20 July 2019

Prof Eddy Akui Salah Sebut Nama Le Duc Tho

KONFRONTASI-Ahli yang dihadirkan tim hukum Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin dalam sidang sengketa perselisihan hasil pemilu di Mahkamah Konstitusi (MK), Prof Edward Omar Sharif Hiariej atau Prof Eddy, memberikan klarifikasi. Prof Eddy mengaku keceplosan menyebut nama 'Le Duc Tho'.

"Soal Le Duc Tho itu betul-betul saya slip of tongue. Saya minta maaf atas slip of tongue," kata Prof Eddy dilansir detikcom, Selasa (25/6/2019).
 
Le Duc Tho adalah mantan Perdana Menteri Vietnam. Nama Le Duc Tho disebut Prof Eddy saat itu disebut sebagai jawaban atas pertanyaan dari Denny Indrayana sebagai tim hukum Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di MK tentang ada-tidaknya kejahatan luar biasa yang pernah diputus dengan cepat dalam persidangan.
 
"Saya jawab bahwa dalam Extraordinary Chamber di Kamboja ada kasus yang diputus kurang dari 14 hari dengan saksi dan bukti yang valid dalam kasus Le Duc Tho, kepala sipir penjara di Kamboja. Saya keliru menyebut nama. Bukan Le Duc Tho, tetapi Kang Kek Iew.
 
Le Duc Tho adalah Perdana Menteri Vietnam yang menolak menerima Nobel Perdamaian ketika akan diberikan bersama Menteri Luar Negeri Amerika Henry Kessinger," imbuh Prof Eddy.
 
Prof Eddy juga mengaku telah berkomunikasi dengan Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Prof Hikmahanto Juwana berkaitan dengan hal itu. Setelah itu, detikcom mencoba menghubungi Prof Hikmahanto.
 
"Ada beberapa teman saya, kebetulan juga ayah saya, ada juga dari Vietnam juga yang mengatakan, 'Kok gini', terus kalau di Mahkamah Konstitusi itu kalau sudah kejadian gini tidak bisa mengklarifikasi. Nah terus teman-teman titip sama saya, 'Tolonglah dibuat dalam press release untuk diklarifikasi itu," kata Prof Hikmahanto.
 
Ayah Prof Hikmahanto kebetulan adalah mantan Duta Besar Indonesia di Vietnam. Prof Hikmahanto pun mencoba meluruskan kesalahan penyebutan itu.
 
"Penyebutan nama Le Duc Tho perlu diluruskan. Hal ini karena Le Duc Tho adalah mantan Perdana Menteri Vietnam. Le Duc Tho tidak pernah diadili di pengadilan hibrid Kamboja atas tuduhan kejahatan internasional. Klarifikasi ini penting karena Le Duc Tho justru tokoh yang diusulkan mendapat hadiah Nobel karena jasanya melakukan gencatan senjata dengan Amerika Serikat, namun menolaknya," imbuhnya. (mr/dtk)
 
 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...