18 June 2018

Ini Hari-hari Menjelang Reformasi, 20 Tahun Lalu, Dalam Gambar dan Catatan

KONFRONTASI -  Fotografer Erik Prasetya merekam berbagai momen Reformasi 20 tahun lalu, dari hari ke hari, sejak peristiwa-peristiwa jauh sebelumnya hingga akhirnya Soeharto jatuh. Berikut adalah foto-foto yang dipilihnya sendiri, dengan catatan yang juga ditulisnya sendiri untuk BBC Indonesia.


1 Mei 1998: Krisis moneter, Reformasi 98, H-20

Memasuki pertengahan 1997 krisis moneter (krismon) melanda Indonesia. Nilai rupiah anjlok terhadap dolar Amerika, yang berfluktuasi Rp12.000-Rp18.000 dari Rp2.200 pada awal tahun.

Di tengah situasi ini, tim ekonomi Soeharto justru menaikkan tarif listrik dan bahan bakar minyak. Ekonomi rakyat semakin terpuruk. Soeharto menyiasati situasi rawan pangan dengan kampanye makan tiwul, yang disampaikannya melalui televisi.

Namun Soeharto tetap penuh percaya diri, dan melakukan perjalanan ke luar negeri. Ia terbang ke Jerman untuk berobat.

I. Krisis moneterHak atas fotoERIK PRASETYA

Di depan Champion Cafe, November 1997. Panggilannya Akhmad, dia biasa bekerja pada berbagai induk semang.

Krismon membuatnya nganggur dan memutuskan jadi pengamen. Beberapa kali dia datang ke rumah saya dan tak mau diberi sekadar pengganti ongkos. Kali terakhir dia datang saya berhasil memaksanya menerima sejumlah uang. "Lumayan untuk tambahan beli harmonika," katanya.

2 Mei 1998: Kemiskinan tersembunyi, Reformasi 98, H-19

Sidang Umum MPR 98 memberi gelar Bapak Pembangunan kepada Presiden Soeharto. Gelar ini diberikan karena Soeharto dianggap berhasil dalam pembangunan ekonomi. Selama 30 tahun kekuasaannya, pendapatan perkapita meningkat dari US$80 di tahun 1967 menjadi US$990 di tahun 1997. Ekspor meningkat dari US$ 665juta menjadi US$52 miliar.

Namun di balik angka-angka itu tersimpan angka kemiskinan yang besar jumlahnya. Bappenas pernah menyatakan bahwa jumlah penduduk miskin di tahun 1993 berjumlah 27 juta jiwa. Namun tolok ukur kemiskinan adalah setiap orang yang berpenghasilan Rp20.000/bulan. Bila batas kemiskinan tersebut menggunakan ukuran kebutuhan fisik minimum dari Depnaker tahun 1993 yaitu Rp80.000/bulan,maka sekitar 180 juta jiwa atau hampir 90% rakyat hidup dalam garis kemiskinan.

pengamenHak atas fotoERIK PRASETYA

Pengamen cilik ini mengaku bernama Sumi. Saya diberi tahu oleh teman wanita yang berhasil menanyai nama dan alamatnya (ia tidak menjawab pertanyaan saya).

Sumi putus sekolah di kampungnya lalu ikut ibunya yang bekerja sebagai pengumpul barang bekas. Mereka hidup di sebuah gerobak dorong di kawasan Juanda, Jakarta. Saya masih melihatnya selama beberapa bulan sesudah itu sampai akhirnya ia menghilang. Semoga kecurigaannya pada kaum lelaki menyelamatkan Sumi dari kerasnya kehidupan Jakarta.

3 Mei 1998: Gerakan Mahasiswa 1998

Gerakan Mahasiswa terbukti menjadi gerakan yang paling konsisten melawan Orde Baru. Represi dan pemenjaraan tidak menghentikan perlawanan.

Sejak 1971 hingga 1988 mereka tak henti-henti melakukan aksi-aksi penggulingan Soeharto.

Tahun 1971 mereka menyerukan golput, untuk tidak memilih dalam pemilu yang mereka anggap sekadar memenangkan Golkar, partai Soeharto. Tahun 1974 mereka kembali bergerak untuk menolak dominasi modal asing dan kepemimpinan Soeharto. Tahun 1978 mereka menuntut sidang istimewa MPR untuk meminta pertanggungjawaban Soeharto atas penyelewengan UUD 45 dan Pancasila. Akhir 1980an mahasiswa kembali bergerak untuk menunjukkan solidaritas kepada kaum tani yang tergusur: Kedung Ombo, Badega, Cimacan, Cilacap dll.

Awal 1990an radikalisme mahasiswa mulai diarahkan pada struktur politik Orde Baru. Di Jakarta FAMI melakukan aksi di DPR menuntut Sidang Istimewa. Tahun 1994 dibentuk sejumlah gerakan mahasiswa. antara lain SMID, Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi

20 tahun reformasiHak atas fotoERIK PRASETYA

Jakarta Mei 1998. Eskalasi aksi mahasiswa menentang Soeharto mulai meluas ke berbagai kota. Mulanya hanya aksi di dalam kampus, kini mereka mulai bergerak melakukan unjuk rasa di jalan-jalan.

4 Mei 1998: Tapos

"Tanah ini milik keluarga kami sejak nenek moyang, tapi mereka merampasnya dengan paksa," tutur seorang petani tentang tanah Tapos yang dikuasai Soeharto dan keluarganya. Peternakan Tapos mulai dibangun tahun 1974 dengan merebut 750 hektar tanah petani. Di kawasan ini lalu dibangun berbagai proyek pertanian dan peternakan, yang sering menjadi tempat pertemuan informal Soeharto dengan para kroninya. Karena pasokan pangan hewan butuh tanah yang lebih luas, para petani dilarang menggarap kebun dan dipaksa menanam rumput gajah.

20 tahun reformasiHak atas fotoERIK PRSETYA

Haji Dodo petani Tapos yang melawan dan tetap menanami kebonnya harus berurusan dengan aparat yang memenggal pergelangan tangannya. "Sampai sepuluh tahun saya merasa tangan saya masih ada, sering gatal pada bagian yang buntung," katanya. Pada latar belakang tampak pembangunan villa yang mangkrak milik Tommy Soeharto.

6 Mei 1998: Penculikan aktivis 1997-1998

Penculikan aktivis 1997/1998 adalah proses penghilalangan secara paksa atau penculikan terhadap aktivis pro-demokrasi yang terjadi menjelang pemilu 1997 dan SU MPR 1998.

Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan KONTRAS mencatat 23 orang telah dihilangkan oleh alat negara selama periode 1997-1998. Dari angka itu satu orang dinyatakan mati, sembilan orang dilepaskan dan 13 lainnya masih hilang hingga hari ini.

20 tahun reformasiHak atas fotoERIK PRASETYA

Tuti Koto, ibu dari Yani Afri salah satu korban penculikan yang tidak kembali, menanyakan keberadaan putranya ke Dephankam. Hingga akhir hayatnya November 2012, Ibu Tuti Koto tidak pernah mendapatkan kejelasan tentang putranya.

7 Mei 1998: Tim Mawar

Masih soal penculikan akitivis. Siapa yang melakukan dan harus bertanggung jawab?

Temuan tiga lembaga di bawah negara, DKP, TGPF dan Tim Ad Hoc Komnas HAM memberikan rekomendasi supaya Prabowo dan semua pihak yang terlibat penculikan diadili di Pengadilan Militer. Dalam kenyataan yang diadili hanya Tim Mawar, tapi mereka hanya 11 orang pelaku, bukan pengambil keputusan. Walaupun Prabowo diberhentikan atas rekomendasi Dewan Kehormatan Perwira sebelas tahun sebelum masa pensiun, namun ia tak pernah diadili.

20 tahun reformasiHak atas fotoERIK PRASETYA

Pius Lustrilanang seorang korban menceritakan penyekapan dan penculikan yang dialaminya selama dua bulan oleh Tim Mawar. Testimoni di Komnas HAM ini menyentak kesadaran kita akan bobroknya pemerintah saat itu dan memicu tuntutan akan perubahan.

Pius kemudian dilarikan ke Belanda dan baru bisa pulang ke Indonesia setelah Reformasi. Pada hari kepulangannya Pius disambut oleh teman-teman aktivis dengan membawa poster sosok yang dianggap bertanggung jawab atas operasi Tim Mawar.

Saya menyaksikan sendiri poster tersebut dibuat di sebuah sanggar teater di Kampung Melayu pimpinan aktivis dan aktris teater terkenal Ratna Sarumpaet.

8 Mei 1998: Partai Rakyat Demokratik. Reformasi 1998, H-14

Partai Rakyat Demokratik PRD dideklarasikan pada 22 Juli 1996, dengan ketua Budiman Sudjatmiko. Banyak dari anggotanya adalah intelektual muda dan aktivis, khususnya mahasiswa.

Lima hari kemudian, pada 27 Juli 1996 dalam peristiwa yang dikenal sebagai Kudatuli, PRD dituduh mendalangi kerusuhan yang berujung pada perebutan kantor PDI. Bahkan PRD kemudian dinyatakan terlarang oleh pemerintah orde-baru dan banyak anggotanya yang hilang, diburu dan dipenjarakan.

Mulanya Persatuan Rakyat Demokratik adalah organisasi payung dari ormas massa lintas sektoral:

1. Buruh (FNPBI) tokohnya: Dita indah Sari (dipenjarakan), Suyat dan Bimo Petrus (diculik tak kembali)

2. Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKKER) tokohnya: Wiji Thukul (diculik tak kembali) Raharja Waluya Jati (diculik).

3. Serikat Tani (STN) tokohnya: Herman Hendrawan (diculik tak kembali)

4. Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) tokohnya, Garda Sembiring (penjara), Andi Arief (diculik), Nezar Patria (diculik).

Organisasi payung ini kemudian bertransformasi dari organisasi massa menjadi PRD.

20 tahun reformasiHak atas fotoERIK PRASETYA

Pada Pemilu pertama pasca-reformasi, PRD yang sebelumnya dinyatakan terlarang oleh Orde Baru, diakui dan turut serta dalam pemilu 1999. Tapi karena Budiman Sudjatmiko masih di Rutan Cipinang , konsolidasi dilakukan dari dalam penjara.

(Kamera lolos dari pemeriksaan berkat kerjasama dengan seorang perempuan kader PRD yang bersedia menyelundupkan di dalam bajunya)

9 Mei 1998: FORKOT

Salah satu elemen mahasiswa yang sering bentrok dengan aparat namanya FORKOT atau Forum Kota.

Awalnya beranggotakan sekitar 16 kampus belakangan sempat bengkak menjadi 70an. Mereka bersama FKSMJ tercatat sebagai organ gerakan mahasiswa pertama yang menembus gedung MPR pada 18 Mei 1998. Setelah jatuhnya Soeharto aksi-aksi mereka makin radikal, hal mana sejalan dengan represi yang dilakukan TNI dan Polri. Aksi-aksi mereka menuntut dihapuskannya Dwi fungsi TNI, menentang SI MPR 98, penolakan RUU PKB sering berakhir chaos. Ribuan aktivis Forkot bersama mahasiswa dan organ lain, berani menghadapi panser dan meriam air aparat dengan hanya bersenjatakan tongkat bendera batu dan molotov.

Aksi radikal mereka tak urung mengundang kecaman dan cibiran dari berbagai organisasi yang mendukung Habibie seperti KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam), PAM Swakarsa dan kelompok-kelompok pro-Orde Baru yang antigerakan mahasiswa memplesetkan kepanjangan Forkot sebagai Forum Komunis Total.

20 tahun reformasiHak atas fotoERIK PRASETYA

Bentrok di bawah jembatan Semanggi. Saya sudah berniat meninggalkan lokasi ketika mereka menyanyikan "gelang sipatu gelang." Seseorang lalu mencolek saya dan memberi isyarat agar siap-siap…!

10 Mei 1998: Dukungan dari elemen masyarakat

Krisis Moneter telah menyebabkan banyak perusahaan merumahkan karyawannya dalam jumlah besar. Kelas menengah pun tak luput dari imbasnya. Ekonomi kolaps, pengangguran terjadi di mana-mana.

Seiring dengan meningkatnya eskalasi gerakan mahasiswa, dukungan dari berbagai elemen masyarakatpun meningkat. Dukungan mulai membanjir dari elite politik, organisasi non pemerintah, buruh dan rakyat. Berbagai gerakan mulai menyokong dan menyumbang pada gerakan mahasiswa. Bahkan tidak jarang secara perorangan.

20 tahun reformasiHak atas fotoERIK PRASETYA

Di gedung MPR yang mulai diduduki oleh mahasiswa, orang berdatangan dan menyumbang apapun yang dapat disumbangkan. Saya pernah kebagian nasi bungkus yang dibawa oleh seorang ibu sederhana, dan terharu. Situasinya mengingatkan saya pada cerita-cerita tentang zaman revolusi kemerdekaan.

20 tahun reformasiHak atas fotoERIK PRSETYA

Namanya Vivian, sehari-harinya bekerja di sebuah perusahaan asing waktu itu. Sebagai sekjen Gerakan Sarjana Jakarta (GSJ), suatu gerakan yang memfasilitasi diskusi-diskusi untuk pendidikan politik, Vivi berada di tengah demo untuk memastikan ada cukup banyak air mineral gelas yang disebar di jalan-jalan sekitar area demo.

(Air mineral gelas sangat dibutuhkan bila terjadi kerusuhan dan aparat mulai menembakkan gas air mata.).

11 Mei 1998: Suara Ibu Peduli. Reformasi 1998, H-10

Sejak Orde Baru berkuasa gerakan perempuan telah dikooptasi menjadi perkakas politik negara lewat Dharma Wanita dan Kowani.

Peran perempuan yang sebelumnya penting dalam kehidupan sosial direduksi menjadi "kaum Ibu" yang harus tunduk dalam pakem politik patriarki. Pada pertengahan 1980an ketika ide feminisme mulai masuk dalam kesadaran perempuan kelas menengah terpelajar Indonesia, perjuangan menuntut kesetaraan gender mulai disuarakan. Di Jakarta ada Kalyanamitra dan Solidaritas perempuan. Di Yogya muncul Kelompok Perempuan Cut Nya' Dien, dan berbagai tempat terutama pada daerah konflik seperti Aceh, Papua, Timor dlsb.

Pada 1997 saat krisis moneter, aktifvs perempuan dari berbagai lembaga membentuk Koalisi Perempuan Indonesia. Koalisi ini kemudian terlibat dalam aksi-aksi politik mendukung gerakan mahasiswa dan memasukkan perspektif gender dalam tuntutan gerakan reformasi. Awal 1998 ketika krisis makin parah, para aktivis yang tergabung dalam Suara Ibu Peduli (SIP) menuntut penurunan harga susu.

Mereka melakukan demo di Monas. Tiga orang tokohnya diinterogasi semalaman di Polda dan diadili sebulan kemudian. Mereka dinyatakan bersalah karena melanggar KUHP tentang arak-arakan. Mereka adalah Gadis Arivia, Wilasih dan Karlina.

20 tahun reformasiHak atas fotoERIK PRASETYA

Demo di Monas hanya berlangsung setengah jam, tapi 'magnitude'-nya cukup besar mengingat demo ini dilakukan oleh ibu-ibu. Saya bahkan mendengar laporan polisi pada pesawat HT yang melaporkan demo SIP sebagai Susu Ibu Peduli. Mereka bertiga kemudian diangkut dengan truk dan diproses (anehnya) pada bagian Susila.

12 Mei 1998: Peluncuran novel 'Saman.' Reformasi 1998, H-9

Pada 12 Mei 1998 itu Teater Utan Kayu (TUK) akan mengadakan peluncuran novel Saman, karya Ayu Utami. Novel itu sedang ramai dibicarakan, karena, selain menang sayembara Dewan Kesenian Jakarta, juga dianggap mendobrak segala tabu: seks, agama, dan politik—seperti membawakan suara zaman yang muak dengan rezim Orde Baru.

Tapi, siang itu terdengar kabar, mahasiswa Trisakti mati ditembak seusai demo damai. Malamnya, peluncuran Saman tetap diadakan, dengan menghilangkan acara hiburan, sebagai tanda belasungkawa. Esoknya, Jakarta telah rusuh. Suatu pembukaan pameran yang direncanakan di TUK tidak dihadiri undangan. Kendaraan umum tidak beroperasi. Jalan tidak aman. Sepuluh hari kemudian, 21 Mei, Soeharto mengundurkan diri. Setelah itu, dunia sastra dilanda eforia kebebasan selama sekitar lima atau tujuh tahun.

Karya penulis perempuan, kisah tentang LGBT, pemikiran kiri, kritik terhadap pemerintah, dll. memenuhi pasar buku. Sepuluh tahun setelah Reformasi, situasi berubah. Pasar buku didominasi buku-buku religi. Kekerasan atas nama agama meningkat. Penerbit dan penulis mulai kembali melakukan sensor diri.

20 tahun reformasiHak atas fotoERIK PRASETYA

"Di taman Firdaus ada seorang lelaki yang terkejut.

...ia melihat didepannya, sejarak lompatan macan, sesosok rupawan, dengan dada berbuah sepasang, berdiri di bawah pohon pengetahuan...Tapi, tanaman itu adalah terlarang. Begitu kata bisikan Tuhan."

Cuplikan dari novel Saman yang sudah saya kenal dari cerita-cerita di Bible. Waktu kecil saya percaya buah pengetahuan itu adalah apel.

13 Mei 1998: Penembakan Trisakti. Reformasi 1998, H-8

Tanggal 12 Mei 1998 para Mahasiswa Universitas Trisakti Jakarta melakukan aksi damai menuju gedung DPR/MPR. Mereka memulai reli dari depan kampus Trisakti di Slipi sambil membagi bagikan bunga. Tapi aparat menghadapi aksi damai mahasiswa dengan tembakan. Empat mahasiswa gugur. Mereka adalah Elang Mulya, Hendrawan Sie, Herry Hertanto dan Hafidin Royan,

erikHak atas fotoERIK

Sunarmi ibu dari Hafidin Royan, meratap di depan jenazah putranya: "Kenapa ditembak? Kalau dia nakal kan cukup dipukul saja? Kenapa ditembak…?" Kami yang berada di ruangan itu tercekat dalam kesedihan. Dari arah belakang saya mendengar seseorang merapalkan kata; Kita harus menang, kita harus menang!

14 Mei 1998: Pemakaman dan kerusuhan. Reformasi 1998, H-7

Tanggal 13 Mei 1998, dilakukan pemakaman para mahasiswa yang kemudin dinobatkan sebagai Pahlawan Reformasi. Gugurnya para martir reformasi itu membuat rakyat tersentak dan marah. Indonesia pun berkabung.

20 tahun reformasiHak atas fotoERIK PARSETYA

Televisi, radio, surat kabar dan majalah dipenuhi berita duka dan tangisan dari berbagai pelosok negeri. Siang itu kerusuhan mulai meruyak di sebagian kota Jakarta.

15 Mei 1998: Penjarahan. Reformasi 1998, H-6

Rakyat miskin yang kehilangan harapan bagaikan daun kering yang mudah tersulut api provokasi dan kemarahan. Setelah pemakaman empat pahlawan reformasi, kerusuhan mulai terjadi di daerah Grogol dan meruyak ke seluruh Jakarta. Dari tanggal 13-15 Mei terjadi penjarahan dan huru-hara yang meluas ke Bogor, Tangerang, Bekasi bahkan ke Solo dan seantero Nusantara. Korban yang tercatat berjatuhan.

Kompas 16 Mei 1998: menurut Kadispen Mabes Polri Bigjen Dai Bachtiar, jumlah korban yang tewas di wilayah DKI 200 orang, belum termasuk 20 korban yang loncat dari gedung. Sementara di Tangerang 100 orang terpanggang dan jasad para korban sebagian besar dalam keadaan hangus.

erikHak atas fotoERIK

Belum pernah Jakarta lumpuh seperti kali ini. Kengerian mencekam, kendaraan umum tidak beroperasi, jalanan dipenuhi warga yang berusaha pulang dengan berbagai cara. Para wanita menjinjing sepatu hak tinggi dan berjalan telanjang kaki menyusuri jalanan yang dipasangi rintangan. Di beberapa lokasi, motor saya (trail warna hijau mirip punya petugas) sempat mengangkut penumpang kaki lecet yang tidak lagi mampu berjalan.

 

17 Mei 1998: Pembakaran dan penjarahan. Reformasi 1998, H-4

Penjarahan terus berlangsung selama 13-15 Mei. Kerusuhan ini telah mengakibatkan kerugian fisik di Jakarta sebesar Rp2.5 triliun. Menurut Gubernur Sutiyoso (Kompas 18 Mei), kerugian terjadi akibat kerusakan 13 pasar, 2479 ruko, 40 Mal, 1600 toko, 45 bengkel, 11 polsek, 380 kantor swasta, 65 kantor bank, 24 restoran, 12 hotel, 9 pom bensin, 8 bis kota, 1119 mobil, 1026 rumah penduduk dan gereja.

Sementara itu Bandara Halim Perdanakusuma dibanjiri pengungsi warga asing dan WNI yang bergabung dalam arus evakuasi dari Jakarta yang dilanda kerusuhan.

20 tahun reformasiHak atas fotoERIK PRASETYA

Pada malam hari di kantung-kantung permukiman, suasana seperti yang digambarkan pada masa perjuangan 1945. Di setiap sudut jalan para lelaki bersiskamling bergerombol dengan senjata di tangan. Mereka mempersenjatai diri dengan golok, samurai sampai stik golf. Kewaspadaan yang tinggi terutama di daerah perumahan karena ada desas-desus akan terjadi penjarahan.

20 tahun reformasiHak atas fotoERIK PRASETYA

18 Mei 1998: Mahasiswa bergerak ke DPR/MPR. Reformasi H-3

Pada 16 Mei 1998 ribuan mahasiswa dari berbagai kampus di Jakarta mulai bergerak menuju gedung DPR/MPR di Senayan.

 

20 tahun reformasiHak atas fotoERIK PRASETYA

Dari waktu ke waktu mahasiswa terus berdatangan memenuhi gedung wakil rakyat bahkan sampai naik ke atas atap gedung. Ribuan mahasiswa menginap dan bertahan di gedung tersebut dengan risiko apapun. Tuntutan mereka satu: Soeharto harus turun dari jabatan presiden. Gedung DPR/MPR telah disita oleh rakyat.

20 tahun reformasiHak atas fotoERIK PRASETYA

Suasana malam di gedung DPR/MPR terasa mencekam. Walaupun banyak mahasiswa yang bertahan, terutama yang dari luar kota suasananya tetap diliputi ketidakpastian. Mereka mengisi waktu dengan bermain gitar dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan.

19 Mei 1998: Tuntutan mahasiswa: Soeharto turun. Reformasi 1998, H-2

Dukungan mulai membanjir dari elite politik, organisasi non-pemerintah, buruh dan rakyat. Kabinet Soehartopun terbelah. Para menteri dibawah Ginanjar Kartasasmita mengundurkan diri dari kabinet.

Bahkan Harmoko, ketua MPR dan loyalis Soeharto, dengan tegas mengeluarkan pernyataan agar Soeharto mengundurkan diri secara arif dan bijaksana. Siaran pers disambut sorak-sorai massa. Akhir perjuangan panjang terasa terasa makin dekat.

20 tahun reformasiHak atas fotoERIK PRASETYA

Akan tetapi kegembiraan tersebut ternyata datang terlalu cepat. Empat jam kemudian Panglima ABRI Wiranto mengadakan rapat kilat dengan kepala staf dan Kapolri serta para panglima komando operasi di markas besar ABRI dan menyatakan: pernyataan tersebut hanyalah pendapat individual meskipun disampaikan secara kolektif.

Sesuai dengan konstitusi pendapat tersebut tidak memiliki ketetapan hukum.

20 Mei 1998: Sidang tahanan politik terakhir Soeharto. Reformasi 1998, H-1

20 Mei 1998 Hari Kebangkitan Nasional. Pengadilan Negeri Jakarta Utara melangsungkan sidang putusan terhadap enam orang terkait penyelenggaraan Kongres Rakyat Indonesia. Keenam orang itu seniman dan aktivis Ratna Sarumpaet, serta putrinya: Fathom Saulina: pengacara Alexius Suria Tjahaja Tomu (sudah meninggal), aktivis Nandang Wirakusumah, Joel Taher, wartawan Ging Ginanjar (sekarang adalah News Editor di BBC Indonesia) ditangkap saat penyelenggaraan Kongres Rakyat Indonesia yang bermaksud memilih secara simbolik presiden versi rakyat, pada 10 Maret 1998, sehari sebelum Soeharto dipilih dan dilantik lagi sebagai presiden.

Mereka dinyatakan bersalah namun dibebaskan pada hari itu juga -sehari sebelum Soehato jatuh. Sebuah produksi ArteTV dari Prancis&Jerman mengangkat kisah mereka dengan judul Les Derniers prisonniers de Soeharto (Para Tahanan Terakhir Soeharto), karya Bernard Debord.

20 tahun reformasiHak atas fotoERIK PRASETYA

Sebuah sandiwara persidangan yang panjang dan bertele-tele namun tetap harus ditonton dengan sabar. Kami menduga-duga kenapa persidangan ini diadakan tanggal 20 Mei, tentulah agar keputusan pengadilan tampak sebagai sebuah hadiah sehari sebelum jatuhnya Soeharto. Dan benar saja, mereka tetap divonis bersalah, tapi dijatuhi hukuman sesuai masa tahanan selama 70 hari, dengan kata lain: bebas.

21 Mei 1998: Tumbangnya Orde Baru. Reformasi 1998 Hari H

Pada 21 Mei 1998 di hadapan para wartawan media seluruh dunia, Soeharto mengumumkan mundur sebagai presiden. Wakilnya, B.J Habbibie, langsung dilantik menjadi presiden RI yang ketiga.

Akhir sebuah kediktatoran yang kejam dan congkak berakhir secara dramatis. Di jalan-jalan dan di gedung DPR, rakyat meluapkan kegembiraan dengan berbagai ekspresi. Sebuah fase baru dimulai, perjalanan transisi sebuah bangsa menuju demokrasi.

20 tahun reformasiHak atas fotoERIK PRASETYA

20 tahun reformasiHak atas fotoERIK PRASETYA

Untuk mencegah hal buruk yang pernah menimpa negeri ini berlanjut maka disusunlah Enam Tuntutan Reformasi: 1. Penegakan supremasi hukum. 2. Pemberantasan KKN 3. Adili Soeharto dan kroninya. 4. Cabut Dwifungsi ABRI/Polri 5. Pemberian Otonomi Daerah.

20 tahun reformasiHak atas fotoERIK PRASETYA

Dua puluh tahun dari Reformasi 1998, di manakah posisi bangsa kita dalam perjalanan menuju Demokrasi?

Beberapa pertanyaan barangkali membutuhkan jawaban segera:

1. Apakah Indonesia akan terpecah-pecah (mengalami Balkanisasi)?

2. Apakah akan muncul tirani baru?

3. Atau Reformasi berhasil.

Jawabannya barangkali tergantung pada pilihan yang kita ambil hari ini.


Erik Prasetya adalah fotografer yang dikenal memperkenalkan genre 'Street Photography' di Indonesia, dan telah menerbitkan sejumlah buku.(KONF/BBC)

 
Category: 
Loading...