22 November 2019

Disesalkan Publik, Survei- Survei Makin Manipulatif dan Tidak Kredibel

KONFRONTASI- Masyarakat tidak percaya lagi dengan survei-survei 9 lembaga survei atau lebih, termasuk Kompas, LSI, dan segenap lembaga lain yang selalu unggulkan Jokowi ( ada sekitar 9-15 lembaga survei). Semua itu jelas survei bayaran dan tidak lebih dari propaganda  dan kamuflase untuk menangkan Jokowi pada Pilpres 2019.  Sebab Prabowo sudah mengalahkan dan menyalip elektabilitas Jokowi. Para aktivis pergerakan dan analis menilai, kredibilitas Lembaga Survey, termasuk Kompas dipertanyakan dan disesalkan oleh  publik karena makin tak kredibel dan manipulatif. Demikian pandangan pengamat politik Muslim Arbi, yang juga mantan aktivis ITB.
 Survei-survei pro-Jokowi itu jelas tidak bisa dipercaya dan tak kredibel karena tidak jurdil, tak transparan dan hanya melegitimasi secara kasar agar Jokowi dua periode meski periode pertama Jokowi gagal,kobrut dan tidak kompeten sama sekali. Survei itu secara moral-etis  bodong karena bau sangit propaganda dan pencitraan konyol, padahal Jokowi gagal ekonomi dan ratusan industri bangkrut atau mati sementara pengangguran meluas, daya beli rakyat ambruk dan ekonomi terpuruk. ''Bahasa inggris Jokowi sangat  buruk dan kosa katanya asal ngomong, mencla-mencle, mana bisa Jokowi mikir memecahkan masalah bangsa yang sangat kompleks, mana gagasannya? Janganlah membohongi rakyat dan membodohi rakyat, karena  itu menghancurkan demokrasi dan bangsa kita sendiri, bakal hancur Indonesia,'' kata Muslim Arbi, mantan aktivis HMI ITB.

Hasil gambar untuk muslim arbi
. Nyaris semua lembaga survey, kecuali 2-3 lembaga, salah  ramalan 16-18%,  6x Margin of Error. Contoh : bahwa PDIP calonkan JKW, PDIP akan naik ke 35% (kenyataan 18%). Ahok akan menang (selisih perkiraan 18%). Artinya: kalau perkiraan 3-6x Margin of Error, pasti bayaran dan tidak ilmiah. Jika ikuti kaidah survey yang benar, pasti dekati Margin of Error. Bayaran, artinya, polling hanya alat kampanye, jangan dijadikan basis perkiraan. Untuk pertanyaan sosial dan ekonomi, umumnya masih wajar, tidak terlalu manipulatif. Tapi soal elektibilitas capres dalam survei itu, kebanyakan manipulatif.
Termasuk survey Ahok pasti menang 2-3%, kenyataannya kalah 16%. Selisih 18-19%, 8 kali margin of error. Propaganda !
Kalau kita rajin, gaul dengan semua lingkungan, atas-tengah-bawah, ajukan pertanyaan secara random. Hasilnya pasti lebih akurat. Itulah yg sering kami lakukan, hasilnya mendekati kenyataan. Kami benar tahun 2009, PDIP 16 % dan 2014 sekitar 18%. Dan Ahok pasti kalah, karena core diehardnya hanya 20%. Dapat 42% karena dukungan all out negara dan aparat, nyaris semua media mainstream dan taipan sudah berpihak ke Jokowi.

‘”Survei-survei 9 lembaga survei atau lebih, termasuk Charta Politika, LSI Denny JA, Saeful Mujani Consultin, Indikator Indonesia dan Kompas, yang selalu unggulkan Jokowi, tidak dipercaya publik. Itu penilaian masyarakat yang tak mau dicekoki survei-survei lagi karena hanya propaganda dan penggiringin opini agar memihak Jokowi yang sudah gagal lima tahun ini. Ini jelas survei sesat,’’  kata mantan pimpinan KPU Bennie Akbar Fatah dan Edy Mulyadi, Direktur Centre for Centre for Democracy and Economis Studies.
Survei-survei 9 lembaga survei itu, kata Bennie maupun Edy, jelas survei bayaran, tak kredibel, manipulatif dan tidak lebih dari propaganda untuk menangkan Jokowi pada Pilpres 2019.  Sebab PRabowo sudah mengalahkan dan menyalip elektabilitas Jokowi. Survei pro-Jokowi itu jelas tidak bisa dipercaya dan tak kredibel karena tidak jurdil, tak transparan dan hanya melegitimasi secara kasar agar Jokowi dua periode meski periode pertama Jokowi gagal,kobrut dan tidak kompeten sama sekali. (berbagai sumber/KF)

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...