2 April 2020

Luhut beri Respon ke Sudirman Said. Kata JK, Sudirman sudah lapor ke Presiden soal Freeport dan Setnov

KONFRONTASI-Menko Polhukam Luhut Pandjaitan menyebut tidak ada  instruksi perintah kepada Menteri ESDM Sudirman untuk melaporkan Setya Novanto ke MKD DPR. Namun apa yang disampaikan Luhut, diluruskan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).

Dalam jumpa pers yang awalnya berlangsung tegang, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkom Polhukam) Luhut Binsar Panjaitan membantah terlibat dalam skandal "minta saham" Freeport, tapi menyatakan 'tidak punya waktu' mengambil langkah hukum.

Jumpa pers berlangsung di Media Centre kantor Menkom Polhukam, Kamis pagi itu sedianya berlangsung Rabu (18/11) malam.

Luhut mengawali jumpa pers dengan pemaparan sikap pemerintah terkait perpanjangan kontrak Freeport, seperti dilaporkan wartawan BBC Indonesia, Pijar Anugerah.

Namun yang ditunggu-tunggu, tentu adalah disebut-sebutnya nama Luhut dalam transkripsi rekaman pembicaraan yang beredar, terkait permintaan jatah saham Freeport, yang diduga melibatkan Ketua DPR Setyo Novanto.

"Mengenai saya sendiri, saya disebut-sebut dalam tape itu. Saya tidak pernah terlibat dalam urusan-urusan semacam itu," kata Luhut.

"Saya tidak tahu apakah pembicaraannya. Tapi setahu saya yang disampaikan Sudirman kepada saya itu dia melaporkan ke presiden," ujar JK di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Jumat (20/11/2015).

"Saya tidak tahu apa pembicaraannya terkait itu," sambungnya.Saya sudah selesai dengan diri saya. Saya hanya melakukan tugas saya sebagai Menko."

"Saya sama sekali tidak punya kepentingan. Saya juga rasional melihat, itu tidak mungkin dilakukan."

Dalam transkripsi rekaman itu disebutkan seakan Luhut adalah orang yang menyatakan agar Freeport memberikan saham 11% kepada Presiden Jokowi dan 9% kepada wapres Jusuf Kalla.

Betapapun, kendati namanya disebut-sebut dalam perkara yang begitu menggegerkan, Luhut mengatakan tak akan memperpanjang masalahnya lebih jauh.

"Kami tidak ada waktu untuk melakukan langkah-langkah hukum. Karena menurut kami, hal itu, ya aneh saja. Jadi kalau (skandal minta saham) itu dilaporkan (oleh) Menteri Sudirman Said, tanya saja Menteri Sudirman mengapa ia melaporkan itu ke MKD (Majelis Kehormatan Dewan).

Ditanya lagi, ia menjawab: "Saya tidak ada waktu untuk gitu-gituan."

Luhut ditanya lebih jauh, apakah ia pernah hadir dalam pertemuan-pertemuan terkait Freeport.

"Tidak pernah," singkat sekali jawabannya.

Ditanya wartawan apa langkah pemerintah agar kejadian ini tidak terulang, Luhut berkata:

"Ya namanya nyatut 'kan sah-sah saja… suka-suka dia ... Yang penting pemerintah punya jelas sikap. Itu yang penting. Bahwa ada tadi yang mau bicara sana-sini, ya mau diapain. Masa kamu bisa jamin otaknya ngomong apa."

Jadi bagaimana sikap pemerintah? Tanya wartawan lagi.

Luhut berkata: "Sikap pemerintah jelas, saya ulangi, sikap presiden jelas, (ketika) menyampaikan ke saya kemarin: Presiden tidak akan pernah memperpanjang Freeport sebelum tahun 2019 karena itu bertentangan dengan undang-undang."

JK menyebutkan pelaporan Sudirman Said adalah wajar karena menyangkut kepala negara. "Ya melaporkan ke presiden dan melaporkan ke saya karena ini masalah kami berdua, pribadi. Jadi otomatis dong musti kita marah," terangnya.

JK mengatakan ada pelanggaran etika besar dalam pencatutan nama presiden dan Wapres sehingga seharusnya ada sanksi yang diberikan.
JK juga menunggu perkembangan dari MKD DPR RI sebelum melanjutkan langkah ke depannya soal Setya Novanto, termasuk melaporkan hal itu kepada pihak kepolisian.

"Kan prosedur pertama kan ke DPR. Nanti kita lihat perkembangannya," ucapnya.

Ketua DPR Setya Novanto mengakui adanya pertemuan dengan Presidr PT Freeport dan pengusaha minyak Reza Chalid. Namun Novanto tak mengakui rekaman dan transkrip pembicaraan yang dilaporkan Menteri ESDM Sudirman Said ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR.

"Saya tidak pernah akui rekaman itu, belum tentu suara saya. Bisa saja diedit dengan tujuan menyudutkan saya. Saya merasa dizalimi," ucap Novanto sebelum berangkat ke Hambalang, di gedung DPR, Jakarta, Jumat (20/11/2015).

Novanto untuk kesekian kalinya membantah mencatut nama Presiden dan Wapres dalam pertemuan yang diduga membahas perpanjangan kontrak PT Freeport dan disebut Sudirman meminta saham itu.

Ketua DPR Setya Novanto telah menunjuk pengacara Rudi Alfonso dan Johnson Panjaitan untuk menghadapi tuduhan bahwa dirinya mencatut nama Presiden dan Wakil Presiden untuk mendapatkan saham PT Freeport Indonesia.

"Sekarang lagi dikaji dalam waktu satu hari ini. Nanti hari Senin sudah ada langkah-langkah," kata Setya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (20/11/2015).

Setya belum bisa memastikan apakah langkah hukum itu dilakukan dengan melaporkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said ke polisi.

Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar hasil Munas Bali itu juga belum bisa memastikan apakah akan memerkarakan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin.

"Tentu tim saya akan memberikan saran yang terbaik dalam langkah hukum ini," ucap Setya.

Setya dilaporkan oleh Sudirman ke Mahkamah Kehormatan Dewan, Senin (16/11/2015). Dalam laporannya, Sudirman menyerahkan bukti berupa transkrip dan rekaman pembicaraan antara Setya, pengusaha M Riza Chalid, dan Maroef.

Sudirman menyebut Setya bersama pengusaha minyak M Riza Chalid menemui Maroef sebanyak tiga kali. Sudirman mengaku mendapatkan informasi ini dari Maroef.

Pada pertemuan ketiga, 8 Juni 2015, Setya meminta saham Freeport sebesar 11 persen untuk Presiden dan 9 persen untuk Wapres demi memuluskan renegosiasi perpanjangan kontrak Freeport.

Setya juga disebut meminta saham suatu proyek listrik yang akan dibangun di Timika, Papua, dan meminta PT Freeport menjadi investor sekaligus off taker (pembeli) tenaga listrik yang dihasilkan dalam proyek tersebut.

Setya mengaku bahwa ia bersama Riza telah bertemu Maroef. Namun, ia membantah telah mencatut nama Presiden, apalagi sampai meminta saham Freeport. (KCM)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...