PT Chevron Sukses Dulang 11 Milyar Barel Minyak, Masyarakat Riau Busung Lapar

KONFRONTASI -  Cerita sampingan Agung Marsudi, dalam diskusi bedah buku Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru yang diselenggarakan Global Future Institute  di PTIK Jakarta Rabu (24/05). 

PT Chevron Pacific Indonesia berhasil memproduksi 11 miliar barrel minyak di Riau. Namun masyarakat Riau tetap menderita busung lapar, miskin dan terpinggirkan. Kemana berkah minyak itu menetes? Dengan patokan harga minyak rata-rata US$ 50, jumlah tersebut setara dengan uang Rp. 7425 trillyun. Maka dari sekian ribu trillyun uang tersebut, berapa persen yang menetes ke rakyat Riau untuk kesejahteraan mereka? Masih misterius.

Dalam bedah buku bertajuk Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya baru karya M Arief Pranoto dan Hendrajit Rabu (24/05) di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Agung Marsudi sebagai salah satu pengulas buku memberi informasi menarik seputar sepak-terjang Chevron di Indonesia di Riau, khususnya di Duri. ibukota kecamatan Mandau, sebuah kota kecil yang  berada di jalur jalan raya lintas timur Sumatera. Sekitar 130 km dari arah utara Pekanbaru, ibukota provinsi Riau.

Agung Marsudi D Susanto, penulis buku Chevronomics, yang juga menaruh perhatian pada bidang geospasial serta pemetaan potensi  dan data sosial-ekonomi-politik, mengingatkan betapa Chevron yang sudah beroperasi di Indonesia selama 91 tahun itu, sudah saatnya diperbahurui kembali investasi tambangnya di Indonesia. Jika tidak, maka sejatinya ini merupakan bentuk invasi, bukan lagi investasi.

Foto Hendrajit.

Terkait masalah itu, Agung Marsudi mengingatkan pemerintah agar mencermati sepak-terjang Chevron di Duri. Menurut catatan Agung, produksi minya mentah Duri saat ini mencapai 300.000 barel per hari, dengan harga minyak mentah yang fluktuatif antara 60 sampai 100 dolar AS, maka dari perut bumi Mandau diperkirakan mengucur 270 miliar rupiah per hari. Tentu saja angka tersebut bisa naik-turun, seiring perubahan nilai kurs dolar AS terhadap rupiah. Angka ini hanya sekadar ancar-ancar untuk memudahkan gambaran.

Ladang minyak Duri memproduksi minyak bumi yang terkenal dengan nbama Duri Crude. Lapangan Duri menggunakan teknologi steamflood  sejak 1985 dan merupakan salah satu yang terbesar di dunia untuk pengembangan teknologi EOR (enhanced oil recovery).

Duri Steam Flood (DSD) dengan area operasi mencapai 144 km2 (18 km x 8 km), memiliki lebih dari 4200 sumur produksi, 1900 sumur injector dan 500 observation wells, menerapkan teknologi mutakhir untuk mengangkat minyak yang berjenis heavy oil (minyak berat) dari reservoir.

buku Chevronomics

Yang krusial dari fakta ini, Duri termasuk the Giant Field, merupakan satu diantara lapangan-lapangan minyak Chevron terbesar sebagai cadangan terbukti (proved reserves). Duri Crude menyumbangkan sekitar 30 persen produksi minyak mentah Indonesia, kini lapangan Duri menghasilkan sekitar 195.000 barel per hari.

Di bawah nama besar PT Chevron Pacific Indonesia, yang dulu bernama Caltex Pacific Indonesia, pada 4 Oktober 1995, Ladang Minyak Duri telah mencapai produksi 1 miliar barrel. 11 tahun kemudian, tepatnya pada November 2006, Ladang Minyak Duri ,mencapai rekor produksi 2 miliar barrel sejak pertama kali dipompa pada 1958.

Selama ini, mayoritas produksi PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) berasal dari lapangan-lapangan primary maupun secondary recovery dalam PSC Rokan.di provinsi Riau. PSC Rokan merupakan production sharing contract antara Pertamina dengan PT CPI pada 9 Agustus 1971 yang kemudian diamandemenb berdasarkan persetujuan Menteri Pertambangan pada 24 Desember 1983 dan 15 Oktober 1992.

PT CPI memperoleh hak kuasa pertambangan minyak dan gas bumi di daerah Sumatera Tengah, lebih kurang seluas 9.898 km2. Kontrak awal berlangsung sampai dengan 8 Agustus 2002, dan perpanjangan kontrak berlaku untuk 20 tahun, sampai dengan 8 Agustus 2021. Area yang tersisa setelah dilakukan penyerahan 35% dari area kontrak awal adalah 65 persen dari area kontrak dan tidak boleh melenbihi 6433 km2. PSC Rokan dioperasikan PT CPI di 3 lapangan minyak utama: Duri, Bekasap dan Minas.

Berdasarkan konstalasi tersebut, masa depan minyak bumi Indonesia masih tetap punya prosepk bagus di mata perusahaan minyak macam Chevron. Dengan kata lain, Riau masih tetap jadi sasaran strategis kepentingan korporasi multinasional migas AS seperti Chevron.

Betapa tidak. Sejak tetesan pertama pada 1952 hingga akhir 2009, PT CPI telah berhasil memproduksi 11 miliar barel di Riau. Angka tersebut berasal dari lapangan Minas (4,5 miliar barrel), Duri (lebih dari 2 miliar barrel), dan lapangan lainnya (4,5 miliar barrel).

Namun yang membuat gusar Agung Marsudi, sehingga kemudian tergerak untuk menulis buku bertajuk Chevronomic, Oil Service Company, Awas Kompeni!, dengah hasil sedemikian fantastis itu, kemana sesungguhnya berkah minyak itu menetes?

Menurut Agung, meskipun dikenal sebagai negeri petrodollar, tapi tak membuat mnasyarakat Riau yang tinggal di sekitar wilayah operasi dapat merasakan manisnya “emas hitam” itu.

Dalam laporan pertanggungjawaban di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah pada 1992, Gubernur Riau Suripto menyebutkan, dari 3,2 juta penduduk Riau, 23,7 persen hidup miskin. Di awal reformasi pasca pemerintahan Suharto, bahkan melonjak tajam. Gubernur Rusli Zainal pada 2004 menyatakan 40 persen masyarakat Riau hidup di bawah garis kemiskinan.

Sementara minyaknya terus disedot dengan konversi per detik, per barel dan per dolar Amerika, namun masyarakatnya justru mengalami busung lapar, miskin dan terpinggirkan. Agaknya, pemerintah pronvinsi Riau lebih tertarik untuk mendapatkan pembagian keuntungan migas dari Chevron, daripada memikirkan bagaimana produksi fantastis yang dihasilkan dari tiga lapagan tersebut dapat didayagunakan untuk kesejahteraan masyarakat Riau.

Cerita sekilas tentang ulah Chevron di Riau yang disampaikan Agung, sekadar menggambarkan sebuah ilustrasi, untuk memperkuat dan mempertajam buku karya M Arief Pranoto dan Hendrajit, Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru. Betapa mudahnya pemerintah daerah menjadi sasaran empuk Perang Asimetris kepentingan korporasi asing, sehingga kontrol produksi atas sumberdaya alam kita, dikendalikan kepentingan asing dengan bantuan sepenuhnya pemerintah provinsi.(Juft/Aktual)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...