18 July 2019

Abraham Samad Kabarnya Mau Ditangkap Polisi dalam Waktu Dekat karena Pertemuan Abraham-PDIP Ini

JAKARTA-Anggota tim Advokasi Hukum dan HAM DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Arteria Dahlan, menunjukkan kepada media foto Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad dengan anak seorang petinggi TNI. Kasus pertemuan Abraham-PDIP ini menimbulkan dugaan bahwa Samad mau ditangkap polisi dalam waktu dekat.

Menurut Arteri, Abraham bertemu dengan anak petinggi TNI berinisial RNH itu dalam rangka membicarakan pencalonan diri Abraham sebagai wakil presiden pendamping Joko Widodo (Jokowi), sebelum Jokowi menggandeng Jusuf Kalla. Ia mengatakan bahwa pertemuan tersebut dihadiri petinggi PDI-P. 

"Konteksnya apa pada saat ini, terkait dengan bakal calon wakil presiden yang diiusung Pak Jokowi. Satu minggu sebelum penetapan Pak JK sebagai cawapres," kata Artheri dalam salah satu diskusi di Jakarta, Minggu (1/2/2015). 

Menurut Arteri, anak petinggi TNI berinisial RNH yang berfoto dengan Abraham tersebut bukan kader PDI-P. Namun, PDI-P melibatkan dia dalam pertemuan di sebuah rumah di kawasan Patal Senayan itu karena RNH dianggap paham soal operasi intelijen. 

"Bukan orang PDI-P, bukan orang Abraham tapi dia katanya paham soal intelijen makanya diajak ngobrol soal pencalonan," kata Arteri. 

Ia juga menilai jika Abraham bisa dipidanakan karena mengikuti pertemuan politik. Menurut Pasal 36 Undang-Undang tentang Komisi Pemberantasan Korupsi, kata dia, seorang pegawai KPK dilarang bertemu atau mengadakan hubungan langsung atau tidak langsung dengan tersangka atau pihak lain yang ada hubungan dengan perkara tindak pidana korupsi yang ditangani KPK dengan alasan apapun.

Artheri mengatakan bahwa dalam pertemuan itu Abraham sempat menyinggung kasus di KPK. "Dari Beliau katanya terlontar pernyataan Akan bantu PDI-P. Kalau enggak salah inti pernyataannya, saya kan dekat dengan PDI-P, PDI-P kan sudah dibantu, Emir Moeis kan sudah dibantu, hukumannya kan ringan," tutur Arteri. 

Ia juga mengakui jika PDI-P ketika itu mengiyakan ajakan prtemuan dengan Abraham karena melihat kewenangan Abraham sebagai Ketua KPK. "Karena kewenangan Pak Abraham sebagai Ketua KPK," ucap Arteri. 

Mengenai pertemuan ini, ia mempersilakan Polri memproses laporannya sesuai aturan hukum. Pertemuan ini, menurut Arteri, sudah dilaporkan masyarakat kepada Polri.

Penyidik Badan Reserse dan Kriminal Polri memeriksa Supriansyah alias Ancak. Ia adalah saksi kasus "Rumah Kaca", tulisan terkait tudingan lobi politik Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad kepada tim sukses Joko Widodo-Jusuf Kalla saat Pemilihan Presiden 2014 lalu.

"Saya diperiksa sejak pukul 10.00 WIB. Sekitar dua jam lah," ujar Ancak seusai diperiksa di Kompleks Mabes Polri, Jumat (30/1/2015) siang.

Pria asal Makassar, Sulawesi Selatan, tersebut, mengaku, tidak hapal berapa pertanyaan yang diajukan penyidik kepada dirinya. Namun, kata dia, secara garis besar penyidik menanyakan tentang pertemuan Abraham Samad dengan tim sukses Jokowi. 

"Saya jawab dengan apa adanya, memang ada pertemuan. Ya sudah," ujar dia.

Ancak mengaku tidak menyangka menjadi saksi dalam kasus itu. Menurut Ancak, ia hanya meminjamkan sebuah unit di apartemen The Capital Residence di kawasan niaga terpadu Sudirman, Jakarta Selatan.

"Panggilan ini membuat banyak kegiatan saya terbengkalai," lanjutnya, seraya meninggalkan kerumunan wartawan.

Tudingan Hasto

Sebelumnya, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad dilaporkan ke Bareskrim atas tuduhan melanggar Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Tindak Pemberantasan Korupsi. Pelaksana tugas Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto mengatakan, Abraham melakukan lobi politik kepada dirinya agar mendampingi Jokowi sebagai calon wakil presiden.

"Ada oknum di pimpinan KPK yang tergoda dengan kepentingan politik menjadi cawapres atau jaksa agung," ujar Hasto di rumah bekas media center Jokowi-Jusuf Kalla, Jalan Cemara, Nomor 19, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (22/1/2015) lalu.

Menurut Hasto, pada awal 2014, ia ditugaskan Megawati Soekarnoputri bertemu Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Saat itu, seorang pria berinisial D menghubungi Hasto dan menawarkan Hasto mengadakan pertemuan dengan Abraham Samad. 

"Di situ kami hanya dibilang, membahas hal-hal yang strategis," ujar Hasto. 

Hasto tertarik atas tawaran itu. Menurut dia, bertemu pimpinan KPK merupakan momen yang langka. Hasto pun datang ke apartemen Capital di kawasan SCBD. Dia masuk melalui lobi depan. D rupanya sudah menunggu di lobi. Keduanya lalu naik ke salah satu lantai di apartemen mewah itu. 

Di salah satu ruangan apartemen, Abraham telah menunggu. Menggunakan masker hijau dan topi hitam, Abraham duduk di kursi yang meja di depannya terdapat aneka buah. Hasto, Abraham dan D pun berbincang terkait hal strategis itu.

"Di depan Abraham, dia (D) memohon Bapak Abraham Samad bisa mengikuti proses jadi calon wakil presidennya Pak Jokowi," ujar Hasto. 

Hasto mengaku, saat itu tidak dapat menjanjikan apa-apa karena pemilihan presiden masih jauh dan Megawati Soekarnoputri belum memutuskan siapa pasangan yang diusung PDI Perjuangan. Meski demikian, komunikasi dengan Abraham, tetap dijaga. 

Oleh sebab itu, pertemuan kedua, ketiga hingga keenam dilaksanakan Hasto dengan Abraham di tempat yang berbeda-beda. Selain D, ada pria berinisial D lain yang mendorong Abraham menjadi cawapres Jokowi. D yang kedua ini, sebut Hasto, adalah sahabat karib Abraham. 

Hasto menyebut, saking 'ngebetnya' Abraham ingin menjadi cawapres Jokowi, dia membuat skenario pertemuan dengan Jokowi di ruang VVIP Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta. Sejak saat itu, lobi politik Abraham kian kencang. Abraham juga merancang agenda pertemuan dengan tim sukses Jokowi-JK lain, yakni Hendropriyono dan sejumlah nama yang kini menjadi menteri kabinet kerja.

Namun, akhirnya Jokowi memilih Jusuf Kalla menjadi cawapresnya. Pertimbangannya, Kalla punya pengalaman dan dukungan politik yang jauh lebih kuat daripada bakal cawapres lainnya. Tanggal 19 Mei 2015, satu hari sebelum Komisi Pemilihan Umum (KPU) menutup pendaftaran calon presiden dan wakil presiden, Hasto mengaku ditugaskan Jokowi menyampaikan ke Abraham soal keputusan cawapres itu. Pukul 00.30 WIB, Hasto bertemu Samad yang masih mengenakan masker dan topi.

"Setelah saya ceritakan bahwa yang jadi cawapres adalah JK, Abraham bilang, 'Ya saya tahu, saya sudah melakukan penyadapan'. Dia juga bilang, 'Saya tahu yang menggagalkan saya menjadi calon wakil presiden adalah Pak Budi Gunawan'," ujar Hasto. 

Hasto menangkap nada kecewa dari pernyataan Abraham. Dia tak menyangkal tudingan Abraham soal Budi Gunawan. (kn/KCm/kompas)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...