16 August 2018

Apakah Jokowi Paham Trisakti dan Nawacita?

KONFRONTASI - Pancasila bukanlah diciptakan dan dilahirkan oleh seorang Soekarno, Pancasila sesungguh sudah ada dalam setiap jiwa dan diri insan manusia terutama pada diri manusia bangsa Indonesia. Keberhasilan penggalian Pancasila sebagai ideologi dan filsafat hidup bangsa oleh Soekarno karena peresiden pertama itu berhasil mencapai kesempurnaan dalam penyatuan jiwa dan pikirannya serta mampu menjiwai makna akal budi dan budaya bangsa Indonesia yang telah ada sebelum negara Indonesia ada.

"Pancasila yang harusnya menjadi filsafat hidup manusia bangsa Indonesia tidak pernah diciptakan oleh Soekarno ataupun ide Soekarno, tapi Soekarno hanya menggali Pancasila yang merupakan ajaran akal budi yang tertinggi yang dihasilkan oleh sebuah kebijaksanaan dan hikmat dari Tuhan Yang Maha Esa," kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono dalam rilisnya, Selasa (2/6).

Jelas dia, Pancasila sudah ada di setiap diri dan jiwa serta rohnya manusia di Indonesia, sebab ajaran Pancasila itu ditiupkan bersamaan dengan roh manusia yang akan lahir di dunia oleh Tuhan yang maha Esa. Karena itu yang pertama dalam mengenal Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. 

"Sering dikatakan bahwa konflik sosial lahir dari sumber konflik terhadap cara pandang kepercayaan terhadap Tuhan atau perbedaan suku bangsa sesungguhnya adalah salah besar, tapi konflik di masyarakat lebih disebabkan karena para pemimpin Indonesia banyak tidak dibekali atau tidak memiliki kebijaksanaan dan hikmat atau tidak mengunakan hikmat dan kebijaksanan yang ada pada dirinya yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa dalam menjalankan dan membuat kebijakan sebuah Pemerintahan yang meyebabkan tidak adanya keadilan sosiol ekonomi yang merata bagi setiap bangsa Indonesia," beber Arief Poyuono.

Begitu juga lahirnya gerakan radikalisasi agama apapun lahir karena kemiskinan dan kurangnya pemerataan ekonomi, bukan karena perbedaaan akidah dalam setiap agama yang dianut.

Menurut Arief Poyuono, kemampuan seorang Soekarno dalam menggali dan mengkompiliasi akal budi dan kebudayaan dalam kehidupan bangsa Indonesia bukanlah dihasilkan secara instan, tetapi melalui proses pembelajaran, perjuangan dan komitmen Soekarno untuk mencari sebuah ideologi dan filsafat bangsa Indonesia yang bisa diterima oleh semua ideologi, suku bangsa, etnik dan agama yang ada di Indonesia untuk menghasilkan sebuah kemerdekaan dan membentuk sebuah negara kesatuan Republik Indonesia yang pada akhirnya Soekarno berhasil menciptakan direction/petunjuk pembangunan manusia Indonesia yang kemudian dinamakan cita-cita Trisakti dan Nawacita.

Maka, lanjut Arief Poyuono, tidaklah mudah bagi seorang Presiden Jokowi untuk menerapkan cita-cita Trisakti dan Nawacita dalam membangun bangsa Indonesia kalau Jokowi sendiri dan para kabinetnya tidak mengerti atau menguasai esensi dari Trisakti dan Nawacita dalam menjalankan pemerintahannya, serta mengembalikan Pancasila sebagai filsafat pembangunan ekonomi bangsa Indonesia.

"Sudah delapan bulan pemerintahan Jokowi-JK, berbagai kebijakan yang diambil sangat jauh panggang dari api dalam penerapan Trisakti dan Nawacita, contoh saja pemberian izin ekspor konsetrat hasil tambang pada Freeport dan Newmont yang melanggar konsesus bersama, kebijakan ekonomi yang liberal dan tunduk pada konsesus Washsington dengan melepas harga BBM sesuai mekanisme harga pasar," ujar Arief Poyuono.

Secara jelas dan gamblang bahwa Soekarno dan para pendiri bangsa Indonesia menginginkan pembangunan ekonomi, sosial, budaya dan keamanan bagi bangsa Indonesia sebelum mencapai kata kemerdekaan dan setelah kemerdekaan harus berdasarkan pada filsafat Pancasila dan dipagari dengan sebuah politik yang dilandaskan pada pembukaan UUD 1945, beserta pasal-pasalnya yang asli dan cita-cita kemerdekan 17 Agustus 1945. Dan dijalankan oleh sebuah sistim perekonomian yang bercirikan budaya ekonomi bangsa Indonesia, kehidupan sosial ekonomi bangsa dan memiliki sistem keamanan bagi kekayaan sumber daya alam milik bangsa dan benar-benar dinikmati oleh bangsa Indonesia untuk mencapai keadilan sosial dan kemakmuran bagi bangsa Indonesia dengan penerapan pasal 33 UUD 1945, yang dituliskan dalam cita-cita Trisakti dan Nawacita oleh Soekarno.

Karena itu, lanjut Arief Poyuono, menjadi tantangan dan keberanian kita semua ke depan sebagai bangsa Indonesia dalam era globalisasi dan menghadapi setan-setan neoliberalisme baik yang ada di luar dan di dalam pemerintahan, dengan kita berkomitmen mengembalikan Pancasila sebagai filsafat dan ideologi bangsa Indonesia yang menjadi cita-cita para pendiri bangsa Indonesia.

"Selamat lahirnya Pancasila 1 Juni, lembali dalam diri kita masing-masing sebagai bangsa Indonesia," demikian Arief Poyuono.[rm/ian]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


loading...