Iwan Sumule Gerindra: 40 Hari Wafatnya Agus Lenon, Para Aktivis Pergerakan Berkumpul, Isyarat Republik sudah Hamil Tua

KONFRONTASI- ''Begitu terasa suasana prihatin ketika para aktivis berkumpul mengenang 40 hari wafatnya Bang Agus Lenon, dimana kondisi sosial-ekonomi makin memburuk dan menggelisahkan, suatu  isyarat dan tanda bahwa Republik sudah hamil tua,'' kata Iwan Sumule, Ketua Partai Gerindra.

Dalam prosesi sahaja 40 hari mangkatnya  Agus Edy Santoso (Lenon)  itu, hadir Tokoh Malari /Ketua Umum DM-UI 1974 dr Hariman Siregar dan tokoh Gerakan Mahasiswa ITB  1977/78 Dr Rizal Ramli, yang  menyampaikan kenangan dan kesannya atas sepak terjang almarhum  Agus Edy Santoso (Lenon) dalam  40 hari meninggalnya Agus, aktivis kiri Islam. Agus memiliki  memori dengan banyak aktivis 1970-an, 1980-an dan 1998.

Baik Hariman maupun Rizal Ramli berpesan agar mahasiswa dan aktivis pergerakan tetap komit dan perduli pada kepentingan rakyat, tidak berkhianat pada aspirasi rakyat.

''Kepergian Agus menjadi semangat bagi  orang-orang pergerakan untuk meneruskan semangat gerakan bagi perubahan mewujudkan keadilan, kebenaran dan kemanusiaan,''  kata Rizal Ramli, Menko Ekuin Presiden Gus Dur.

Kata Hariman:"Kondisi saat ini  (kita) seperti  arguing with zombies''

''Saya kenal Agus dari masih “kecil” sampai mengantarkannya sekarang. Hidupnya susah belum pernah senang, tapi tidak pernah mengeluh soal dirinya. Tidak pernah iri soal jabatan dan harta orang lain. Selalu kalau bertemu Agus pasti membahas kondisi bangsa, soal ketidakadilan, soal keberpihakan. Itulah ciri khas aktivis, kita semua yang ada disini, yang menamakan dirinya kaum aktivis,'' kata Hariman Siregar  mengantar pemakaman Agus di  Condet, Jakarta, beberapa pekan lalu.

''Aktivis itu panggilan jiwa, bukan pekerjaan,'' ungkap Hariman Siregar, penasehat  Presiden BJ Habibie pada masanya...

Mengenang wafatnya Agus Edy Santoso (Lenon) tentu tak lepas dari kiprah para mantan aktivis pro demokrasi di tanah air dan lebih khusus lagi, mereka yg  memiliki interaksi emosional, intelektual, atau bahkan ideologis dengan Lenon.

Kita tergolong tak tahu sejak kapan julukan Lenon disandangnya. Sebutan yg sangat populer di kalangan aktivis 70an, 80an, hingga era 98.

Dengan Lenon, seingat Bob Randilawe, pertama bertemu di sekretariat PIPHAM di kawasan Cawang, disana Bob bertemu rekan aktivis Dediseh (Mahasiswa Sastra UI), Santoso (Aktivis Jogja), dll.

Di kandang sapi Pasar Minggu Jakarta, kami (Herdi Sahrasad, Eko S Dananjaya,) bertemu Agus Lenon dengan Amir Husein Daulay, Nuku Soleman, Standard Kia, Emron Zein Rolas, Edi Junaedi dll, Saat itu , kita datang untuk urusan advokasi dan propaganda aksi-aksi  mahasiswa di Jakarta, setelah penangkapan para aktivis KMPTL bulan Mei tahun 1989 di Senayan.

 

Dimotori sdr Standarkiaa, pada 1990-an Nuku Sulaiman (alm), Indra Iskandar, Okki Satrio, serta Bob Randilawe sendiri,  mereka mendirikan Badan Kordinasi Mahasiswa Jakarta (BKMJ), sebagai sarana konsolidasi aksi-aksi dan Jaringan lintas kampus/kota se Jawa Bali.

Agus perduli dengan  rakyat kecil, dengan rekan-rekan, mahasiswi miskin dan kaum marginal, dengan kacamata ala John Lenon, Agus , aktivis Kiri Islam itu, telah pergi. Tidak ada yang sempurna pada dirinya, kecuali Yang Maha Pencipta, Sang Maha Sempurna.

''Begitu terasa suasana prihatin ketika para aktivis berkumpul mengenang 40 hari wafatnya Bang Agus Lenon,  ada keresahan, kegelisahan, dan ada tanda bahwa Republik sudah hamil tua,'' kata aktivis  Iwan Sumule  dari Partai Gerindra.

Selamat jalan Bung Agus, kembali ke Sang Khalik, semoga mendapat tempat terbaik di sisiNya. 

(catatan kecil Herdi Sahrasad, seorang guru  rakyat  dan kaum muda,  associate professor sekolah pasca sarjana  Universitas Paramadina dan mantan visiting fellow Universitas California Berkeley,AS )

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA