25 June 2019

Wahai Ulama, Hati-hati Manuver Politisi Zaman Now

Oleh: Oleh Dian AK
Women Movement Institute

Nuansa Pilgub 2018 nampaknya sudah menghiasi media dalam beberapa bulan terakhir. Bargaining politik marak dilakukan oleh para calon gubernur kepada rakyat guna mendapatkan dukungan massa semaksimal mungkin. Safari-safari politik pun gencar dilakukan baik oleh calon gubernur atau pimpinan partai pendukung ke kantong-kantong basis massa yang strategis untuk mereguk suara. Seperti halnya Zulkifly Hasan yang dalam beberapa hari terakhir rajin mengunjungi basis massa dari kalangan ulama. Ada pesan tersirat dari pertemuannya dengan pimpinan Jamaah Tabligh di Pesantren Al-Fatah Temboro, Zulhas berpesan agar ulama dan umara’ bersatu. (Republika, 25/4).

Dari apa yang disampaikan ketua partai pendukung Emil dalam Pilgub Jatim adalah salah satu trik menggaet massa dari simpul massa yaitu kalangan ulama. Peran ulama yang strategis dengan massa yang banyak masih menjadi daya tarik tersendiri. Maka wajar jika ulama dijadikan komoditas politik mampu menyumbangkan suaranya beserta jamaahnya dengan jumlah yang sangat signifikan.

Peran ulama hanya dipandang sebelah mata oleh para politisi atau calon umara’ (penguasa). Mereka dibutuhkan hanya jika pemilu dan ulama-ulama yang hanif dan bersih akan ditinggalkan apabila pemilu usai. Sedangkan ulama yang gila kekuasaan dan uang akan menjadi stempel legitimasi dari kebijakan umara’ tak menghiraukan baik atau tidak bagi rakyat.

Tak jauh berbeda dengan pandangan terhadap politisi atau calon umara’ ini. Mereka menghalalkan segala cara hanya untuk meraih kekuasaan, menjadikan ulama dan rakyat tumbal politik agar mampu meraih kekuasaan. Ketika sudah berhasil meraih kekuasaan mata dan telinga mereka ditutup dari nasehat-nasehat ulama.

Fakta ini terjadi karena paradigma politik saat ini masih menggunakan politik ala Machivellis, para politikus Indonesia adalah politik bergaya Machivellis. Politik yang menghalalkan segala cara agar mencapai kekuasaan dan mempertahankan kekuasaan. Hal ini sangat berbahaya, mereka mendekati ulama hanya jika ada kepentingan yang akan diraih. Jika bermanfaat ulama didekati jika tak menghasilkan manfaat mereka ditendang. Itulah wajah asli sang politisi.

Para politisi yang merupakan bentukan partai politik harusnya melakukan fungsi edukasi. Edukasi ini dilakukan tak hanya pada saat pemilu saja sehingga keberadaan parpol sangat dirasakan rakyat. Politisi-politisi yang mengoptimalkan fungsi sebagai parpol memberikan solusi atas permasalahan rakyat, menjadi orang yang ikhlas dan memiliki konsep yang jelas akan menjadi calon umara’ yang dicintai dan disegani rakyatnya. Dia dididik menjadi umara’ level tinggi jauh dari gambaran umara’ saat ini.

Saat menjadi umara’ atau penguasa, dia juga harus memahami secara betul bahwa tugas kepemimpinannya adalah amanah yang akan dimintai pertanggung jawaban. Sehingga haruslah berhati-hati dalam mengambil setiap kebijakan memprioritaskan pelayanan rakyat di atas kepentingan pribadi. Memudahkan dan meringankan urusan rakyat adalah yang utama.

Begitu pula dengan keberadaan ulama yang memberikan andil besar terhadap keberhasilan kepemimpinan umara’, menuntun umara’ agar selalu berada di jalan yang benar. Dan menjadi tameng apabila kebijakan umara’ tak sesuai syariat dan mendzolimi rakyat. Kritik ulama terhadap penguasa adalah nasehat bagi umara’. Karena hal itu adalah bentuk dakwah dan dakwah adalah hak semua orang tak terkecuali penguasa. Dengan kolaborasi yang apik antara umara’ dan ulama akan mampu membawa kebaikan bagi seluruh manusia, sebagaimana terdapat dalam hadits Rasulullah SAW menjelaskan “Ada dua golongan diantara umat manusia yang apabila keduanya baik maka akan baiklah seluruh manusia, dan apabila kedua golongan itu rusak maka rusaklah seluruh manusia, yaitu ulama dan umara” (HR. Abu Nu’aim)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...