19 June 2018

IImagining Indonesia

Oleh: Imam Shamsi Ali*

 

Saat ini saya sedang di Mekah melaksanakan ibadah umrah. Sambil menunggu sholat Isya saya menonton Al-Anba (berita) dia sebuah kanal TV Saudi. Saya terkejut tapi senang, sekaligus khawatir atas tindakan Amerika bersama sekutunya (Inggris dan Prancis) melancarkan serangan militer ke Suriah atas tuduhan bahwa Bashar Al-Asad melakukan serangan senjata kimia ke warganya sendiri.

Minggu lalu berita-berita yang menyayat hati itu memenuhi headlines media-media Amerika. Korban-Korban dari kalangan sipil, anak-anak khususnya, cukup menyedihkan bahkan menyakitkan hati mereka yang masih punya hati. Karenanya serangan militer Amerika dan sekutunya ini memberikan “relief” (rasa legah) dan sedikit menenangkan di satu sisi.

Akan tetapi tidak disangkal pula bahwa serangan ini juga cukup mengkawatirkan di sisi lain. Berapa tidak, serangan ini memiliki konsekwensi militer global, minimal secara simbolik. Bahwa konflik Timur Tengah, termasuk Suriah yang menelan warga sipil yang tak berdosa itu, adalah eksperimen bagi kekuatan global yang sedang bertarung.

Lebih menyedihkan lagi bahwa umat Islam sejak perang Afghanistan telah menjadi bulan-bulanan percobaan persenjataan mereka yang punya kepentingan. Apalagi pihak-pihak kekuatan regional, bahkan kepentingan internal negara-negara kawasan ikut mengobarkan konflik tersebut.

Intinya, semua negara-negara yang terlibat tidak mungkin diharapakan dapat menjadi solusi. Amerika dan sekutunya, Rusia dan sekutunya, keluatan regional Saudi dan Iran adalah bagian dari masalah. Belum lagi pertarungan internal di semua negara yang terlibat konflik itu semakin mengobarkan api konflik di kawasan itu.

Peranan Indonesia

Seringkali kita dengarkan Indonesia dikenalkan sebagai berikut: negara dengan penduduk terbesar keempat dunia, demokrasi ketiga, dan negara dengan penduduk Muslim terbesar dunia.

Definisi di atas sesungguhnya belum menyampaikan defenisi menyeluruh. Apalagi jika ditinjau dari perpektif sejarah, Indonesia adalah sebuah negara yang luar biasa. Siapa yang tidak kenal gerakan-gerakan besar yang ikut menentukan wajah dunia? Dari Gerakan Non Blok (GNB) yang dimulai dari Konferensi Asia Afrika di Bandung, Oganisasi Kerjasama negara-negara Islam (OKI), hingga asosiasi negara-negara Asean, dan lain-lain. Semua itu dalam sejarahnya Indonesialah yang menjadi tulang punggunnya.

Belum lagi potensi Indonesia yang unik dari segi kekayaan alam (natural resources) dengan ragam kekayaan di darat maupun di lautan. Tentu juga potensi kehebatan sumber daya manusia (SDM) yang luar biasa.

Semua itu sesunguhnya menjadi modal besar bagi Indonesia untuk menjadi pemain global yang dapat menentukan kembali wajah dunia kita saat ini. Indonesia dengan berbagai potensi yang dimilikinya, mampu minimal memberi warna bahkan menentukan warna dunia global kita.

Tapi kenapa belum Indonesia belum juga memainkan peranan itu? Minimal suara Indonesia  itu dirindukan di saat terjadi kejadian-kejadian biadab di berbagai belahan dunia, seperti di Rohingya, Palestina, dan saat ini Suriah.

Beberapa waktu lalu saya menulis sebuah artikel sederhana dengan judul “kegalauan itu”. Kegalauan itu memang meninggi di saat menyaksikan realita Indonesia yang tidak saja belum memperlihatkan peranan signifikan di dunia global. Tapi juga negara ini relatif kurang dikenal, bahkan cenderung dipandang sebelah mata oleh sebagian bangsa lain.

Tahun ini Indonesia berusaha untuk terpilih menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan (DK-PBB) untuk dua tahun periode ke depan. Menariknya dalam pemilihan kali ini Indonesia hanya berhadapan dengan satu negara Asia, Maldives. Sebuah negara kecil dan kepulaian yang terletak di Asia Selatan. Bisakah Indonesia meyakinkan dunia agar dipilih menjadi anggota tidak tetap DK-PBB?

Jika ternyata Indonesia nantinya kalah oleh sebuah negara kecil, baik secara populasi maupun ukuran negara dan kekayaannya, maka ini akan menjadi sebuah pukulan sekaligus peringatan jika negara ini sedang kehilangan sesuatu yang pernah dibanggakan oleh sejarahnya.

Pemimpin negara

Saya merenung sejenak, mencoba mencari-cari jawaban kenapa negaraku belum dikenal, apalagi diakui peranannya oleh dunia global? Saya mencoba mencari kemungkinan jawaban (possible answer) itu sambil menikmati Nescafé (bukan Kopi. Rupanya di Saudi kata qahwah yg biasa di artikan kopi tidak mencakup Nescafé...hehe).

Apakah di saat Amerika dan Eropa, termasuk Rusia bahkan Amerika, begitu hormat kepada negara ini karena Indonesia lebih kaya? Apakah ketika itu lebih maju teknologi dan sainsnya? Apakah ketika itu telah memproduksi berbagai hal yang diperlukan oleh dunia? Atau apakah ketika itu secara ekonomi lebih maju dan secara militer lebih canggih?

Ah rasanya tidak juga. Negara ketika itu baru secara resmi merdeka di tahun 1945. Kurang dari sepuluh tahun (April 1955) Indonesia membuktikan kepemimpinannya dengan diadakannya Konferensi Asia Afrika di Bandung. Konferensi inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya asosiasi dunia terbesar kedua setelah PBB itu sendiri. Itulah GNB (Gerakan Non Blok) atau aliansi negara-negara dunia ketiga yang tidak memihak kepada salah satu dari dua super power yang sedang berperang dingin ketika itu.

Poin yang ingin saya sampaikan adalah pengakuan dunia itu tidak selalu ditentukan oleh luasnya negara atau kekayaan alamnya. Tidak juga karena jumlah penduduk atau bentuk pemerintahannya.

Saya yakin bahwa Indonesia ketika itu menjadi sangat dikenal, bahkan dihormati oleh dunia internasional, faktor dominannya karena kharisma dan kebesaran pemimpinnya.

Dengan segala kekurangannya, siapa yang tidak mengenal kehebatan, kelihaian dan kharisma Soekarno dalam merepresentasi  Indonesia di dunia internasional? Visi dan ketegasan dalam mengambil sikap menjadikan bahkan pemimpin negara-negara maju sekalipun respek kepadanya.

Saya teringat di saat saya mahasiswa di Pakistan, negara yang mungkin oleh rakyat Indonesia tidak populer. Tapi justeru di negara itu nama Soekarno begitu dihormati. Bahkan ada sebuah jalan di Karachi, ibukota Pakistan saat itu, dinamai Soekarno Street (jalan Soekarno).

Di masa di mana dunia kita saat ini penuh dengan konflik dan ketidak adilan, rasanya dunia memimpikan Indonesia untuk kembali memainkan peranan signifikannya di dunia internasional. Di saat negara-negara so called “maju” dan “kuat” termasuk Amerika dan Rusia tidak bisa menyelesaikan konflik dunia, bahkan menjadi bagian dari masalah, masanya Indonesia  mengulangi kebesaran dan kehebatan masa lalunya.

Masanya Indonesia untuk kembali membangun “izzah” (self dignity) dengan menampilkan peranan besar dalam upaya membangun perdamaian dunia itu. Saya yakin, upaya-upaya membangun perdamaian dunia itu tidak saja untuk untuk tujuan dihormati. Tapi yang terpenting adalah bahwa hal itu adalah amanah konstitusi negara.

Menjerit hati putra putri bangsa melihat sesama bangsanya dikenal di luar negeri, di Saudi Arabia di mana saya sekarang berada sebagai bangsa pekerja kasar. Sekaligus sungguh menyakitkan ketika negara ini dikenal luas oleh dunia luar sebagai tukang utang. Apapun alasannya dan untuk tujuan pembangunan apapun, ketika kehormatan tergadaikan akhirnya sangat menyakitkan dan menghinakan.

Oleh karenanya sebagai salah seorang putra bangsa, dari Mekah ini yang doa dekat diijabah, I was imagining (saya berimajinasi) Indonesia di hari-hari ini dan tahun-tahun mendatang kembali kuat, berkharisma, bahkan memiliki peranan yang menentukan dalam dunia global.

Mungkin secara materi tidak sehebat negara maju Amerika maupun Eropa. Mungkin secara militer tidak sehebat dua negara kuat, Amerika dan Rusia. Tapi sejarah membuktikan bahwa kepemimpinan global bisa dilakukan bukan dengan semua itu. Melainkan sosok pemimpin yang visioner, berkharisma, punya ketegasan pendirian, percaya diri, berani, dan memiliki kapabilitas mumpuni.

Memasuki masa-masa pemilihan saat ini harusnya bangsa ini semakin sadar dan pintar untuk menentukan pemimpin harapan itu. Apakah memang dari 250-an kita penduduk negeri ini tidak ada putra/putri bangsa yang kira-kira akan membanggakan bangsa di gelannggang global?

Saya yakin ada,  bahkan banyak. Tapi masanya bangsa Ini memiliki dirinya sendiri. Tidak dibentuk oleh opini dan pencitaraan yang dibangun oleh mereka yang punya kepentingan. Independensi bangsa dalam memilih akan melahirkan pemimpin yang juga memiliki kepribadian independen. Bukan pemimpin yang terkendalikan oleh kepentingan-kepeningan, baik dalam maupun luar negeri. Semoga!

 

* Presiden Nusantara Foundation

 

Category: 
Loading...