10 December 2019

Pilpres 2019, Pertarungan Mega-SBY?

KONFRONTASI-Tak ada kawan dan lawan yang abadi dalam politik. Namun agaknya hal ini belum berlaku pada hubungan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Megawati Seokarnoputeri (Mega). Meski SBY sudah mengulurkan tangan untuk berkomunikasi namun Mega seperti masih bergeming, belum mau menanggapi. Padahal, Mega-SBY pernah berhubungan cukup baik di masa lalu. Melihat “konflik abadi” keduanya itu, tak heran ada yang berseloroh “lebih mudah mengecat awan ketimbang mempersatukan SBY-Mega”.

Belum pulihnya perseteruan SBY-Mega bahkan diakui sendiri SBY setelah menggelar pertemuan dengan Prabowo Subianto di kediamannya. Hari berikutnya, SBY mengulang secara detail hubungannya dengan Mega usai bertemu dengan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan.

Dalam keterangan yang disampaikan di kediamannya, SBY mengungkapkan bahwa partainya sangat berat bergabung dengan koalisi Jokowi. Ada sejumlah faktor yang menyumbat langkahnya masuk dalam koalisi. Hambatan itu tak lain hubungannya yang tak harmonis dengan Ketua Umum PDIP itu.

“Realitas hubungan Ibu Mega dengan saya belum pulih, jadi masih ada jarak, masih ada hambatan,” ungkap SBY di Mega Kuningan, Jakarta, Rabu malam (25/7/2018).

Direktur Eksekutif Populi Center Usep S Ahyar menilai, curhatan SBY tentang Megawati menjadi hambatan di koalisi dianggapnya sebagai kebalikannya. Menurut dia, sebenarnya ada keinginan dari SBY untuk bergabung dengan koalisi Jokowi. Namun begitu, SBY lebih mementingkan egonya karena ada hambatan secara psikologis dengan Megawati sehingga ia beralih koalisi ke kubu Prabowo.

Pandangan berbeda disampaikan Direktur eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting(SMRC), Djayadi Hanan. Dia menilai pernyataan SBY itu sebagai penegasan bahwa Demokrat lebih condong memilih kubu Prabowo Subianto. Pilihan itu diambil lantaran adanya hambatan yang sangat berarti bagi SBY dalam kubu Jokowi. Sementara di kubu Prabowo, SBY mendapatkan iklim yang baik dan mutual respect.

Sebaliknya, Megawati pun sepertinya tak ingin ada ‘matahari kembar’ di koalisinya yang swaktu-waktu bisa mengambil alih kendali terhadap Jokowi. Di luar itu, dendam politik Mega pada SBY memang masih belum reda.

Kini, di masa Presiden Jokowi, hubungan pasang surut kedua mantan presiden ini juga kerap dipicu oleh isu-isu yang berkembang di media, seperti pengakuan Mantan Ketua KPK Antasari Azhar yang terkesan dibekingi pemerintah Jokowi, juga mengaitkan SBY dengan kasus yang pernah membelitnya. SBY tersulut, anehnya keributan meluas antara pihak SBY dengan pendukung Jokowi. Isu lainnya, SBY merasa dihalangi untuk bertemu Jokowi, difitnah menjadi penyokong dana Aksi Bela Islam, hingga kritiknya terhadap ketidakadilan hukum, netralitas TNI-Polri, serta masalah ekonomi di era Jokowi.

Sementara Mega sendiri pada 2017 pernah menyinggung SBY dengan menyebut rakyat menangis (sengsara) saat SBY menjadi presiden. Teranyar, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menuding SBY sebagai “politisi baper (bawa perasaan)” dan selalu memainkan strategi playing victim setiap kali jelang pemilihan (pilkada/pemliu). Hal itu respons atas ungkapan tersirat dari SBY yang menyalahkan Megawati sebagai penghambat koalisi Partai Demokrat dengan Jokowi.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...