19 August 2018

Akademisi UGM: Cegah Konflik dengan TNI, institusi Polri Harus Dibawah Kementerian

JOGJA-Pengamat dari Pusat Studi Politik Keamanan dan Perdamaian Universitas Gajah Mada (UGM), Najib Azca, mengakui bahwa akar permasalahan antara TNI dan Polri kompleks dan sudah berlangsung sejak lama, hingga terjadi bentrokan antara anggota TNI AD melawan Brimob Polri.

Menurut Najib, adanya rasa inferior dan superior terkait status dan kesejahteraan adalah beberapa penyebabnya. Oleh karena itu, ia menyerukan reformasi total di tubuh kedua instansi guna mencegah konflik terulang kembali.

"Mestinya, lembaga seperti kepolisian itu tidak di bawah presiden. Melainkan di bawah kementerian, bisa kementerian hukum atau kementerian dalam negeri. Lalu, Angkatan Darat juga begitu. Harusnya kan dia itu tidak di bawah presiden langsung, melainkan di bawah menteri pertahanan," kata Najib Azca, seperti dilansir BBC Indonesia, Kamis (20/11/2014).

Dalam tiga bulan terakhir ini, sudah ada dua kali bentrokan antara TNI dan Polri di Batam. Bentrokan yang kembali terjadi hari ini, pun menunjukkan semakin buruknya hubungan psikologis antara kedua institusi aparatur keamanan tersebut.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane menilai, ada tiga penyebab utama dalam kasus bentrokan TNI-Polri di Batam.  Pertama, tidak terkendalinya aksi backing membacking, baik dalam bisnis legal maupun ilegal, yangdilakukan oknum-oknum kedua institusi.  

Kedua, lanjut dia, masih membaranya dendam kesumat antar oknum kedua institusi pasca bentrokan 21 September 2014, yang menyebabkan empat anggota Batalion 134 Tuah Sakti tertembak. "Ketiga, penggunaan seragam loreng militer pada anggota Brimob, yang dinilai sebagai wujud arogansi Polri," paparnya.

Menurut Neta, penggunaan seragam loreng pada Brimob telah membuat lapisan bawah TNI tersinggung hingga gampang terpicu emosinya jika berhadapan dengan anggota Brimob.

Sementara itu, Kapolri Jenderal Pol Sutarman mengatakan, penyebab bentrok antara TNI dan Polri di Batam Rabu (19/11) malam, adalah kesejahteraan. "Oleh karenanya, itu menjadi pemikiran saya dan Pak KASAD ke depan, untuk bagaimana memberikan kesejahteraan bagi anak-anak (personel TNI dan Polri) ini, sehingga tidak mudah terpicu oleh apapun, " kata Sutarman.

Betapapun, menurutnya, itu adalah penyelesaian jangka menengah dan jangka pendek, sambil terus berusaha menemukan satu solusi yang tepat dan permanen.

Bentrok di Batam Rabu malam berawal dari percekcokan pagi harinya di sebuah pom bensin antara empat personel TNI dan dua anggota Brimob Polda Kepulauan Riau yang sama-sama hendak mengisi BBM. Siang harinya sejumlah orang datang ke Markas Brimob dan melakukan pengrusakan barak yang berujung pada aksi tembak-menembak.

Selain Kapolri Sutarman, KASAD Gatot Nurmantyo juga berada di Batam untuk menyelidiki kasus bentrok tersebut. "Beri waktu kepada saya untuk menyelesaikan ke dalam. Saya sudah membentuk tim investigasi ke dalam yang dipimpin oleh Badan Puspom," jelas Gatot. (ram/bbc)

 

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


loading...