21 February 2018

Demi Dignity, Wajar dan Masuk Akal kalau Puan Maharani dicalonkan PDIP sebagai Wapresnya Jokowi, kata Herdi Sahrasad dan Syahroni

KONFRONTASI- Adanya aspirasi dan kehendak kalangan PDIP untuk mengajukan  Puan Maharani jadi calonWaprs Presiden Jokowi itu wajar, rasional dan demi dignity PDIP sendiri. Soal menang-kalah,  itu hal biasa dalam laga pemilu dan pilpres pasca Orde Baru Soeharto. Namun hendaknya Jokowi menyadari bahwa martabat (dignity), aspirasi dan kepentingan serta kehendak warga PDIP mencalonkan Puan Maharani  merupakan hal yang wajar dan lumrah serta masuk akal.

Demikian pandangan  peneliti senior  PSIK Universitas Paramdina Herdi Sahrasad dan Sekjen Humanika Syahroni. Menurut kedua pengamat itu, peluang Joko Widodo memenangi Pilpres 2019  tetap terbuka jika nantinya menggandeng Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, sebagai calon wakil presiden. Joko Widodo-Puan Maharani diyakini bisa menjadi pasangan yang cocok jika nanti maju sebagai calon presiden dan calon wakil presiden pada Pemilihan Presiden 2019 mendatang.

Hasil gambar untuk syahroni humanika  Hasil gambar untuk herdi sahrasad

Syahroni      dan herdi sahrasad

‘’Soal menang kalah itu hal biasa, tergantung momentum, kemampuan dan sumber daya untuk memenangkan Pilpres saja.  Hemat kami, Puan Maharani berhak dan sangat representative kalau jadi calon wapres Jokowi. Namun Puan mendapat saingan dari  Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Menkeu Sri Mulyani  yang juga ingin jadi cawapres Jokowi,’’ kata Syahroni, aktivis prodemokrasi lulusan UIN Jakarta.

Menurut Herdi, ketokohan dan elektabilitas ‎merupakan faktor penting yang harus diperhatikan  Jokowi dan siapapun capresnya dalam menetapkan siapa nantinya calon wakil presiden yang akan mendampinginya. Karena tidak mungkin hanya mengandalkan ketokohan dan elektabilitas Jokowi dan capres lain semata, sebab Jokowi dan capres lain juga butuh parpol pengusung dan sumber daya financial maupun social,’’ ujar peneliti senior PSIK Universitas Paramadina itu.

‘’ Soal menang- kalah itu tergantung suara rakyat dan itu soal biasa. Persoalannya, kalau sampai PDIP ajukan Puan, dan Jokowi menolak, saya khawatir terjadi keretakan antara Puan/Megawati/PDIP dan Jokowi sebab itu menyangkut aspirasi, dignity dan pride bagi  partai Banteng. Saya melihat keinginan warga Banteng itu wajar, logis dan lumrah serta proporsional dan terukur,’’ ujar Herdi Sahrasad, aktivis pergerakan kebangsaan bersama seniornya Ir Suko Sudarso (mantan Ketua Komandan Barisan Soekarno).

Yang penting, kata Herdi,  pilpres berlangsung jurdil, damai  dan bermartabat sehinga siapapun pemenangnya, tetap rendah hati dan pihak yang kalah tidak  dendam dan sakit hati. (fh)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...