21 June 2018

Pertaruhan Politik Trah Cendana di Pemilu 2019

KONFRONTASI -  Pemilu 2019 menjadi pertaruhan politik trah Cendana. Terlebih, setelah masuknya Titiek Soeharto dalam barisan Partai Berkarya yang dipimpin Tommy Soeharto, adik kandung Titiek. Keluarga Cendana balik ke gelanggang politik setelah 20 tahun tersingkir.

Hijrah Titiek Soeharto dari Partai Golkar ke Partai Berkarya menambah kekuatan baru di partai baru peserta Pemilu 2019 ini. Figur Titiek di Partai Golkar merupakan sosok yang diperhitungkan. Setidaknya, sejumlah jabatan pernah ia sandang seperti Wakil Ketua Umum Partai Golkar, bahkan pernah disiapkan sebagai Wakil Ketua MPR menggantikan Mahyudin.

Saat menyampaikan alasan dirinya pindah ke Partai Berkarya, Titiek menyebutkan sikap Partai Golkar dinilai menerapkan sikap Asal Bapak Senang (ABS) terhadap pemerintahan Jokowi. Titiek menyebutkan sebagai anak biologis Soeharto, dirinya tidak ingin tinggal diam atas persoalan kebangsaan saat ini.

"Oleh karena itu saya memutuskan untuk KELUAR dari Partai Golkar dan memilih untuk memperjuangkan kepentingan rakyat melalui Partai BERKARYA," sebut Titiek, di Kemusuk, Yogyakarta, Senin (11/6/2018).

Kehadiran Titiek di Partai Berkarya menambah deretan politisi Partai Golkar yang memilih hijrah ke partai ini. Sebelumnya mantan Wakil Ketua DPR dari Partai Golkar Priyo Budi Santoso juga lebih dulu hijrah ke partai ini. Bahkan, Ketua Umum Partai Berkarya, Tommy Soeharto, sebelumnya juga sebagai kader Partai Golkar. Saat Munas Partai Golkar pada tahun 2009, Tommy sempat menjadi kontestan.

Partai Berkarya bisa disebut sebagai partai ketiga yang digeluti keluarga Cendana. Pasca reformasi 1998 silam, keluarga Cendana melalui Siti Hardiyanti Rukmana atau akrab disebut Mbak Tutut berada di balik layar keberadaan Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB). Partai pimpinan mantan KASAD R Hartono ini menjadi peserta Pemilu tahun 2004. Bahkan, partai ini secara terbuka menjadikan Tutut sebagai ikon partai ini dan mencalonkan dalam Pemilu 2004. Ini terjadi tujuh tahun setelah berakhirnya rezim Soeharto.

Sayang, kendati membawa kebesaran nama keluarga Cendana, partai ini hanya bisa meraih 2,11% suara dalam Pemilu 2004. Lebih tragis lagi, dalam Pemilu 2009, partai ini hanya mampu meraih suara 1,40 persen. Akibatnya, partai ini tidak lolos parliamentary threshold (PT). Praktis eksperimentasi perdana keluarga Cendana di jalur politik pasca-lengsernya Pak Harto pada 1998, gagal total.(KONF/INILAH)

Category: 
Loading...