18 August 2018

Basaria Panjaitan: Ada Dugaan Uang Suap Ini untuk Biaya Kampanye

KONFRONTASI -  Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan menyebutkan, ada dugaan Bupati Ngada Marianus Sae akan menggunakan suap yang diterimanya untuk biaya kampanye dalam pemilihan gubernur Nusa Tenggara Timur.

Marianus merupakan bakal calon gubernur NTT di Pilkada 2018 yang diusung oleh PDI-Perjuangan dan PKB.

"Apakah ini akan dilakukan untuk biaya kampanye, prediksi dari tim kami kemungkinan besar dia butuh uang untuk itu," kata Basaria dalam jumpa pers di gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Senin (12/2).

Namun, Basaria menegaskan, itu baru sebatas dugaan, karena belum ditemukan aliran dana dari Marianus untuk pihak-pihak yang terkait Pilkada NTT.

"Kami belum menerima, belum menemukan jalur sesuatu yang diberikan kepada pihak yang akan melakukan, tim-tim yang berhubungan dengan pilkada tersebut," ujarnya.

"Namun, prediksi dari tim sudah mengatakan karena yang bersangkutan bakal calon gubernur, sudah barang tentu memerlukan dana yang banyak," ujar Basaria lagi.

Meski begitu, saat operasi tangkap tangan dilakukan, Minggu (11/2), KPK mendapati Marianus sedang bersama dengan Ketua Tim Penguji Psikotes Calon Gubernur NTT Ambrosia Tirta Santi.

Saat itu keduanya tengah bersama di sebuah hotel di Surabaya. KPK belum menemukan apakah Ambrosia diduga memperoleh sesuatu dari Marianus.

"Apakah yang bersangkutan (Ambrosia) menerima sesuatu, sampai sekarang ini kami belum bisa buktikan ke arah situ. Namun, yang pasti kami tahu yang bersangkutan (Ambrosia) hadir di sana pada saat tim kami menemukan MSA," ujar Basaria.

Sebelumnya, KPK menetapkan Marianus dan Dirut PT Sinar 99 Permai, Wilhelmus Iwan Ulumbu sebagai tersangka.

Marianus diduga menerima suap dari Wilhelmus terkait sejumlah proyek di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.

Wilhelmus diketahui merupakan salah satu kontraktor di Kabupaten Ngada yang kerap mendapatkan proyek di Kabupaten Ngada sejak 2011.

Dalam kasus ini, Marianus diduga menerima suap Rp4,1 miliar dari Wilhelmus. Sebagian suap untuk Marianus ada yang diberikan secara tunai ataupun lewat transfer bank.

"Total uang, baik yang ditransfer maupun diserahkan kas oleh WIU kepada MSA, sekitar Rp4,1 miliar," kata Basaria.

Rinciannya, Marianus menerima Rp1,5 miliar pada November 2017 secara tunai di Jakarta. Kemudian Rp 2 miliar diberikan lewat transfer bank pada Desember 2017.

Selanjutnya pada 16 Januari 2018, Marianus menerima lagi Rp400 juta dari Wilhelmus di rumah bupati. Kemudian, pada 6 Februari 2018, dia menerima Rp200 juta yang juga diberikan di rumah bupati.

Selain itu, suap ini juga diduga terkait dengan sejumlah proyek di Pemkab Ngada untuk 2018. Marianus diduga menjanjikan proyek-proyek tersebut dapat digarap Wilhelmus.(KONF/SKALA)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


loading...