23 April 2019

Maruarar Sirait Bilang, Survei Itu Potret Waktu dan Bisa Berubah Setiap Waktu

KONFRONTASI -  Anggota DPR RI dari Fraksi PDI- P, Mauarar Sirait menjelaskan bahwa survei itu adalah potret waktu, bisa berubah setiap waktu. Pada saat melakukan survei, bisa terjadi pada waktu itu juga. Jadi harus bisa diterima.

“Jika lagi melakukan survei. Hasilnya memang pada hari itu juga. Nah, kalau memang tidak ada kerja politik, tidak ada usaha atau berstrategi. Maka memang hasilnya, ya seperti itu. Terima saja. Tapi jika ada kerja politik untuk merubah hasil survei, tapi hasilnya survei tidak bergerak, saya setuju melihat track record lembaga survei bersangkutan,” kata Ara, biasa Mauarar Sirait disapa, saat menjadi pembicara pada Diskusi Dialektika Demokrasi, dengan tema “Survei Pemilu, Realita atau Rekayasa” di Media Center Nusantara III, Komplek Parlemen, Kamis (21/3/2019). Tampil juga sebagai pembicara Pengamat SMRC Sirajudin Abbas, dan dan Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon.

Menurut Ara, semuanya yang bekerja dibidang jasa atau profesi, seperti pengacara, notaris, atau lembaga survei. Atau dokter (Ara minta maaf saat menyebut dokter, red), bukan berarti bekerja ngasal. Dokter, misalnya. Meski membayar, kalau kita sakit tetap akan dibilang sakit. Tidak mungkin dibilang sehat.

“Kalau pengacara yang profesional, yang berintegritas. Trus kita tanya, kita nih benar atau salah. Pasti akan dibilang salah bila salah, dan benar bila kita memang benar. Jadi lembaga survei itu juga tak bisa dilihat bayar, hasil menurut yang bayar. Tidak juga seperti itu,” kata Ara.

Artinya, lanjut Ara, tidak bisa melihat sesuatu disamaratakan. Profesi apapun akan seperti itu, mereka pasti punya integritas dan punya potensi, dia tahu lapangan atau tidak.

Karenanya, yang tersampaikan saat ini, tetap harus dihormati. Itu adalah potret hari ini. Akan dijadikan pemicu untuk bergerak, untuk melakukan suatu perjuangan. .

“Saya sebagai orang PDI-perjuangan, sebagai pendukung Jokowi. Saya selalu mengatakan kemana-,mana mari kita latihan sabar. Karena saat menjadi oposisi, kita banyak mengkritik, sekarang kita jadi pemerintah ya sabarlah,” seru Ara.

Menurut Ara, dikritik itu wajar. Karena tidak ada pemerintah yang sempurna. Sempurna itu adalah milik Tuhan. “Jangan pas jadi oposisi kita kencang mengkritik, begitu jadi pemerintah tidak siap untuk di krtitik,” katanya.

Kritik pun, jelas Ara, ada dua. Yang menggunakan data dan tidak. Tapi apapun itu harus diterima, sebab itulah realita kehidupan. Inti yang harus dipegang adanya mentaliti sebagai partai pemenang. (jft/BeritaBuana)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...