20 June 2018

Gerindra Cabut Dukungan Deddy Mizwar-Ahmad Syaikhu, PKS Harus Perbaiki Komunikasi

KONFRONTASI -  Pengamat politik sekaligus Guru Besar Universitas Katholik Parahyangan, Asep Warlan Yusuf, berkomentar soal sikap Partai Gerindra yang mencabut dukungan untuk pasangan Deddy Mizwar-Ahmad Syaikhu.

Menurut Asep, pencabutan dukungan yang disampaikan Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Barat, Mulyadi, bisa bertujuan memberi peringatan kepada pasangan tersebut dan partai pengusungnya.

Kemungkinan lain bertujuan untuk menguji reaksi pihak lainnya.

Asep Warlan Yusuf mengatakan dalam hal ini, Deddy Mizwar pun dianggap kurang aktif dalam menjalin komunikasi politik dengan partai pengusungnya tersebut, terutama dengan pengurus Partai Gerindra di tingkat Jawa Barat.

Padahal seharusnya, bersama DPD Partai Gerindra Jawa Barat, Deddy Mizwar merumuskan dan melakukan langkah-langkah politik menuju pemenangan Pilgub Jabar 2018.

Menurut Asep, Deddy Mizwar tidaklah salah jika memegang komitmen Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang menyatakan mengusung dirinya jadi calon gubernur Jawa Barat.

Baca: Edan! Jam Tangan Syahrini ini Harganya Puluhan Miliar Rupiah, Netizen: Saya Stroke Mendadak

Selanjutnya, Deddy Mizwar pun tidak bisa hanya diam dan tenang tapi harus merangkai komunikasi yang baik dan intens dengan Gerindra, tidak hanya menunggu surat keputusan keanggotaan sebagai kader Partai Gerindra diterimanya.

"Deddy Mizwar sebagai incumbent kepala daerah memang punya cara komunikasi politik tersendiri. Dia bisa langsung berkomunikasi dengan partai di tingkat DPP, dengan ketua umum partainya langsung. Tidak seperti calon yang dari level biasa, harus dari bawah dulu," kata Asep Warlan Yusuf, Selasa (12/9/2017).

Asep Warlan Yusuf mengatakan Deddy Mizwar pun selanjutnya harus semakin intens berkomunikasi dengan DPD Partai Gerindra Jawa Barat.

Selama ini partai di tingkat DPD pun menjadi penentu kemenangan dalam pilkada, tidak cukup hanya restu yang didapat dari tingkat pusat.

"Pak Mulyadi memperingatkan Deddy Mizwar untuk lebih aktif berkomunikasi, tapi bisa juga ini strategi untuk melihat reaksi pihak atau partai lain seperti apa. Bisa saja orang jadi berpikir kalau Gerindra dan PKS saja bisa begini, apalagi Golkar dengan PDIP," katanya.

Mengenai ungkapan Mulyadi yang menyatakan kemungkinan kecil mengusung Ahmad Syaikhu kembali, katanya, membuat berbagai kemungkinan bisa terjadi selanjutnya, dengan kata lain pengusungan pasangan ini kembali cair.

"Tapi harusnya Pak Mulyadi mengerti, yang diusung PKS itu adalah yang dicalonkan partai, bukan mencalonkan diri. Ahmad Syaikhu dalam hal ini adalah nama yang disetujui internal PKS menjadi calon. Dalam Pemira (Pemilihan Raya), artinya Syaikhu ini posinya diberi tugas untuk menjalani Pilgub. Tapi ya seharusnya Syaikhu ini tidak berbicara kalau dirinya belum dikenal banyak masyarakat Jabar," katanya.

Menurut Asep, Syaikhu dan Netty Prasetyani Heryawan muncul menjadi nama yang diusung PKS pada Pilgub Jabar 2018 melalui Pemira.

Baca: Sekjen PSSI Imbau Suporter Tak Bawa Pesan di Luar Isu Sepakbola ke Stadion

Setelah mengusung Syaikhu, PKS bekerja untuk meningkatkan elektabilitas dan popularitasnya.

Namun jika ternyata kedua modal dalam Pilgub tersebut tidak kunjung meningkat signifikan, bisa saja terjadi perubahan nama yang diusung.

"Bisa saja mengusung nama lain dari PKS, atau dari partai lain yang ikut berkoalisi nantinya. PKS pun dalam hal ini harus mengubah gaya komunikasinya dengan Gerindra. Kedua partai ini, harus bisa saling meyakinkan dan menasehati untuk memenangkan pemilihan. Harus lebih intens," katanya.

Pengusungan pasangan yang berlanjut dengan ujaran pencabutan dukungan, kata Asep, adalah sebuah model transaksi politik, gaya negosiasi, dan manuver politik. Semuanya berujung pada tujuan mengingatkan atau menguji reaksi sejumlah pihak."Di Pilgub DKI Jakarta lalu, ada yang awalnya bilang tidak mungkin mendukung Ahok. Bilang Ahok sombong dan antipati tapi ternyata pada akhirnya, partai ini mengusung Ahok. Hal ini bukan tidak mungkin terjadi di Pilgub Jabar 2018. Semua pun masih bisa berubah, masih cair sampai pendaftaran di KPU," katanya.(Jf/Trbn)

Category: 
Loading...