Demo Mahasiswa, RUU Bermasalah dan Papua, sebagai titik kulminasi Terkoyaknya Rasa Keadilan Rakyat.

Catatan Teuku Syahrul Ansari, Kandidat DOktor FH Undip, Semarang

Kejadian soal beberapa RUU dan  Papua, sebagai titik kulminasi terkoyaknya rasa keadilan rakyat. Pada saat yang sama kepercayaan publik pada pemerintah juga luluh lantak. Pada konflik bertikal dan bahkan horizontal yang terjadi, tidak bisa begitu saja pulih, tanpa upaya yang sitemik dan sistematis utk mengobatinya. Ini bukan semata soal politik praktis, tapi jauh di atasnya. Pada kesadaran berbangsa. Urat dalam dari peristiwa ini adalah korupsi, yang tak kunjung akhir.

Dan ini memicu tidak hanya hilangnya kepercayaan rakyat banyak, tetapi juga saling tricky di seputar kekuasaan, karena perubatan kekuasaan dannresources yang bisa di dapat. Teori yang sangat lama menyebutkan bahwa, "tidak akan terjadi kerusuhan dan konflik rakyat jika elit tidak sedang tawuran". Kelakuan elit akan tercermin pada pola rakyat. Ini menggelayuti sisi sisi hukum, ekonomi dan politik yang menciptakan prilaku brutalitas, elit juga akar rumput. Tiga sisi tadi memang mengalami penurunan kualitas saat2 begini. Semua bisa menjadi frustasi. Politik hukum, mencoba menjepit rakyat dengan pengaturan sampai ke ranjang dan selangkangan yang tdk seauia dengan nilai2 yang ada, yg berdasarkan Pancasila, termasuk namun tidak terbatas pada memberikan tempat pada yang terhormat pada LGBT, sebagai sebuah misal, telah memperok porandakan rasa adil. Sementara itu di elit, pada prilaku korup yang meraja lela, seperti diproteksi dan diringan2kan.

Sementara itu, lehidupan ekonomi semakin mencekik, naiknya harga2, frustasi pada masa depan pelajar dan mahasiswa setelah lulus nanti,      pertumbuhan ekonomi yang baik dan stabil tdk bisa ditampakkan oleh kemampuan tekhnokratik elit utk menciptakan harapan baru yang bisa disongsong. Pada aras politik, Papua sbg puncak yang mengguncang, adalah tumpukan sikap "rasialisme" elit, pada soal agama dan suku, yang memang tertanam sejak beberapa tahun menjelang tahun politik. Kesannya, kepongahan dan tidak terukurnya serta tidak terstrukturnya penyelesaian masalah2 mendasar pada hukum, ekonomi dan politik bisa menghasilkan chaostic, sejak dari cara berfikir kita sampai ke prilaku. Saya rasa, sekarang kita terdesak oleh waktu dan keadaan.

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...