19 September 2019

Amerika, Israel dan China dalam Pusaran Pilpres 2019

KONFRONTASI- Konprensi AIPAC Israel yang biasanya berlangsung meriah di Amerika baru baru ini mendapat sejumlah penolakan dari beberapa kelompok masyarakat dalam negeri Amerika.

Hal itu terutama setelah Ilhan Omar, wanita asal Somalia yang anggota Kongres Amerika, melakukan serangan atas AIPAC karena dukungan Amerika pada Israel telah melahirkan kejahatan Israel atas Palestina dan kerusakan di Timur Tengah.

Ilhan Omar dan Rashida Thlaib, dua muslimah anggota Kongres AS, menerima berbagai ancaman bahkan pada tingkat pembunuhan dan hujatan saat saat ini karena sikap mereka yang seiring dalam kritik terhadap zionisme Israel dan peran AIPAC di Amerika.

Akibat kritik terbuka mereka dan keresahan rakyat Amerika menghadapi sikap Zionis Israel sampai membuat partai demokrat terpecah.

Selain mereka sebuah gerakan advokasi MoveOn yang dipimpim Iram Ali melakukan survei atas anggotanya dan sejumlah 74 persen responden menolak dan menolak keras calon presiden Amerika dari demokrat hadir dalam Konprensi AIPAC tersebut. Mereka katakan bahwa pilihan yang dimiliki adalah mendukung Yahudi di seluruh dunia termasuk di Amerika, atau mendukung Israel tetapi tidak bisa mendukung keduanya sekaligus karena Israel adalah negara yang menistai Palestina dan penjajahan apartheid.

Terhadap kongres AIPAC maka untuk pertama kalinya, sebanyak sekitar 15 calon presiden yang telah mendeklarasikan pencalonan mereka dari Partai Demokrat seperti Bernie Sanders dan Kamala Harris dll termasuk mantan wakil presiden Joe Bidden  menolak untuk hadir dan menyampaikan pidato dalam acara AIPAC. Padahal sebelumnya mereka tidak pernah absen untuk itu.

Netanyahu sendiri secara khusus mengirimkan pesan pesan twitternya yang bernada menekan dan menyerang Ilhan Omar atas sikapnya. Ilhan dan Benyamin saling membalas twitter atas situasi yang berkembang.
Menghadapi Ilhan yang teguh dan kokoh, dengan kemampuan pidatonya yang menjelaskan posisinya bahwa keadilan yang diperjuangkan bersama Rashida Thlaib adalah untuk semuanya, justice for all, maka bahkan kelompok Yahudi umumnya yang membenci Zionis Israel menyatakan dukungan mereka sepenuhnya pada Ilhan secara terang terangan.

Perkembangan ini sangat menyulitkan Israel di mata civil society Amerika yang kini tidak menyukai dukungan mereka pada Israel karena ternyata digunakan untuk penindasan dan penjajahan. Meskipun Trump menyatakan dukungan tanpa batas untuk Benyamin, termasuk mengeluarkan executive order yang mendukung klaim Israel atas Golan Heights, namun Trump sendiri diancam oleh Ilhan sebagai perusak hukum yang berpotensi untuk diimpeach, sementara civil society Amerika semakin menolak politik luar negeri Amerika yang tidak adil, standar ganda, mendukung sekutu diktatornya di berbagai belahan dunia serta dominasi dan imperialisme yang memeras negara negara lain dengan ancaman militer.

Kebangkitan civil society Amerika dengan kesadaran baru bahwa sebenarnya mereka selama ini tertipu dengan narasi bahwa dukungan Amerika terhadap Israel sama dengan perlindungan terhadap kemanusiaan Yahudi yang terancam oleh musuh musuhnya di Timur Tengah karena soal agama. Padahal yang sebenarnya adalah justru kemanusiaan Yahudi yang terancam oleh perbuatan Zionis Israel  sendiri dengan berbagai kejahatan atas kemanusiaan. Dalam hal ini, zionisme adalah sebuah kata sifat yang menggerakkan mesin penjajahan, apartheidisme dan eksploitasi ekonomi di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.

Bagi Israel sudah menjadi tradisi pandangan politik dan ideologinya, bila Amerika menolak mereka maka zionisme mereka bisa dioperasikan oleh negara mana saja yang mengutamakan supremasi ras di atas kemanusiaan. Dan padanan itu di dunia ada pada negara China dengan laju imperialisme barunya yang menggabungkan supremasi ras, komunisme, dan kapitalisme.

Dalam kasus Indonesia, China sejak lama memanfaatkan kemunduran Amerika dan mengisinya dengan pemerasan dan penjajahan imperialismenya sendiri. Untuk itulah sebagian besar aktivis mengalami pencucian otak dengan kisi kisi sederhana bahwa penjajah yang satu lebih baik dari yang lain. Mereka diframe dengan analisa analisa sederhana hitam putih untuk menyerang kemunculan tokoh tokoh yang punya relasi simbolis dengan Amerika yang digambarkan sebagai ancaman kalau menang dalam pemilu. Karena kemenangan mereka digambarkan akan menghidupkan radikal Islam. Padahal, dalam soal itu, Mahathir dapat dengan mudah mangatasi masalah radikal Islam itu di Malaysia dengan politik konstitusi tanpa harus bergantung pada China. Tetapi di Indonesia, dibangun kesan bahwa pilihan yang tersedia hanyalah antara penjajah china yang menang atau pribumi dan anak bangsa yang mayoritas Islam yang menang. Dan kalau kelompok pribumi dan Islam yang menang maka bangkit radikalisme Islam. Sebuah narasi dan argumen yang melawan akal sehat, karena mana ada radikalisme yang berkembang bila kebutuhan keadilannya terpenuhi seperti di Malaysia dan negara lain.

Kepentingan penjajah di Indonesia mempertahankan dominasinya antara lain dengan mempertahankan benturan konflik terukur di kalangan Islam agar enerji ummat Islam tidak digunakan untuk memperkuat ekonomi rakyat dan kebangkitan Indonesia yang berbasiskan keadilan yang otentik.

Benturan mazhab dan kelompok dalam Islam diharapkan menciptakan suatu ruang konflik yang berada di sebuah wilayah yang tidak mengganggu wilayah dominasi dan ekspolitasi mereka atas sumberdaya alam dan ekonomi nasional yang mereka kuasai. Misalnya mereka tancapkan gerakan pencucian otak bahwa hanya Amerika yang jahat dan mereka adalah simbol kesucian yang hadir di Indonesia dan bukan untuk memperpudak serta menguasai Indonesia dalam bentuk penjajahan. Padahal sejatinya, kedua mereka, China dan Amerika sama saja dalam artian umum. Namun, seiring dengan kemerosotan Amerika dan Eropah, maka China hadir secara langsung di negara ini dan telah menguasai semua infrastruktur kekuasaan yang didukung oleh organisasi negaranya yang tertutup dan tidak mengenal agama.

Dengan tantangan seperti itu maka Indonesia hanya dapat menyelamatkan integritas kebangkitannya melalui lahirnya sebuah kepemimpinan visioner yang memastikan bahwa rakyat Indonesia yang pertama dan terutama menikmati hasil hasil pembangunan dan kedaulatannya. Seorang presiden yang tidak membiarkan bahkan meramaikan benturan antar kelompok mazhab, suku dan agama, tetapi yang hanya fokus pada amanat konstitusi yang pembukaannya dengan tegas menyatakan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.          

Oleh:  Mujtahid Hashem (Voice of Palestine)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...