19 October 2018

TGB: Setiap Orang Harus Bisa Menjadi Guru Sosial-Budaya, Transformasi Tuan Guru

Oleh: Rusdianto Samawa
Direktur Eksekutif Global Base Review (GBR)

Dalam usia yang relatif muda, Tuan Guru Bajang Muhammad Zaenul Majdi, yang kemudian populer dengan nama TGB, membuat langkah besar melawan kemapanan situasi sosial umat Islam dan rakyat Nusa Tenggara Barat. Cara melawannya: menjadi Gubernur Nusa Tenggara Barat dengan merealisasikan seluruh cita dan tujuannya.

Baginya, menjadi pemimpin daerah, bukan semata - mata mengejar dunia, namun menghadirkan sebuah spirit gerakan keagamaan dalam cendawan sosial agar mata rantai masalah masyarakat bisa terselsaikan.

Melihat afiknya leadership Bajang, tak bisa menampik tampilan perubahan pada masyarakat Nusa Tenggara Barat, dari sakralitas ritual keagamaan berimigrasi ke dimensi “revolusi kebudayaan.” Berbagai gagasan dan prestasi Bajang, telah menandakan sehatnya nalar masyarakat yang sebelumnya terbelakang. Sikap yang menunjukan kepedulian Bajang pada nasib rakyat kebanyakan yang menderita, tak berpendidikan, dan miskin. Membuat rakyat masih menaruh pengharapan yang besar.

Prototype Bajang ini jelas bersumber pada sang tokoh pahlawan TGKH Zainuddin Abdul Madjid merupakan kakek Tuan Guru Bajang dari garis ibundanya. Sementara ayah TGB adalah alm Djalaluddin, pejabat di Pemda NTB sejak dulu. TGB dari kecil hidup dalam keluarga modern di Mataram, di mana ayah beliau memiliki rumah tinggal di Jl Langko. Sejak di SDN 3 Mataram, TGB dikenal cerdas dan pandai bersosialisasi dengan teman-temannya.

Dari silsilah kakek TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid yang saat lampau itu menafsirkan umat yang miskin pendidikan dan kepecayaan bahwa penyakit yang diderita rakyat adalah akibat “lelembut” yang suka marah. Maka, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid itu mendirikan pesantren untuk pencerdasan rakyat dimasa depan. Karakter itu diwarisi oleh Tuan Guru Bajang hingga sekarang ini.

Ketika umat memandang bangsa Belanda itu kafir, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid mendirikan pendidikan untuk membuktikan bahwa umat beragama tidak seperti tuduhan itu. Sekolah yang dipandang umat sebagai tradisi orang kafir dan Kristiani, dipilih Tuan Guru sebagai media pembebasan umat dari kebodohan dan kemiskinan. Tuan Guru pun mendirikan sekolah Nahdlatul Wathan (NW) yang pertama di Lombok Timur dengan menjadikan ruang tamu rumahnya sendiri sebagai kelas reguler.

Langkah-langkah TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid di atas dilakukan berdasar visinya tentang dunia dan pemahamannya terhadap Al-Quran. Berdasar pandangannya itulah TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid mendirikan Nahdlatul Wathan (NW) yang kelak mengukir sejarah Islam negeri ini berbeda dari sejarah Islam di dunia. Usianya telah mencapai 56 tahun saat ini, ketika Tuan Guru mendirikan Nahdlatul Wathan. Namun, jauh sebelum itu, dalam usia 30-an, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid telah mulai melakukan aksi-aksi sosialnya. Suatu aksi sosial yang nyaris belum pernah ada dalam sejarah masyarakat Islam Lombok waktu itu.

TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid memang tidak banyak meninggalkan karya tulis, kecuali dokumen yang disampaikan dalam rasalah-risalah musyawarah Nahdatul Wathan. Dokumen itu mencerminkan pemikiran kritis, penguasaan berbagai cabang ilmu dan filsafat, serta pandangannya tentang masyarakat dan peran Islam dalam pengembangan peradaban dunia.

Dari persfektif itulah yang menginspirasi Bajang, menurunkan gaya dan model sang ayah. Di dalamnya juga tercermin konsep tentang metodologi dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam dari sumber utama Al Quran. Bajang seringkali menyebut tentang pentingnya akal dan menempatkan Sunnah atau Hadits di dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam.

Pergaulan Bajang amat luas meliputi hampir semua golongan keagamaan, kebudayaan, dan kelas sosial. Tuan Guru Bajang berguru dan berteman dengan ayahnya, dan para pemuka agama Islam terkemuka dari berbagai dunia semasa di Mesir, lebih khusus dari Timur Tengah dan Asia.

Gagasan Bajang selama kepemimpinan Gubernur NTB, banyak diterima sepanjang bermanfaat bagi pengentasan kemiskinan, pemberdayaan umat dan pencerdasan rakyat. Sikap inilah yang belakangan ini dikenal sebagai sikap inklusif dan pluralis.

Namun demikian, gagasan, karya dan amal Tuan Guru Bajang telah mampu mengubah pola kehidupan keagamaan masyarakat Islam di Lombok dan menginspirasi negeri ini menjadi lebih fungsional. Kini, hampir tidak ada pemeluk Islam di negeri ini yang tidak berminat memasukkan anak-anak mereka ke lembaga pendidikan modern seperti sekolah atau madrasah hingga pendidikan tinggi Nahdatul Wathan.

Elite Nahdatul Wathan (NW) sesudah generasi pendiri gerakan ini tampak berhasil memahami jati dirinya sebagai gerakan sosial dan budaya. Keberhasilan lebih tampak dalam praktik pendidikan yang makin nyata etos pembaharuan dari gerakan ini ditelan usianya yang hampir seperempat abad.

Apa yang selama ini dikenal aktivis gerakan ini tentang Nahdatul Wathan, tentu jauh beda dari langkah-langkah kreatif pendirinya. Dari daya kreatif dengan visi jauh ke depan melampaui kesadaran zamannya, Tuan Guru Bajang mengembangkan kegiatan sosial, mencerahi kesadaran sosial-budaya dan memberdayakan umat.

TGB mulai merubah sistem pemerintahan, sosial dan budaya mengarah pada gerakan syariah yang semakin di dambakan masyarakat dari problem kehidupan umat yang mayoritas miskin, kaum buruh dan petani. Gerakan ini bahkan semakin terlibat dalam kegiatan politik sejak menjelang kemerdekaan. Di dunia politik inilah habitat yang subur penegakkan hukum syariah bisa ditemukan.

Karena itulah, bagi Bajang bahwa generasi sekarang harus bisa menjadi guru sosial budaya agar keluar dari mainstream hidup.
Bagi Bajang, makna pentingnya "Guru Sosial Budaya" itu kembali pada jati dirinya sebagai pencerahan. Guru sosial budaya merupakan tahapan obyektif etos pembaharuan Islam sesudah tahap teroretis penyadaran budaya.

Ide kreatif Bajang dalam pembaharuan melalui sistem pemerintahan yang melahirkan berbagai pembangunan dan kegiatan sosial sebagai garda depan yang bersumber dari keharusan penerjemahan fungsional ajaran Islam bagi pemecahan berbagai masalah yang dihadapi umat.

Bagi Bajang pula, kesadaran sosial budaya inilah, jangan sampai gagal ditumbuhkan dari problem obyektif umat. Tidak cukup bukti untuk sepakat bahwa pengembangan berbagai ide dan amal-usaha kreatif yang benar-benar diperlukan bagi umat dan bangsa di dalam memecahkan banyak masalah yang sedang dihadapi.

Penilaian penulis, Bajang adalah pemimpin muda yang menebarkan pesona teologis yang bermetafor pada kesadaran-kesadaran kebangkitan bangsa dan negara. Model leadershipnya telah menyadari sangat diperlukan kedepannya.

Berbagai gagasan dan aksi sosial Tuqn Guru Bajang tidak hanya mencerminkan nalar kritisnya, melainkan juga menunjukkan kepedulian Tuan Guru pada nasib rakyat kebanyakan yang menderita, dan miskin. Untuk ini, Tuan Guru memiliki gagasan genialnya tentang filsafat guru-murid, yang setengah abad kemudian muncul kembali dalam gagasan Paulo Frere yang memberi inspirasi "Gerakan Transformasi Tuan guru" di Indonesia.[]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...