Cadangan Devisa RI US$117,9 M, Terendah Sejak Januari 2017

KONFRONTASI -  Bank Indonesia (BI) merilis data terbaru perkembangan cadangan devisa per Agustus 2018. Pada data tersebut, cadangan devisa berada di posisi US$117,9 miliar atau turun US$410 juta dari periode sebelumnya. Ini merupakan yang terendah sejak Januari 2017.  

 

Sementara dibandingkan dengan Agustus 2017, cadangan devisa turun hingga US$10,88 miliar atau 8,44%. Penurunan devisa seiring dengan langkah BI dalam melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah.


Sepanjang Agustus 2018, rupiah telah terdepresiasi 2,15%. Posisi rupiah melemah hingga 310 poin dari Rp 14.415/US$ di akhir Juli 2018, menjadi 14.725/US$ di akhir agustus 2018.  

Tertekannya rupiah seiring dengan kuatnya sentimen negatif dari eksternal dan internal.


Dari eksternal, sinyal bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve/The Fed, kembali menaikkan suku bunga acuan untuk ketiga kalinya cukup kuat. Ini seiring rilis data inflasi inti bulan Agustus 2018 yang sebesar 2% atau mencapai target yang ditetapkan oleh The Fed.  

Untuk mencegah perekonomian Negeri Paman Sam dari overheating, mau tidak mau The Fed harus menaikkan kembali suku bunga acuan.

Sebagai informasi, The Fed sudah menaikkan suku bunga acuan hingga 50 basis poin sejak awal tahun. Sinyal hawkish yang kembali ditunjukkan, menyebabkan mata uang negara-negara global termasuk rupiah tertekan.  

Tidak hanya itu, faktor global lain seperti anjloknya mata uang negara-negara berkembang juga ikut mempengaruhi pelemahan rupiah.

Lira Turki dan Peso Argentina, merupakan beberapa mata uang yang mengalami depresiasi hingga lebih dari 30%. Anjloknya mata uang negara-negara tersebut, memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas keuangan global. Akibatnya, aliran modal asing cenderung keluar dari negara-negara berkembang termasuk Indonesia.


Sementara dari sisi fundamental, rilis data inflasi bulan agustus yang mengalami deflasi sebesar 0,05% rupanya tidak membawa dampak baik. Pasalnya investor membaca situasi ini, sebagai penurunan daya beli masyarakat.

Akibatnya, aliran modal asing tidak terlalu deras masuk ke Indonesia. Dengan situasi ini, rupiah pun tidak memiliki pijakan untuk menguat selama Agustus 2018. Akibatnya BI harus kembali merogoh devisa guna menstabilisasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.     (Juft/CNBC)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...