Bom Waktu itu Bernama Coronavirus: Apa yang Kita dan Pemerintah Harus Lakukan?

KONFRONTASI -  Dunia telah dihebohkan oleh pandemi dari infeksi Coronavirus COVID19. Sampai hari ini 14 Maret 2020 terdapat 142,897 terinfeksi COVID19 dan kematian sebanyak 5,375 orang.

 
Di Indonesia, per 13 Maret 2020 telah dilaporkan terdapat 69 kasus infeksi COVID-19 dengan kematian sebanyak 4 orang. Angka ini melonjak drastis dari 34 kasus di tanggal 12 Maret 2020
 
Dengan penyebarannya yang begitu cepat dengan kecepatan ekponensial, bertahap dan tiba tiba, apabila kita tidak segera bertindak, maka hanya dalam beberapa minggu saja sistem kesehatan kita akan kewalahan dan babak belur.
 
 
Ketika hal tersebut terjadi, sistem kesehatan kita akan kacau balau, pasien akan dirawat di lorong-lorong karena kapasitas yang tidak memadai. Petugas kesehatan mulai kelelahan, bahkan ikut terinfeksi dan meninggal dunia.
 
 
Bisa jadi nanti ruangan ICU dan isolasi akan penuh, sehingga pasien lain tidak dapat terlayani karena kurangnya fasilitas sehingga beresiko lebih tinggi untuk meninggal dunia.
 
Namun, kita juga cukup dibuat kesulitan untuk membuat keputusan tentang apa yang harus kita lakukan saat ini dalam menghadapi pandemi tersebut
 
Pada artikel ini saya akan membahas dengan grafik, data, dan model dari berbagai sumber sumber untuk menjawab
 
• Berapa banyak kasus virus corona di dunia dan perkiraan pertumbuhannya, khususnya di ASEAN dan Indonesia
 
 
• Apa saja potensi peristiwa yang akan terjadi ketika model ini terwujud?
 
 
• Apa yang harus kita lakukan?
 
 
 
1. Berapa kasus COVID-19 yang akan terjadi di Dunia & Indonesia?
 
 
image.png

Total Kasus Coronavirus Dunia

Pertumbuhan kasus coronavirus di China terbukti terjadi secara eksponensial, dari kurang dari 10 kasus di 22 Januari 2020 hingga dideteksi terdapat hampir 50 ribu kasus di tanggal 11 Februari 2020. Selanjutnya tren eksponensial ini berlanjut ketika virus sudah menyebar ke negara lain dan mengakibatkan total infeksi mencapai hampir 125 ribu orang terinfeksi per 10 Maret 2020. Data tanggal 14 Maret menunjuukkan 142,897 orang telah terinfeksi COVID 19
 
 
image.png

Tren kasus COVID-19 di luar China

Tren kasus COVID-19 di luar China, per 10 Maret 2020 kasus diluar China telah mendekati 40 ribu kasus.
 
 
image.png

Kasus COVID-19 di luar China berdasarkan negara

Pada gambar diatas dapat dilihat bahwa kontributor utama kasus di luar China adalah Italia, Korea Selatan dan Iran. Sedangkan untuk tren di negara-negara lain di kanan bawah adalah sebagai berikut
 
 
image.png

Kasus COVID-19 di luar China selain Itali, Korea, Iran

Selanjutnya, untuk tren di ASEAN adalah sebagai berikut
 
 
image.png

Tren COVIC 19 di ASEAN

Dari grafik tersebut, didapatkan bahwa tren kenaikan eksponensial dari kasus coronavirus di berbagai negara di luar china, baik di negara barat maupun ASEAN, termasuk Indonesia
 
 
image.png

Pertumbuhan kasus COVID 19

Grafik di atas menunjukkan pertumbuhan jumlah kasus di beberapa negara, dimana negara yang melebihi garis threshold merah disimpulkan mengalami kenaikan jumlah kasus sebanyak 2x lipat tiap dua hari.
 
 
image.png

Pertumbuhan COVID 19 di Indonesia

Rata-rata data pertumbuhan kasus di Indonesia berdasarkan data kemenkes selama 11 hari ini adalah 49% kasus perhari.
 
 
Artinya Indonesia masuk dalam kasus yang di atas treshold yang kasusnya akan berlipat menjadi dua kali tiap dua hari.
 
 
 
Selanjutnya, berkaca dengan tren eksponensial yang terjadi di berbagai negara. Maka didapatkan hasil regresi eksponensial kasus di Indonesia sebagai berikut
 
 
image.png

Kurva eksponensial COVID19 berdasarkan data saat ini

Dengan asumsi pertumbuhan ekponensial, maka didapatkan berikut adalah prediksi kasus yang akan terjadi di beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia
 
 
image.png

Prediksi COVID 19

image.png

Prediksi COVID-19 di Indonesia berdasarkan exponential model

tabel covid.png

Tabel Prediksi COVID-19 di Indonesia berdasarkan exponential growth

Dari model prediksi ini, dapat dilihat bahwa pada hari ke 40 setelah pengumuman kasus pertama, diperkirakan bahwa COVID-19 akan menginfeksi lebih dari 1 juta orang di Indonesia (1.281.469 orang) yang diperkirakan terjadi menjelang bulan puasa.
 
 
(Update: Per 14 Maret 2020, hari ke 13 dari infeksi diumumkan bahwa kasus menjadi 96 orang, dalam tabel prediksi di atas adalah 81, Per 15 Maret 2020, kasus menjadi 117, diprediksi 116. Untuk hari selanjutnya silahkan model ini dicocokkan dengan pengumuman dari pemerintah)
 
 
Hal ini menunjukkan bahwa apabila kita tetap diam dan tidak melakukan apa-apa dalam kejadian ini, infeksi akan menyebar dengan cepat dan membawa bahaya yang signifikan bagi jutaan orang Indonesia
 
 
 
2. Bagaimana Negara mengendalikan Covid-19?
 
 
image.png

Tomas Pueyo analysis over chart from the Journal of the American Medical Association, based on raw case data from the Chinese Center for Disease Control

Chart 7 menunjukkan tren kasus COVID 19 di Wuhan.
 
 
Dimana warna orange menunjukkan jumlah kasus yang telah tegak didiagnosis dan di umumkan pemerintah China. Sedangkan warna abu abu adalah kasus pasien telah terinfeksi namun belum di diagnosis.
 
 
Pada tanggal 21 Januari, jumlah kasus baru yang telah tegak diagnosisnya mencapai 100 orang. Padahal, kenyataannya ada lebih dari 1,500 pasien baru yang terinfeksi namun masih dalam masa inkubasi dan belum dilakukan pengecekan. Hal ini sangatlah berbahaya karena 1,500 pasien tersebut baru akan diketahui diagnosisnya 7-14 hari setelahnya. Oleh karena itu, tanggal 23 Januari 2020 pemerintah China menutup Wuhan dan sehari setelahnya menutup 15 kota lainnya.
 
 
Sejak diberlakukan lockdown, tanggal 27 Januari 2020 kasus baru mulai turun. Hingga akhirnya angka infeksi baru turun dari 2500 menjadi kurang dari 500 di tanggal 11 Februari 2020.
 
 
Konsep inilah yang paling penting untuk memahami dampak dari lockdown terhadap penyebaran virus. Dengan hasil pencegahan pertumbuhan infeksi yang nyata. Hal ini juga dapat dilihat di kota lain di China selain Hubei dalam grafik berikut
 
 
image.png

Hambatan pertumbuhan COVID-19 di China dibanding negara lain

Pada chart 8 dapat dilihat bahwa di awal mula kasus COVID19 ditemukan, pertumbuhannya eksponensial. Ternyata lockdown beberapa kota di China di akhir januari berhasil mencegah penyebaran virus dan tidak ada pertumbuhan eksponensial. Berbeda dengan Korea selatan, Itali dan Iran yang pertumbuhannya justru melebihi kota lain di China.
 
 
 
3. Berapa perkiraan kasus yang sebenarnya terjadi?
 
 
image.png
Bagaimana menghitung jumlah perkiraan kasus yang terjadi? Terdapat dua metode yakni memperkirakan jumlah kasus nyata berdasarkan temuan yang didiagnosis positif, maupun memperkirakannya dengan temuan kematian.
 
 
Perkiraan pertama adalah dengan temuan diagnosis positif dibandingkan kasus sebenarnya. Dari chart 9 dapat dihitung bahwa semua kasus infeksi yang positif (total bar warna orange) yang terjadi sampai tanggal 22 Januari 2020 adalah 444 kasus (sebelum diberlakukan lockdown), padahal kasus yang sebenarnya adalah 12.000 kasus. Artinya kasus sebenarnya terjadi adalah sebanyak 27x lipat dari kasus yang telah positif dan diumumkan
 
 
image.png

Kasus dan Mortalitas COVID 19 di Washington

Metode selanjutnya adalah dengan menghitung jumlah kematian dibandingkan dengan jumlah kasus yang sebenarnya. Dapat kita lihat dari perkembangan grafik di Washington.
 
 
Negara Bagian Washington adalah Wuhan AS. Jumlah kasus di sana tumbuh secara eksponensial. Per 8 Maret terdapat 140 kasus. Uniknya, ada satu county yang memiliki kematian satu dari tiga kasus yang artinya kematiannya 33%. Padahal rata-rata di negara lain 0,5-5%. Kenapa hal ini bisa terjadi?
 
 
Ternyata virus ini telah menyebar namun tidak terdeteksi selama berminggu-minggu. Namun, karena tidak dilakukan screening besar-besaran, hanya terdapat 3 kasus yang terdeteksi dan hanya kasus dengan gejala yang berat, dengan satu kasus meninggal dunia.
 
 
Dari sini, dari angka kematian dapat diperkirakan jumlah kasus yang sebenarnya. Menurut data dari didapatkan bahwa hari dari kasus pertama kali infeksi hingga kematian adalah 17,3 hari. Hal ini menunjukkan bahwa di Washington, kematian pada 29 Februari 2020 sebenarnya diawali infeksi di tanggal 12 Februari 2020
 
 
Dengan asumsi tingkat kematian berdasarkan kasus yang sebenarnya 1%. Hal ini menunjukkan bahwa diperkirakan tanggal 12 Februari 2020 sebenarnya ada 100 kasus (yang hanya satu yang berakhir dengan kematian 17,3 hari kemudian).
 
 
Selanjutnya, didapatkan bahwa kasus COVID 19 dapat menjadi dua kali lipat tiap 6.2 hari. Maka didapatkan koefisiensi perkalian kasus dalam 17 hari menjadi
 
 
x = 2 ^ (17/6)
 
 
x = 2 ^3 = 8x lipat
 
 
Artinya dalam 17 hari dari orang tersebut terinfeksi sampai meninggal, kasus telah berlipat ganda menjadi 8x lipat. Artinya apabila tidak semua kasus terdiagnosis, satu kematian hari ini menggambarkan 800 kasus yang sebenarnya terjadi hari ini.
 
 
Dari kedua metode prediksi ini, tidak satu pun dari pendekatan ini yang sempurna, tetapi semuanya menggambarkan kesimpulan yang sama. Kita tidak tahu jumlah kasus yang sebenarnya, tetapi kasus yang sebenarnya jauh lebih tinggi daripada yang telah dirilis resmi. Dimana kasus sebenarnya bisa puluhan bahkan ratusan kali lipat dari yang telah di umumkan.
 
 
Misal apabila kedua model tersebut diterapkan di Perancis. Yang saat ini terdapat 1400 kasus dan 30 kematian, maka:
 
 
Berdasarkan metode prediksi dari kasus terdiagnosis = 27x1400= 37.800
 
 
Berdasarkan metode prediksi dari kasus kematian = 800x30= 24.000
 
 
Dengan demikian, maka diperkirakan kasus di Perancis saat ini berkisar antara 24.000-37.800 kasus!
 
 
Bagaimana dengan di Indonesia?
 
 
Per 13 Maret 2020, dilaporkan bahwa terdapat 69 kasus dan 4 kematian. Maka didapatkan
 
 
Berdasarkan metode prediksi dari kasus terdiagnosis = 27x69= 1.863
 
 
Berdasarkan metode prediksi dari kasus kematian = 800x4= 3.200
 
 
Dengan demikian, maka diperkirakan kasus asli di Indonesia saat ini berkisar antara 1.863-3.200 kasus!
 
 
Perlu dicatat juga bahwa Indonesia hanya melakukan 3 tes tiap 1 juta penduduk, hal ini menunjukkan bahwa angka sebenanrnya masih bisa lebih tinggi dari prediksi tersebut
 
 
Di sisi lain, kenapa kasus yang diumumkan pemerintah hanya sedikit? karena tidak semua yang terinfeksi COVID-19 gejalanya berat, mungkin karena gejalanya ringan jadinya tidak periksa.
 
 
Berikut adalah angka tes yang dilakukan di Indonesia per 13 Maret 2020 dibandingkan dengan negara lain per 9 Maret 2020
 
 
image.png

Total tes per 1 juta penduduk

Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa jumlah tes yang dilakukan di Indonesia per 1 juta penduduk cenderung jauh lebih rendah dibandingkan dengan berbagai negara lainya. Hal ini berpotensi mengakibatkan makin banyaknya infeksi yang tidak terdeteksi dan ditangani
 
 
 
4. Apa yang akan terjadi pada masyarakat Indonesia bila ini semua dibiarkan?
 
 
Saat ini sudah terbukti COVID19 sudah berada di Indonesia dan jumlahnya terus bertambah. Apa yanga akan terjadi selanjutnya? Kita bisa berkaca dari Negara negara yang sudah terinfeksi. Menurut rata-rata dari WHO, kematian akibat COVID 19 adalah 3-4%.
 
 
image.png

Tingkat kematian COVID 19

Dari Chart 12, kematian dapat bervariasi di tiap negara yakni 0,6% di korea utara hingga 4,4% di Iran. Angka ini memang bisa jadi underestimate atau overestimate. Sehingga diperlukan follow up dalam jangka panjang yang menghitung total kematian dibagi dengan total semua kasus.
 
 
image.png

Tingkat kematian COVID 19 di Hubei

Dari Chart 13 dapat dilihat bahwa angka kematian akhir di Hubei mencapai 4,8%, selanutnya untuk China selain Hubei jatuh di angka 0,9% dari semua kasus.
 
 
image.png

Tingkat Kematian COVID19 diluar Hubei

Selanjutnya, dengan model tersebut, di Iran diperkirakan angka kematian akhir adalah 2%, di Italia sebanyak 3,6% dan di korea 0,5%.
 
 
image.png

Proyeksi mortalitas COVID 19 di Iran

image.png

Proyeksi mortalitas COVID 19 di Itali

image.png

Proyeki mortalitas COVID19 di Korea Selatan

Dari data tersebut, ditemukan bawa angka kematian akhir di Korea selatan terkecil dibandingkan dengan negara lainnya. Hal ini mungkin dapat disebabkan karena kemampuan sistem kesehatan Korea selatan untuk menangani kejadian tersebut. Korea selatan juga memiliki jumlah rasio bed per 1000 pasien yang lebih tinggi dibandingkan dengan Italia dan Iran. Meskipun demikian, masih banyak faktor faktor lain yang dapat mempengaruhi dan belum kita ketahui.
 
 
image.png

Rasio Bed per 1000 penduduk

Dari sini, dapat disimpulkan bahwa:
 
 
• Negara-negara yang yang sudah siap akan mendapatkan tingkat kematian yang lebih rendah~ 0,5% (Korea Selatan) hingga 0,9% (provinsi lain di Cina selain Hubei).
 
 
• Negara-negara yang belum siap dan kewalahan akan memiliki tingkat kematian antara ~ 3% -5%
 
 
• Indonesia dengan jumlah bed rasio hanya 1,2:1000 pasien dan apabila tidak segera ditindaklanjuti maka kematian bisa mencapai ~ 3% -5%
 
 
Dengan kata lain: Negara-negara yang bertindak cepat dan siap dapat mengurangi jumlah kematian hingga 6-10x lipat. Hal ini tentunya juga dapat mengurangi jumlah kasus baru.
 
 
Sistem Kesehatan yang tidak siap dan Rumah sakit yang kewalahan
 
 
Sekitar 20% kasus infeksi COVID 19 memerlukan rawat inap, dan 5% kasus membutuhkan Unit Perawatan Intensif (ICU), dan sekitar 2,5% membutuhkan bantuan yang sangat intensif, dengan item seperti ventilator atau ECMO (oksigenasi ekstra-korporeal).
 
 
image.png

4,7 yang terinfeksi COVID 19 akan menjadi kritis

image.png
Jadi misalnya satu negara memiliki 100.000 orang yang terinfeksi. Sekitar 20.000 akan membutuhkan rawat inap, 5.000 orang akan membutuhkan ICU, dan 1.000 akan membutuhkan ventilator yang kita tidak punya cukup hari ini. Padahal ini hanya 100.000 kasus.
 
 
Sebelumnya di chart 6b dengan model eksponensial kita mendapatkan 1.281.469 orang akan terinfeksi COVID-19 di pertengahan April 2020 apabila tidak dilakukan tindakan apapun. Maka dapat diasumsikan akan terdapat 256.200 pasien yang membutuhkan perawatan di rumah sakit, 64.050 yang membutuhkan ICU dan 12.810 pasien membutuhkan ventilator.
 
 
Padahal, kita hanya punya kurang lebih hanya 1,2 juta se-Indonesia yang artinya 1/6 rumah sakit akan di isi penderita Coronavirus. Di sisi lain, satu rumah sakit hanya punya ruang isolasi untuk 5-6 orang saja yang artinya pasien akan terpaksa dirawat di bangsal dan lorong lorong yang justru nantinya akan menginfeksi berpotensi orang lain yang juga sedang sakit.
 
 
Lebih parah lagi, terbatasnya ICU dan ventilator di Indonesia akan mengakibatkan tidak semua pasien coronavirus yang membutuhkannya dapat terlayani dengan baik. Pada akhirnya petugas kesehatan harus memutuskan hal yang sangat dilematis, siapa yang berhak mendapatkan bed ICU dan ventilator disaat jumlahnya yang sangat terbatas.
 
 

Setelah beberapa hari, kita terpaksa harus memilih mana individu yang berhak masih hidup, dan mana yang sudah tidak ada harapan lagi karena tidak semuanya mendapatkan alat intuk intubasi. Kita memutuskan berdasarkan usia, harapan hidup dan keparahan penyakit.

- Christian Salaroli, Italian MD.

image.png

Francesca Mangiatordi, Perawat Italia yang kelelahan dalam perang melawan kasus Coronavirus.

Tenaga kesehatan juga pada akhirnya mendapatkan risiko yang sangat besar, mereka akan terus-menerus terpapar virus, tanpa alat pelindung yang cukup. Ketika tenaga kesehatan terpapar, mereka harus dikarantina selama 14 hari, di mana mereka tidak dapat membantu untuk melakukan pelayanan. Kemungkinan terbaiknya dalam 2 minggu penyakit tersebut hilang. Kasus terburuk, mereka akan ikut mati.
 
 
Ketidaksaiapan inilah yang mengakibatkan tingkat kematian mencapai 3-5% daripada hanya 0,5%. Apabila kita ingin negara kita masuk dalam tingkat kematian 3-5%, maka kita tidak perlu melakukan apa-apa. Inilah salah satu contoh pemakaman massal untuk pasien korban COVID-19 di Iran.
 
 
5. Apa yang harus kita lakukan?
 
 
Cegah pertumbuhan ekponensial
 
 
image.png

Sumber: Flowingdata.com

Saat ini COVID-19 telah menjadi pandemi. Kita tidak akan menghilangkan penyakit ini. Tapi kita bisa mengurangi dampaknya.
 
 
Taiwan adalah salah satu contoh yang berhasil dalam hal ini dengan hanya memiliki kurang dari 50 kasus. Taiwan telah memiliki infrastruktur yang kuat dan sudah berkembang untuk SARS dan fokus terhadap semua jenis pencegahan masuknya COVID-19 di negara mereka.
 
 
Sayangnya tidak semua negara memiliki hal ini, akibatnya negara lain hanya bisa melakukan tindakan mitigasi atau menurunkan resiko terburuk yang akan terjadi.
 
 
Tujuan akhir dari mitigasi dan pengurangan infeksi ini adalah untuk menunda keparahan sehingga kita punya cukup waktu untuk menangani kasus dengan lebih baik, sehingga menurunkan tingkat kematian. Penundaan keparahan juga akan memberikan kesempatan untuk penelitian supaya terus dikembangkan untuk menemukan obat maupun vaksin yang dapat digunakan untuk melawan infeksi ini.
 
 
Salah satu cara terbaik untuk menunda pertumbuhan eksponensial adalah social distancing. Sangat sederhana tapi terbukti berhasil.
 
 
Jika kita lihat lagi grafik Chart di Hubei, tampak bahwa kasus turun ketika terjadi lockdown. Hal ini terjadi karena orang tidak berinteraksi satu sama lain, dan virus tidak menyebar.
 
 
Konsensus dari pakar saat ini adalah bahwa virus ini dapat menyebar dalam 2 meter jika seseorang batuk. Jika tidak, tetesan jatuh ke tanah dan tidak menginfeksi Anda.
 
 
Meskipun demikian, infeksi terburuk kemudian terjadi melalui permukaan. Virus dapat bertahan hingga 9 hari pada permukaan yang berbeda seperti logam, keramik dan plastik. Itu berarti hal-hal seperti gagang pintu, meja, atau tombol lift dapat menjadi vektor infeksi yang mengerikan.
 
 
Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk benar-benar mengurangi itu adalah dengan menjaga jarak sosial (social distancing): Menjaga orang di rumah sebanyak mungkin, selama mungkin sampai pandemi COVID 19 teratasi. Metode ini juga sudah terbukti di masa lalu. Yakni, pada pandemi flu 1918.
 
 
image.png

Efek social distancing terhadap Flu Pandemic

Pada Chart 19, dapat dilihat bahwa Philadelphia tidak melakukan tindakan apapun sejak 17 September 1918 ksus ditemukan dan hasilnya adalah mortalitas memuncak di 19 Oktober 1918. Di sisi lain, di St Louis kasus pertama ditemukan 5 Oktober 1918 dan 7 Oktober kebijakan social distancing diterapkan. Hasilnya adalah jumlah kematian yang berkurang hingga seperlima dibandingkan Philadelphia.
 
 
image.png

Mortalitas di Denver saat pandemi flu

Di denver, kasus social distancing menjadi unik karena awalnya kebijakan tersebut diterapkan sehingga tren menurun hingga 3 November. Namun, kebijakan tersebut selanjutnya dicabut dan orang mulai berkumpul kembali dan sekolah bisa masuk kembali. Ternyata, kasus baru kembali muncul hingga terjadi puncak kedua di pertengahan desember. Pada akhirnya sekolah ditutup kembali dan isolasi dijalankan dan semenjak itu tren kasus mulai turun kembali.
 
 
image.png

Mortalitas dibandingkan dengan respon time public health pada kasus pneumonia dan inlfuenza

Chart 21 menunjukkan bahwa kematian di setiap kota tergantung pada seberapa cepat tindakan diambil untuk kasus pandemi flu 1918. Sebagai contoh, St Louis telah bertindak 6 hari sebelum Pittsburgh, dan pada akhirnya St Louis memiliki tingkat kematian kurang dari separuh dari Pittsburgh.
 
 
Secara rata-rata, pengambilan tindakan segera yakni 20 hari sebelumnya dapat mengurangi separuh tingkat kematian.
 
 
Italia menyadari hal ini, awalnya meraka hanya melakukan lockdown di Lombardy di hari pertama, dan satu hari setelahnya mereka melakukan lockdown secara nasional. Hasil dari lockdown di italia akan dapat kita lihat kurang lebih dua minggu kemudian (mengingat pada grafik di Wuhan dampak lockdown baru akan terlihat 12 hari setelahnya)
 
 
 
6. Apa yang harus dilakukan pemerintah?
 
 
Saat ini, pemerintah harus melakukan sesuatu, namun apakah aksi yang paling relevan untuk dilakukan?
 
 
Ada beberapa cara untuk mengkontrol epidemik, mulai dari antisipasi hingga eradikasi. Sayangnya, dalam kondisi pandemi seperti saat ini, yang paling memungkinkan hanyalah menahan penyebaran dan meminimalkan resiko.
 
 
Menahan Penyebaran
 
 
Menahan penyebaran COVID 19 dapat diartikan bahwa pemerintah harus memastikan semua kasus diidentifikasi, dikendalikan, dan diisolasi. Hal ini yang dilakukan Singapura, Hong Kong, Jepang, atau Taiwan dengan sangat baik: Mereka dengan cepat membatasi orang yang masuk, mengidentifikasi orang sakit, segera mengisolasi mereka, menggunakan alat pelindung yang sesuai untuk melindungi petugas kesehatan mereka, melacak semua kontak mereka, mengkarantina mereka. Metode ini bekerja dengan sangat baik ketika negara siap dan melakukannya sejak dini. Hal ini juga tidak perlu menganggu jalannya perekonomian Negara untuk mewujudkannya.
 
 
China sangat maju dalam menangani hal ini, mereka memiliki hingga 1.800 tim yang terdiri dari 5 orang yang bertugas untuk melacak setiap orang yang terinfeksi, semua orang yang berinteraksi dengan mereka, kemudian semua orang yang berinteraksi dengan mereka, dan mengisolasi orang orang tersebut itu. Begitulah cara mereka dapat menahan virus tersebut untuk tidak menyebar lebih luas di negara dengan satu miliar penduduk.
 
 
Sayangnya, negara barat terlambat melakukannya. Saat ini US juga telah memberlakukan travel ban dari dan ke Eropa. Bagaimana dampak dari travel ban? Hasilnya dapat kita lihat di Wuhan yang menunjukkan bahwa travel ban hanya menunda sekitar 3-5 hari saja dari penyebaran Coronavirus. Artinya, pembatasan/ban travel hanya memberikan waktu beberapa hari saja untuk penyebaran virus. Kunci utamanya seharusnya adalah mitigasi resiko karena ketika kasus di populasi elah mencapai ratusan dan ribuan, pencegahan dari travel ban, tracking dan isolasi tidaklah cukup.
 
 
Mitigasi Risiko
 
 
Mitigasi membutuhkan social distancing yang cukup. Orang-orang perlu berhenti nongkrong dan berkumpul dalam jumlah besar untuk menurunkan laju transmisi (R), dari R = ~ 2–3x lipat, hingga mencapai angka dibawah 1.
 
 
Social distancing yang cukup membutuhkan penutupan perusahaan, toko, angkutan massal dan sekolah. Pekerjaan pada akhirnya juga dikerjakan dari rumah. Event massal juga mulai dihentikan. Daerah dengan insidens besar juga mulai di isolasi. Inilah yang telah dilakukan Wuhan. Inilah yang terpaksa diterima oleh Italia. Karena ketika virus COVID-19 merajalela, satu-satunya cara adalah mengunci semua area yang terinfeksi untuk menghentikan penyebarannya sekaligus. Hal ini akan menurunkan (R), dari R = ~ 2–3x menjadi hanya 2. Namun ini masih belum cukup karena target untuk menurunkan epidemi nilai R harus mencapai kurang dari 1.
 
 
Maka pertanyannya, bagaimana kita bisa menurunkan R? berikut adalah apa yang telah dilakukan di Italia
 
 
• Tidak ada yang bisa masuk atau keluar dari area yang terisolasi, kecuali ada alasan keluarga atau pekerjaan yang krusial dalam mengatasi virus.
 
 
• Pergerakan di dalam kota yang terinfeksi harus dihindari, kecuali jika pekerjaan yang mendesak dan tidak dapat ditunda.
 
 
• Orang dengan gejala (infeksi pernapasan dan demam) dalam bentuk apapun “sangat dianjurkan” untuk tetap di rumah.
 
 
• Cuti untuk petugas kesehatan ditangguhkan
 
 
• Penutupan semua lembaga pendidikan (sekolah, universitas) pusat kebugaran, museum, stasiun ski, pusat budaya dan sosial, kolam renang,teater dan kegiatan komersial lainya kecuali transportasi, rumah sakit, apotek, dan toko bahan makanan yang masih akan tetap terbuka.
 
 
• Restoran membatasi waktu buka dari jam 6 pagi sampai 6 sore, dengan jarak setidaknya satu meter antara tiap customer.
 
 
• Semua pub dan klub harus ditutup.
 
 
• Semua aktivitas komersial harus menjaga jarak satu meter antara pelanggan. Mereka yang tidak mampu melaksanakannya akan ditegur keras dan bahkan di tutup. Tempat ibadah dapat tetap terbuka selama mereka dapat menjamin jarak ini.
 
 
• Kunjungan rumah sakit keluarga dan teman terbatas
 
 
• Rapat kerja harus ditunda. Bekerja disarankan dilakukan dari rumah.
 
 
• Semua acara dan kompetisi olahraga, publik atau pribadi, dibatalkan. Acara penting dapat diadakan dalam tempat tertutup.
 
 
Pendekatan pendekatan tersebut di atas mungkin cukup berat, mungkin kita akan merasa tidak nyaman dengan hal tersebut. Oleh karena itu, italia melakukannya secara bertahap tidak seperti Wuhan yang menerapkan semuanya secara massal dan bersamaan. Namun, saat ini metode tersebut telah terbukti berhasil. Ketidaknyamanan warga saat ini akan terbayarkan ketika mereka melihat bahwa negara mampu mengatasi Covid-19 dengan baik.
 
 
image.png

Sebaran temuan COVID 19 di Jakarta

image.png

Sebaran COVID 19 di Indonesia

Lokasi-lokasi di atas adalah lokasi yang tentunya harus mendapatkan prioritas utama karena telah ditemukan kasus positif maupun suspek Coronavirus di Indonesia
 
 
7. Efek dari Social Distancing
 
 
Mungkin terdengar menakutkan untuk melakukan social distancing di Indonesia, mengingat warga Indonesia adalah warga yang sangat social dan suka untuk bertemu. Namun coba perhatikan chart berikut
 
 
image.png

Efek social distancing terhadap kasus baru COVID-19

Model diatas merupakan model fiksi yang menunjukkan perbedaan dari tiga pendekatan yang dilakukan. Tidak adanya social distancing mengakibatkan pertumbuhan kurva menjadi eksponensial. Adanya social distancing akan mampu menurunkan kasus baru dan perbedaan satu hari saja untuk memutuskan social distancing akan berdampak langsung pada kurva eksponensial pertumbuhan kasus baru. Hal ini menunjukkan pentingnya keputusan untuk diambil segera dan penundaan satu hari saja akan sangat berdampak pada jumlah kasus baru.
 
 
Lalu, bagaimana dengan kasusnya secara kumulatif?
 
 
image.png

Efek social distancing terhadap total kasus COVID 19

Pada model ini, data dari Hubei digunakan sebagai referensi dan didapatkan bahwa penundaan satu hari dari social distancing mampu meningkatkan total kasus sebanyak 40%. Jadi seandainya Hubei dilakukan lockdown 22 Januari 2020, satu hari dari jadwal sebenarnya yakni 23 Januari 2020, maka kasus dapat dikurangi hingga 20.000 pasien.
 
 
Perlu di ingat bahwa social distancing utamanya adalah menurunkan jumlah kasus baru. Sedangkan untuk angka mortalitas dapat diprediksi lebih tinggi karena selain secara linear mortalitas akan berbanding lurus dengan jumlah kasus (0,5-5%). Mortalitas dalam titik tertentu dimana pelayanan kesehatan sudah overload juga pasti akan lebih tinggi.
 
 
Oleh karena itu, Pandemi COVID-19 adalah musuh yang tumbuh secara eksponensial dimana tiap harinya akan berdampak. Penundaan keputusan satu hari mungkin akan menumbuhkan kasus baru sebanyak ratusan bahkan ribuan. Hingga akhirnya sistem kesehatan akan runtuh dan mortalitas akan semakin meningkat.
 
 
 
-Share the Word-
 
 
Mungkin ini adalah momen di mana artikel dapat menolong nyawa dari seseorang. Baik individu maupun pengambil kebijakan harus mulai mengetahui apa yang harus dilakukan sebelum terjadi bencana massal.
 
 
The moment to act is now!
 
 
Oleh: dr Makhyan Jibril A. M.Sc M.Biomed
 
 
(VP External Junior Doctor Networks Indonesia, Residen Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Universitas Airlangga, Alumni University College London, FK Universitas Brawijaya dan S2 Biomedik FK Universitas Brawijaya, Peraih Beasiswa Pemerintah Inggris Chevening)
 
 
Diadaptasi dari
 
 
Tomas Pueyo. https://medium.com/@tomaspueyo/coronavirus-act-today-or-people-will-die-... atas seizin penulis dengan ditambahkan data yang relevan dari Indonesia
 
 
Visual story Jejak Pertama Corona di Indonesia

Ilustrasi coronavirus. (Jft//kumparan)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...