26 June 2019

Women’s Day dan Penuntasan Masalah Perempuan, Utopis?

Oleh : Ratna Kurniawati
Aktivis Remaja

Peringatan hari perempuan internasional (8/3) setiap tahun telah menjadi perayaan global di berbagai negara. Sejarah hari perempuan Internasional atau International Womens Day bermula sejak peristiwa yang terjadi di Amerika Serikat (1909). Pada saat itu, para buruh wanita yang bekerja di pabrik garmen di New York melakukan aksi mogok, memprotes kondisi kerja mereka.

Sikap tersebut mendapat penghormatan dari partai sosialis. Setahun kemudian pendukung sosialis bertemu di Copenhagen dan menetapkan hari perempuan untuk menghormati perjuangan perempuan serta mendukung kaum hawa bisa ikut pemilu. Kelanjutannya, pertemuan yang diikuti oleh para wanita dari berbagai negara,

Hari perempuan diperingati pertama kali pada 19 maret di Austria, Denmark, Jerman, dan Swiss (1911). 60 tahun kemudian diresmikan oleh perserikatan bangsa-bangsa (PBB) sebagai hari perempuan internasional. Tujuannya tidak lain adalah memperjuangkan hak perempuan (kesetaraan gender).

Tahun 2019 ini Women’s Day mengangkat tema balance for better.  Tema diangkat dengan tujuan kesetaraan gender, kesadaran yang lebih besar tentang adanya diskriminasi dan merayakan pencapaian perempuan. Memastikan semuanya adil dan seimbang dalam semua aspek, pemerintahaan, liputan media, dunia kerja, kekayaan dan dunia olahraga.   Apakah sudah bisa terwujud ?

Kapitalisme menghargai perempuan ?

Eksistensi seorang perempuan dalam sistem Kapitalis, dinilai dari seberapa dia berhasil dalam pekerjaannya (karir).  Sekalipun upah masih di bawah rata-rata, namun perempuan berkerja memiliki rasa percaya diri yang tinggi.   Keadaan yang dianggap lebih menantang daripada sekedar menjadi Ibu Rumah Tangga (IRT).  

Padahal fakta bicara bahwa  perempuan dalam dunia kerja menghadapi  gap pay atau beda gaji.  Di mana perempuan dibayar lebih rendah.  Ketimpangan penghasilan (pay) juga terjadi di Indonesia.  Hal tersebut terungkap dari analisa informasi data Korn Ferry Gender Pay Index. Index itu merupakan hasil analisa gaji berdasarkan gender dari 14.284 pegawai di 53 negara.  Dikutip dari CNN.Indonesia (8/03/2016).   Lalu mengapa mereka  tetap ingin bekarir di luar rumahnya?  Tidak lain karena  gengsi,  obsesi, gaya hidup, dedikasi, mengisi waktu luang, kebutuhan ekonomi, paham feminisme dan kesetaraan gender. Aturan sekuler-kapitalis saat ini telah menciptakan perempuan harus berperan dalam semua lini kehidupan. Tidak peduli apakah pekerjaan itu akan menyebabkan pengabaian fungsi utamanya dalam keluarganya ataukah tidak.

Para perempuan telah dimandulkan dengan paksa. Sehingga kiprahnya sebagai istri dan ibu tidak berjalan sebagaimana seharusnya. Sistem ini juga memaksa perempuan untuk bekerja untuk bisa melanjutkan hidup dan tidak mewajibkan pada suami atau orangtua (ayah) memberikan nafkah kepadanya. Sungguh ini membuat perempuan menjadi sengsara.

Perempuan pun menjadi lalai kepada anak dan keluarganya. Terlebih lagi, ketika bekerja juga rawan mengalami pelecehan atas kehormatannya. Kondisi ini dapat disaksikan di negeri-negeri barat maupun negeri Islam yang kini telah terpengaruh sistem Kapitalis, ideologi Barat. Sebagai contoh di Indonesia, perempuan banyak yang menyibukkan dirinya terjun di dunia kerja.  Pekerja perempuan mengalami peningkatan setiap tahun. Bahkan mencapai lebih dari 50 persen dibanding pekerja laki-laki. Sedangkan pada sektor jasa kemasyarakatan pekerja perempuan hampir menyamai  dengan jumlah pekerja laki-laki.  (independen.id, 2017).

Sedangkan BPJS mencatat ada kesenjangan  tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) Indonesia antara Februari 2017- Agustus 2018.  Pada Agustus 2018 TPAK laki-laki  82,69 persen.  Sedangkan TPAK perempuan Cuma 51,88 persen. Tapi TPAK laki-laki stagnan secara year-on-year.  Sedangkan perempuan meningkat secara signifikan, dari angka 50,89 persen (2017).

Setelah seabad lebih perjuangan perempuan, menuntut hak-hak mereka. Tak tampak keberhasilan dan kesejahteraan hidup dirasa.  Dampak buruk justru yang menimpa. Sejak partisipasi mereka meningkat di sektor publik, yang paling nyata terlihat adalah semakin tingginya angka gugat cerai.  Single parent, pelecehan seksual, bahkan  pembunuhan.

Dan yang biasa diteriakkan setiap women’s day adalah isu kesetaraan.  Semua masalah yang menimpa kaum hawa, tidak lain karena tidak setara relasinya dengan laki-laki.  Pelecehan terjadi, kemiskinan, perceraian, dsb, semua karena kondisi diskriminasi para lelaki kepada mereka.  Benarkah ?  Padahal para lelaki juga mengalami kemiskinan, ketidaksejahteraan, bahkan menderita depresi karena PHK  dan ditinggal para istri menjadi tenaga kerja hingga ke luar negri.

Saat ini di Indonesia, banyak keluarga yang belum sejahtera.  Pastilah di dalam keluarga ada lelaki dan perempuan. Sensus BPS tahun 2018 menunjukkan bahwa penduduk Indonesia  yang masuk kategori di bawah garis kemiskinan sekitar  25,95 juta orang atau 9,82 % total penduduk. (kompas.com, 16/7/2018). Itu pun jika menggunakan standar yang tidak manusiawi, yakni kemiskinan diukur dengan pendapatan perorang sekitar Rp 387.160 per kapita per bulan (sekitar 10.000/hari).  Kalau menggunakan standar Bank Dunia, yakni 1,9 dolar AS/hari atau setara  Rp 775.200 (kurs 13.600)  tentu kita akan menemukan angka lebih dari itu.  Bahkan jumlah orang yang rentan miskin saja  ada 40 juta, menurut Institute for Development of Economics and Finance  (Indef). (jawapos.com , 6/3/2018). 

Sungguh sistem Kapitalis telah menzalimi semua, tak hanya kaum hawa.  Kapitalis, dengan ekonomi Liberalnya telah membuat negara sangat abai mengurusi rakyat!  Urusan pangan, juga pendidikan dan kesehatan telah diserahkan kepada para kapital (pengusaha).  Rakyat disuruh berjuang (bahkan kalau perlu sampai mati), agar bisa memenuhinya. Ironis dan miris memang. Sehingga balance  for better itu hakikatnya bukan solusi. Karena akar masalahnya bukan itu wahai kaum pejuang hak perempuan! Cukup sudah perjuangan yang utopis seperti ini.  Kita perlu sistem alternatif.

 Islam menjamin hak perempuan

Islam memandang perempuan dengan pandangan khas yang sangat memahami fitrahnya.  Perempuan adalah  kehormatan yang harus dijaga.   Dia harus dilindungi dan dinafkahi oleh suami dan kerabatnya yang laki-laki atau wali. Jika tidak mampu maka negara turut andil menafkahi, sehingga sosoknya tidak perlu “dijual” dan “dipamerkan” untuk segepok uang.  Atau sekedar untuk melanjutkan kehidupan.  Karena sejak dia lahir, menjadi istri bahkan ketika ia telah menjadi janda, maka dia selalu dinafkahi oleh para walinya.

Allah Swt. berfirman:

“Kewajiban ayah memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf.” (TQS. al-Baqarah [2]: 233)

“Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal, sesuai dengan kemampuanmu.” (TQS. ath-halaq [65]: 6).

Rasulullah saw. bersabda: “Dan kewajiban para suami terhadap para istri adalah memberi mereka belanja (makanan) dan pakaian”. (HR. Ibn Majah dan Muslim dari Jabir bin Abdillah).

Islam tidak memberikan taklif (wajib) bekerja kepada perempuan, namun juga tidak melarang (mengharamkannya). Hukum dasarnya adalah mubah, bukan semata-mata tuntutan materi atau ekonomi.  Justru sebagai amal salih bagi masyarakat. Sehingga tidak menjadikan peran utamanya sebagai istri dan Ibu dalam mendidik anaknya terabaikan karena pekerjaannya.

Di samping itu harus dipahami tidak semua bidang boleh bagi kaum hawa.  Seperti bekerja pada bidang-bidang yang mengeksploitasi kecantikan dan fisik tubuhnya.   Atau bekerja pada bidang-bidang yang dapat mengabaikan fungsi keibuan bagi keluarga dan anak-anaknya. Misal kerja fulltime, seperti banyak kita jumpai sekarang.

Islam pun menerapkan kebijakan ekonomi yang mampu menjamin kebutuhan pokok publik terjangkau.  Seperti kebutuhan akan pendidikan dan kesehatan.  Dengan cara menjadikan kekayaan milik umum hanya dikelola oleh negara untuk kesejahteraan rakyat. Sehingga meski pun para wali atau suami memiliki penghasilan kecil untuk sandang, pangan dan perumahan, dia tak perlu risau dengan pendidikan dan kesehatan keluarga.  Dan perempuan tak perlu ikut membantu penafkahan suami atau para walinya.

Hanya Islam yang mampu menjamin kesejahteraan bagi semua, laki-laki maupun perempuan. Kondisi ini akan dapat dirasakan ketika tatanan seluruh kehidupan mengikuti aturan yang telah Allah SWT tetapkan, dan diterapkan secara kaffah dalam setiap sendi kehidupan umat manusia.  Semua ini pernah terjadi pada saat peradaban Islam berkuasa selama 13 abad dalam naungan daulah Khilafah Islamiyah.  Tidakkah perempuan menginginkannya? []

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...