. Rakyat ingin dana itu untuk pangan dan kesehatan rakyat kecil.

Dikutip dari S & P Global Platts, Pertamina impor Ron 92 atau pertamax dengan harga 23 dolar/barel – 28 dolar per barel. Harga BBM impor ini setara dengan Rp2.314/liter sampai dengan Rp2.817/liter. Lumayan banget untungnya kalau dijual di Indonesia Ron 92 atau pertamax seharga Rp9.000 per liter.

Dikatakan pula bahwa Jumat malam, pembeli bensin terbesar di kawasan itu mengeluarkan tender, ditutup pada 24 Maret, mencari total 1,2 juta barel bensin 92 Ron dalam empat paket terpisah dengan berbagai ukuran untuk April, menurut dokumen tender yang dilihat oleh Platts.

Pada 19 Maret, Platts menilai bensin FOB Singapura 92 RON -patokan bensin Asia paling cair- pada level terendah 18 tahun 23,07 dolar/barel, terakhir lebih rendah pada 22 Februari 2002 pada 22,90 dolar/barel.

Jadi dalam masa corona ini tampaknya rakyat yang tengah memberikan “subsidi” kepada negara lewat harga minyak. Subsidi dari rakyat tersebut senilai selisih harga impor BBM impor dari Singapura dengan harga jual BBM di dalam negeri.

Memang publik tau bahwa saat ini pemerintah tidak punya uang sehingga tidak punya kemampuan menghadapi corona. Demikian juga dengan BUMN migas juga mengasapi kesulitan cash flow dan kesulitan bayar utang. Banyak piutang Pertamina masih nyangkut di kas pemerintah dan belum dibayar.

Memanfaatkan momentum minyak mentah dan BBM impor murah, Pertamina BUMN yang mengurus minyak telah melakukan kontrak pembelian BBM impor lebih banyak, menyewa beberapa tanker unruk menyimpan minyak dan BBM.

Pertamina juga menutup operasi kilang dalam negeri karena lebih mahal ketimbang impor, sementara harga jual minyak dalam negeri masih bagus harganya tidak berbeda dengan masa sebelum corona. 

Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman mengatakan harga BBM jenis Pertamax harusnya sudah berada di Rp 4.540 per liter pada 1 Mei 2020. Hal itu berdasarkan formula penghitungan harga dalam Keputusan Menteri ESDM No. 62K/MEM/2020 tertanggal 28 Februari 2020.

"Harusnya ini sudah turun,Pertamax harusnya Rp 4.540 per liter pada 1 Mei. Itu kan formulanya jelas," ungkap Yusri dilansir detikcom, Kamis (30/4/2020).

"Perhitungannya bulanan berdasarkan 2 parameter penentu harga dasar BBM, yaitu nilai rata rata MOPS atau Argus dan nilai tukar dolar Amerika, kemudian ditambah 10% untuk keuntungan badan usaha" lanjutnya.

Yusri menjelaskan bahwa dalam Kepmen ESDM perhitungan BBM dihitung bulanan. Dalam hal ini harga per 1 Maret acuannya dihitung pada periode 24 Maret hingga 25 April.

Dari perhitungannya asumsi harga minyak sesuai MOPS rata-rata berada di harga US$ 23 sementara nilai tukar mata uang sebesar Rp 15.800 per dollar AS. Perlu diketahui satu barel minyak berisi 159 liter.

Kemudian dia menyatakan ada asumsi Rp 1.800 per liter untuk menghitung pajak Pemerintah, biaya pengadaan, hingga penyimpanan. Ditambah 10% margin dari harga dasar.

Formula perhitungan yang digunakan untuk menghitung BBM setara Pertamax (RON 92) adalah sebagai berikut:

Harga dasar (harga minyak MOPS dikali nilai tukar) + Rp 1.800/liter + Margin 10%

Dengan formula tersebut didapatkan perhitungan Yusri seperti ini:

Harga dasar: 23 x 15.800 ÷ 159 + 1.800 = Rp 4.086 / liter

Margin 10 %: Rp 4.686 x 10 ÷ 90 = Rp 454 / liter

Dengan hitungan tersebut maka harga jual BBM Pertamax alias RON 92 yang merupakan penjumlahan dari harga dasar dan margin, harusnya menjadi Rp 4.540 per liter.

Kemudian untuk harga jual Petralite, Yusri mengatakan formula di dalam Kepmen menunjukkan bahwa harga BBM RON 90 seharga 99,12% dari harga RON 92. Maka harusnya harga Petralite menjadi Rp 4.500 per liter.

Pertamina Bantah Nikmati Keuntungan

PT Pertamina (Persero) sendiri mengklaim tidak menikmati keuntungan besar dengan menjual BBM dengan harga yang saat ini berlaku, meski harga minyak dunia telah turun signifikan. Hal ini terjadi karena permintaan terhadap BBM juga sangat rendah.

Nicke Widyawati, Direktur Utama Pertamina, mengatakan situasi saat ini belum pernah terjadi dan dialami Pertamina sebelumnya. Produk minyak mentah berupa BBM bahkan lebih murah dibanding dengan minyak mentah itu sendiri. Ini tentu menjadi masalah untuk Pertamina yang produksi minyak mentahnya diolah sendiri oleh kilang dalam negeri. Sayangnya olahan minyak mentah menjadi BBM tersebut sekarang bahkan banyak yang tidak terserap. Adanya wabah Covid-19 membuat konsumsi BBM masyarakat dan industri anjlok.

Nicke mengatakan 80% pendapatan Pertamina berasal dari hilir. Sisanya 20% dari hulu. Sebaliknya untuk kontribusi laba bersih sebanyak 80% berasal dari bisnis hulu dan 20% dari hilir. Sehingga jika harga minyak jatuh, secara langsung akan menekan Pertamina. Jika dalam situasi normal anjloknya harga minyak bisa mendorong penurunan Indonesia Crude Price (ICP), dan menurunkan Harga Pokok Penjualan (HPP) bisnis hilir, tapi kondisi itu tidak terjadi karena sekarang permintaan BBM turun, sehingga menjadi tidak seimbang.

Kemudian infrastruktur Pertamina baik di hulu, dan kilang didesain dan dibangun untuk menyesuaikan permintaan migas yang banyak. “Makanya kalau ada penurunan permintaan berpengaruh sama kilang,” kata dia.

Pertamina juga sudah menurunkan kapasitas produksi kilang hingga 15%. Jika penurunan konsumsi terus terjadi kapasitas produksi kilang Pertamina akan kembali diturunkan sebanyak 25%.

Menurut Nicke, sebelum Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) saja penurunan konsumsi terjadi sudah tinggi, kondisi tersebut makin meningkat ketika PSBB diberlakukan. Konsumsi BBM di kota-kota besar kata Nicke penurunannya sudah diatas 50% dari kondisi normal.

“Secara nasional sampai April ini sampai 25% turunnya demand kita. Penurunan demand kita ini adalah penjualan terendah sepanjang sejarah Pertamina. Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar itu turun tajam. Kota-kota besar turun konsumsinya diatas 50%,” kata dia.

Menurut Nicke, storage-storage atau tangki penyimpanan Pertamina saat ini sudah dalam kondisi penuh. Saat ini stock BBM Pertamina sudah mencapai dua bulan padahal biasanya hanya 16-18 hari. Dengan kondisi ini meskipun harga BBM tetap tidak ikuti harga minyak dunia tapi tetap saja tidak ada yang membeli BBM Pertamina, sehingga tidak ada keuntungan tidak terduga (windfall profit) yang dinikmati.

“Jadi walaupun harga minyak sedang turun kita tidak kena windfall profit itu, karena demand (permintaan) nggak ada,” kata Nicke.

Menurut Nicke, kondisi tersebut merupakan bagian dari triple shock atau kejutan yang sedang memukul kondisi perusahaan. Shock berikutnya adalah terkait tekanan dollar terhadap rupiah.

Pertamina kata Nicke harus menggelontorkan 93% belanja modal atau Capital Expenditure (Capex), maupun Operation Expenses (Opex), dalam bentuk dolar. Sementara di sisi lain Pertamna menjual produk dalam bentuk rupiah.

“Makanya ada selisih kurs. Pengeluaran dan pemasukan jadi nggak seimbang. Kalau pendapatan rupiah, lalu terdepresiasi maka makin kecil (pendapatan),” kata Nicke.(mr/bbs)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA