19 November 2019

Kekuatan Kelompok Teroris JAD Jamaah Ansharut Daulah

KONFRONTASI -  

Kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) jaringan ISIS semakin kuat di Indonesia. Anggotanya diperkirakan 34 ribu orang di segala penjuru.


Tim Densus 88 Polri menggeledah rumah milik orang tua terduga teroris di Bandar Lampung, Selasa, 15 Oktober 2019. (Foto: Antara/Ardiansyah)
Lhokseumawe - Pengamat terorisme Indonesia Al-Chaidar mengatakan kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) semakin kuat di Indonesia. Anggotanya diperkirakan 34 ribu orang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia.

"Kelompok yang berafiliasi dengan Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) itu terus ingin menunjukkan eksistensinya," ujar Al-Chaidar kepada Tagar di Lhokseumawe, Aceh, Selasa, 15 Oktober 2019.

“Jumlah anggota JAD sudah sangat banyak di seluruh provinsi. Maka aksi-aksi teror yang terjadi di daerah-daerah, jangan sampai disepelekan atau dianggap sebagai hal yang remeh,” ujar Al-Chaidar.

Al Chaidar mengatakan beberapa daerah yang menjadi basis kelompok JAD, yaitu basis paling besar berada di Bekasi, Surabaya, Solo, Cirebon, Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Barat, dan Bandung, Jawa Barat.

Secara umum anggota Jamaah Ansharut Daulah tersebut berusia 50 tahun ke bawah atau banyak yang berusia produktif. Sebelumnya malah anggota kelompok itu ada yang berasal dari kalangan mahasiswa.

“Ada anggota JAD statusnya sebagai mahasiswa di salah satu universitas di Sumatera namun sudah lulus, maka statusnya sekarang bukan mahasiswa lagi,” tutur Al-Chaidar.

Sebelumnya, Menko Polhukam Wiranto menjadi korban teror Jamaah Ansharut Daulah (JAD), kelompok yang berjejaring dengan ISIS.

Tersangka pelaku penusukan Wiranto, Syahrial Alamsyah atau Abu Rara adalah anggota JAD Bekasi dan bekas anggota JAD Kediri di Jawa Timur.

JAD adalah organisasi Islam yang secara de jure telah dibubarkan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 2018. Akan tetapi, berkaca dari aksi teror terhadap Wiranto, pembubaran JAD serta penahanan sejumlah pemimpinnya terbukti tidak melumpuhkan aktivitas para anggotanya yang tersebar di penjuru negeri.

Beberapa jam setelah aksi teror berlangsung, Badan Intelijen Negara (BIN) seperti diberitakan Antara di Jakarta mengungkap bahwa lembaga tersebut telah memantau gerak-gerik Syahrial Alamsyah 31 tahun, dan istrinya, Fitri Andriana 21 tahun, sejak tiga bulan lalu.

Syahrial bersama anggota JAD Bekasi lain diduga akan melancarkan aksi teror pada pelantikan Presiden Jokowi pada 20 Oktober 2019. Namun, serangan itu ternyata diluncurkan ke Wiranto di tengah kunjungannya ke Menes, kecamatan di Pandeglang, Banten pada Kamis siang, 10 Oktober 2019, atau 10 hari sebelum pelantikan berlangsung.

Jumlah anggota JAD sudah sangat banyak di seluruh provinsi. Maka aksi-aksi teror yang terjadi di daerah-daerah, jangan sampai disepelekan atau dianggap sebagai hal yang remeh.


Densus 88
Personel Tim Densus 88 Mabes Polri menunjukkan barang bukti usai menggeledah kontrakan terduga teroris berinisial NAS dari kelompok Abu Zee Al Baghdadi di Kampung Rawa Kalong, Desa Karang Satria, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Minggu, 13 Oktober 2019. Dari hasil penggeledahan tersebut Tim Densus 88 Mabes Polri mengamankan barang bukti berupa buku-buku bertema khilafah, paku, kabel dan gunting. (Foto: Antara/Arisanto)
Solo Memperketat Pengamanan
Sejak peristiwa Wiranto tersebut, nyaris setiap hari Tim Detasemen Khusus Densus 88 Antiteror menangkap terduga teroris. Penjagaan diperketat di berbagai wilayah Tanah Air.

Seperti Polres Kota Surakarta memperketat pengamanan di sejumlah tempat vital terkait adanya rencana serangan bom bunuh diri oleh kelompok terorisme di wilayah Solo.

"Kami membenarkan ada rencana yang akan dilakukan oleh kelompok Abu Zee dan kawan-kawan dengan serangan bom bunuh diri di Solo," kata Kepala Polresta Surakarta AKBP Andy Rifai, di Solo, Selasa, seperti diberitakan Antara.

Andy Rifai mengatakan belum mengetahui tempat yang menjadi target oleh kelompok Abu Zee dan kawan-kawan dengan serangan bom bunuh diri di wilayah hukumnya itu.

Menurut Andy, rencana bom bunuh diri tersebut terungkap berdasarkan hasil pemeriksaan pasukan Densus 88 Antiteror Mabes Polri.

Polresta Surakarta melakukan antisipasi dengan memperketat sejumlah objek vital di Kota Solo, antara lain tempat-tempat ibadah, kantor polisi, dan tempat keramaian lain yaitu terminal, stasiun, dan mal.

Pihaknya memerintahkan anggota yang sedang bertugas untuk meningkatkan kewaspadaan, lebih peka di lapangan.

Pengamanan diperketat juga di perbatasan pintu masuk Kota Solo dan di daerah VVIP atau keadiman Presiden Joko Widodo berkoordinasi dengan TNI.

"Soal rencana serangan bom bunuh diri oleh kelompok Abu Zee di Solo, tidak ada kaitannya dengan pelantikan presiden terpilih, pada Minggu (20/10)," kata Andy Rifai.

Rencana-rencana Teror
Kepala Biro Humas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan penangkapan Syahrial Alamsyah (SA) alias Abu Rara, pria yang menusuk Menko Polhukam Wiranto, menguak jaringan kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di berbagai wilayah dan rencana-rencana aksi teror mereka. Termasuk rencana pengantin bom bunuh diri pada saat pelantikan presiden.

Jaringan JAD Bekasi pimpinan Abu Zee tersebut menaungi Abu Rara, akan melancarkan serangan teror di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Solo.

Dedy Prasetyo juga mengatakan kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) cabang Jawa Barat sempat merencanakan untuk melakukan aksi teror dengan sasaran kantor polisi dan rumah ibadah di Cirebon dan Bandung.

Namun demikian, katanya, Densus 88 Antiteror bergerak cepat dengan menangkap 11 tersangka teroris di Jawa Barat.

Rinciannya, jelas Dedy, telah ditangkap tiga tersangka yakni RF, BA dan YF di Cirebon. Kemudian pada Selasa, Densus 88 kembali menangkap tersangka lainnya, yakni S dan LT, beserta barang bukti di antaranya buku dasar mikrologi, buku-buku kimia, buku tentang terorisme dan berbagai peralatan kimia dan bahan pembuatan bom.

"Bomnya sudah siap semuanya dan ada bom yang cukup canggih teknologinya dan untuk saudara LT sudah dipersiapkan sebagai society bomber," ujar Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta.

Dedi mengatakan kelompok itu hendak menargetkan tempat ibadah dan Mako Polri di Cirebon sebagai sasaran pemboman.

Sementara di Bandung, Jawa Barat, Densus juga meringkus dua tersangka, yakni DP dan MNA, setelah sebelumnya Densus menangkap empat tersangka, yakni MRM, AA, JJ dan N.

Hasil pemeriksaan menyebutkan para anggota JAD Bandung ini merencanakan untuk melakukan aksi teror di tempat ibadah dan Mako Polri di Bandung.

"Kalau JAD Cirebon hendak menggunakan society bomber, sedangkan JAD Bandung melakukan serangan dengan menggunakan beberapa senjata seperti senjata angin, airsoftgun, pisau dan beberapa senjata tajam untuk menyerang secara personal maupun di tempat-tempat yang saya sebutkan tadi," kata Dedy.

Hingga saat ini Densus 88 terus bergerak melakukan upaya mitigasi maksimal untuk mencegah terjadinya aksi terorisme di beberapa wilayah. [Jft/www.tagar]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...