21 June 2018

Erros Djarot: Yang Salah Memilih Jokowi, Akibatnya Negara Nyaris Hancur Begini

KONFRONTASI -  

"Sejak dia (Jokowi) terpilih saya sudah bilang kok. Bagaimana penduduk Indonesia yang banyak profesor kelas-kelas atas orang yang baru beberapa (tahun jadi Walikota) Solo, satu setengah tahun jadi Gubernur (Jakarta), tiba-tiba jadi presiden," kata Erros di Jakarta, Selasa (22/5).

Erros menjadi pembicara dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Komite Nasional Rakyat Indonesia Menggugat (Komnas RIM) bekerjasama dengan Indonesia Law Enforcement Watch (ILEW) dalam rangka refleksi 20 tahun reformasi total dengan tema 'Reformasi Total - Gagal Total'.

Hal itu dia ungkapkan menanggapi peryataan sang moderator, advokat sekaligus pendiri Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Nusantara, Effendi Saman yang mengatakan bahwa pihaknya menginisiasi gerakan #2019GantiPresiden karena merasa Jokowi tak mampu mewujudkan janji-janji kampanye saat Pilpres tahun 2014 lalu.

"Apa salahnya? Yang salah yang milih. Yang salah yang berharap banyak. Kenapa, dia udah pasti ga mampu," tegas mantan fungsionaris PDI Perjuangan ini.

"Makanya orang-orang kayak saya menolong dia. Kenapa karena dia pilihan rakyat. Itu aja. Kalau dia ga dipilih oleh rakyat ngapain kita bantu ramai-ramai. Iya kan. Hanya karena dia dipilih rakyat," lanjutnya.

Untuk itu, adik kandung dari aktor Slamet Rahardjo Djarot ini berpesan ke depan, rakyat Indonesia jangan lagi salah memilih. Presiden harus dipilih karena memiliki pemikiran yang jelas, untuk merubah nasib bangsa ini ke arah yang lebih baik.

"Besok lagi kalau mau ganti presiden, tolonglah berikan edukasi yang benar. Jangan karena tidak suka dengan Jokowi ganti yang satu tapi sama juga," tandasnya. [KONF/RMOL]

Category: 
Loading...