21 July 2018

Kampanye #2019GantiPresiden Makin Disukai Setelah Pilkada

KONFRONTASI -    Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA memaparkan hasil survei yang menyebut kenaikan elektoral Jokowi pascapilkada kemarin. Namun, meski elektoral Jokowi tertinggi, ada tiga catatan penting yang perlu diperhatikan Jokowi yang berpotensi menjatuhkan elektabilitasnya hingga menjelang pilpres mendatang.


Peneliti senior Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Adjie Alfaraby, mengatakan, kenaikan elektoral Jokowi dalam survei LSI Denny JA pascapilkada Juli cenderung bukan diperoleh oleh parpol pendukung. Dengan demikian, ada tiga hal yang perlu diperhatikan yang menjadi titik kritis Jokowi jelang pilpres.

"Pertama, pemilih loyal Jokowi masih berada di bawah 40 persen," ujar Alfaraby kepada wartawan, Selasa (10/7).

Pemilih militan Jokowi, sebut dia, masih sangat rendah hanya di angka 32 persen. Dengan demikian, banyak pendukung Jokowi masih sebatas soft supporter di angka 17,3 persen dari total 49,3 persen.

"Titik kritis kedua Jokowi jelang pilpres adalah pemilih loyal lawan Jokowi," katanya menjelaskan.

Pemilih loyal lawan Jokowi adalah 30,5 persen dari 45,2 persen pemilih yang tidak memilih Jokowi. Mereka adalah pemilih yang hampir mustahil memilih Jokowi, dan mereka akan memilih siapa pun lawan Jokowi, tidak peduli siapa pun yang dicapreskan. Mereka akan tetap selama selain Jokowi.

Dan, titik kritis Jokowi yang ketiga, menurut Alfaraby, merujuk survei LSI Denny JA terbaru adalah menguatnya kampanye #2019GantiPresiden. "Pamor #2019GantiPresiden cenderung naik pascapilkada," kata Alfaraby. 

Survei terbaru di Juli pascapilkada, kampanye ganti presiden naik 60,50 persen, sedangkan pada Mei pamor kampanye ini baru 50,80 persen. "Ini artinya banyak kalangan di masyarakat yang menyukai kampanye ganti presiden ini, dan pamornya naik justru setelah pilkada. #2019GantiPresiden semakin dikenal dan disukai, pamornya makin naik," ujarnya.(KONF/REPUBLIKA)

Category: 
Loading...