Gamawan Fauzi Ingatkan Sumbar Belajar Pembangunan dari Singapura dan Bhutan

KONFRONTASI -   Mantan Menteri Dalam Negeri RI Gamawan Fauzi mengingatkan pemerintah daerah Sumatra Barat (Sumbar) belajar konsep pembangunan ke negara Singapura dan Bhutan. Ia menilai negara tersebut konsisten mengoptimalkan kelebihan dan mengeliminasi kelemahan yang ada untuk memajukan daerahnya.

 

“Pembangunan bukanlah mengambil atau memindahkan sebuah konsep dari negara atau daerah yang sudah terbukti maju dan memindahkan ke Sumbar namun harus disesuaikan dengan kondisi yang kita miliki,” kata Gamawan dalam Rapat Paripurna Istimewa HUT Sumbar ke-75 di Padang, Kamis, (1/10/2020).

Ia mengatakan setiap daerah memiliki kondisi, situasi, potensi, peluang, tantangan dan hambatan yang berbeda. Sumbar dapat menarik pelajaran dari Singapura dan Lee Kuan Yew. Mantan Perdana Menteri Singapura itu saat muda dan baru menamatkan sekolah di Inggris lalu melakukan analisa yang sungguh-sungguh bagaimana cara memajukan Singapura.

Menurut Gamawan Lee belajar dari New York sebagai kota bisnis terbesar di dunia dan Frankrut sebagai kota perbankan di Eropa. Kemudian Singapura merumuskan kebijakan dimulai dari industri perbankan dan perdagangan dengan memperbaiki kekurangan model perbankan dan bisnis perdagangan.

“Singapura konsisten dengan konsepnya sehingga memetik hasil seperti sekarang,” katanya.

Ia menilai sejak awal orde baru Sumbar yang memiliki Kota Padang sebagai ibu kota tidak semegah ibu kota provinsi lain, namun hal itu bukan segalanya, karena tujuan pembangunan kalau kemegahan maka akan ada bangunan besar seperti hotel, perkantoran dan gedung-gedung. Padahal itu bukan milik masyarakat setempat.

Apabila pusat perbelanjaan, hotel, tempat hiburan yang berskala besar tidak dimiliki masyarakat Sumbar maka uang yang dihasilkan  akan mengalir kepada pemilik modal yang ada di luar Sumbar bahkan ditarik ke luar negeri.

Kebijakan melarang minimarket dari luar yang dilakukan saat ini menurutnya sudah tepat karena semua dimiliki masyarakat Sumbar, sehingga membuat uang beredar dan dinikmati masyarakat Sumbar.

“Saya merasa bangga dan banyak masyarakat luar Sumbar yang kagum karena di sini tidak tumbuh mini market yang punya jaringan internasional, namun lokal yang dikelola masyarakat. Ini bukan diskriminatif tapi kebijakan melindungi usaha ekonomi lokal,” kata dia.

Menurut mantan Gubernur Sumbar itu, hal yang perlu dilakukan adalah memberikan kemudahan bagi pengusaha lokal dan mengajak para perantau yang bermodal kuat berinvestasi di Sumbar. Selain itu ia mengajak pemerintah daerah belajar ke sebuah negara kecil Bhutan yang menjaga nilai tradisi mereka. Negara yang berada diantara India dan China ini terdiri dari hutan dan bukit serta berlembah yang dipelihara kelestarian hutannya.

Dalam kesehariannya masyarakat Bhutan selalu menggunakan pakaian tradisional namun mereka tidak menutup diri dari teknologi dan modernisasi. Hal ini berdasarkan pengalamannya yang sudah pernah berkunjung kesana. Kemajuan sebuah negara dapat diukur juga dari tingkat kebahagiaan warganya.

“Kemajuan teknologi dan modernisasi tidak mendegradasi nilai tradisi mereka dan negara ini menjadi negara dengan index kebahagiaan tertinggi di Asia,” katanya.

Gamawan menilai, Sumbar akan selalu menghadapi tantangan yang berat dalam memelihara tradisi dan nilai luhurnya. Masyarakat Sumbar memiliki tradisi bersekolah dan terbuka pada kemajuan namun kemajuan tidak boleh bertentangan dengan nilai agama dan adat.

” Kita buang yang buruk dan terima yang baik sehingga kemajuan diraih sebagai berkah ilmu pengetahuan dan wawasan luas dalam landasan iman yang kuat,” katanya. (Jft/LANGGAM.ID)

 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...