Teori Konspirasi dan Kelemahan Berfikir Umat Islam

Oleh : Ummu Bisyarah
Pengemban dakwah

   Ditengah pandemi Covid 19 yang menggegerkan dunia dengan tingkat infeksi mengerikan dan angka kematian masih meroket tajam, muncul teori konspirasi yang tentu saja menjadi ancaman serius bagi dunia untuk menangani penyebaran virus ini.

   Salah satu yang sempat viral yakni konspirasi dari dr Judy Mikovits. Beliau mengunggah video berjudul "Plandemic" yang menegaskan bahwa pandemi Covid-19 merupakan sesuatu yang dibuat oleh  perusahaan farmasi besar. Mulai dari Bill Gates dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dituduh sebagai dalang penyebaran Covid-19. Tak hanya itu, wanita ini pun mengatakan bahwa masker dapat membuat orang lebih sakit dan membahayakan.

   Teori ini pun sempat menggaung juga di Indonesia dengan viralnya video wawancara Deddy Cobussier dengan Mantan Menteri Kesehatan Indonesia Siti Fadilah Supari. Beliau mempertanyakan vaksin virus corona baru atau Covid-19 yang digaung-gaungkan oleh Bill Gates.

   Beliau memperhatikan Bill Gates ketika menjadi pembicara dalam forum ekonomi dunia di Davos Swiss pada awal tahun silam. “Di sana Bill Gates menjadi pembicara utama dan dia menggebu-gebu bahwa nanti ada pandemi. Dan anehnya, dia sudah mempersiapkan vaksin. Mengapa pandeminya enggak dihentikan? Kenapa harus bikin vaksin?” tuturnya curiga. ( okezone.com 25/5/2020 ). Fakta inilah yang melatarbelakangi kesimpulan beliau bahwa corona bahkan flu burung "mungkin" adalah konspirasi yang didalangi oleh Bill Gates.

   Teori konspirasi ini memang tumbuh subur karena situasi sedang caos dan ketidakpercayaan muncul dimana - mana. Namun teori ini sangat berbahaya karena bisa mengorganisir masa melakukan tindakan yang berbahaya. Seperti aksi yang dilakukan oleh JRX yang menantang untuk disuntik virus corona, untuk membuktikan konspirasinya bahwa corona tak berbahaya, atau bahkan kelompok anti vaksin yang bila vaksin diproduksi mereka tak mau suntik vaksin. Hal ini sangat berbahaya. Maka dari itu sangat penting untuk meluruskan konspirasi ini. Apakah benar virus corona adalah konspirasi yang didalangi Bill Gates?

   Pada tahun 2015, Bill Gates memang memproyeksikan bahwa di dunia akan terjadi sebuah pandemi dahsyat. Hal ini dia bicarakan pada acara TED Talk 5 tahun yang lalu. Namun Bill Gates bukanlah yang pertama. 8 tahun sebelumnya, tahun 2007, ada sebuah paper ilmiah yang memproyeksikan adanya pandemi akibat SARS-CoV berjudul "Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus as an Agent of Emerging and Reemerging Infection".Paper ilmiah tersebut terbit di jurnal "Clinical Microbiology Reviews", jurnal bereputasi dan terkemuka (Q1) dalam dunia medis, memiliki 434 referensi dengan H-Indeks sebesar 245.

   Dalam jurnal ini dijelaskan 3 alasan mengapa ilmuwan bisa memproyeksikan akan terjadi epidemi SARS-CoV lagi setelah terjadi wabah di tahun 2003. Alasan pertama Virus Corona mudah sekali mengalami rekombinasi genetik ( perubahan genom ). Ke-2 adanya hewan resevoir atau hewan penampung virus seperti kelelawar. Ke-3 budaya memakan hewan mamalia eksotis di China yang akan mempermudah virus dari hewan berpindah ke manusia. Peneliti menjelaskan bahwa ke 3 hal ini akan menjadi "bom waktu" bagi dunia.

   Jadi para ilmuan sudah memperingatkan dunia sejak tahun 2007, bahwa akan kembali terjadi pandemi akibat virus SARS-CoV, baik disebabkan karena hewan ataupun rekayasa laboratorium. "The possibility of the reemergence of SARS and other novel viruses from animals or laboratories and therefore the need for preparedness should not be ignored" (kutipan dalam  paper tersebut )

   Memang ada kemungkinan virus ini bisa direkayasa di laboratorium. Namun sudah ada paper ilmiah yang menyanggahnya, yakni sebuah artikel korespondensi berjudul "The proximal origin of SARS-CoV-2". Artikel ini terbit di jurnal Nature Medicine dengan reputasi yang jauh "menyilaukan" dibanding jurnal yang kita bahas sebelumnya dengan H-Indeks sebesar 497, wow. Dalam jurnal ini disebutkan 2 alasan utama mengapa ilmuwan menyimpulkan bahwa SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 bukanlah hasil dari rekayasa laboratorium melainkan proses alamiah. Alasan pertama, reseptor pengikat dari virus SARS-CoV-2 telah berevolusi untuk berikatan dengan ACE2 ( reseptor di paru - paru ) secara sangat efektif dan sangat berbeda dari berbagai prediksi ilmuwan sebelumnya.

   Alasan ke-2, struktur molekular dari "backbone" virus SARS-CoV-2 sangat berbeda dari anggota keluarga virus Corona lainnya. Dalam rekayasa virus, "backbone"  dapat diibaratkan sebagai fondasi sebuah rumah. Fondasi tersebut dapat berasal dari virus corona lainnya atau kombinasi beberapa virus corona.

   Maka jelas terbukti secara ilmiah bahwa corona bukanlah buatan tapi memang alami karena mutasi virus SARS-CoV-2, dan tuduhan bahwa ini adalah konspirasi jelas salah. Pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa teori konspirasi ini tumbuh subur di dunia bahkan banyak sekali kalangan kaum muslim yang terbawa arus pemikiran ini?

   Menurut Prof. Fahmi Amhar teori konspirasi muncul karena ada orang - orang yang menganggap apa yang terjadi tidak sesuai dengan idealisme mereka, kemudian mengalami eskapisme. Mereka lari dari kenyataan dan tidak ingin menghadapi problema tersebut secara konkrit sehingga mencari penjelasan yang sayangnya, tidak mungkin diverivikasi.

   Dengan mendapatkan penjelasan tersebut mereka merasa tenang, puas, bahkan merasa memiliki pengetahuan yang lebih banyak dari orang kebanyakan, terutama para ahli yang mereka anggap telah dimanipulasi oleh elit global sebagai tersangka utama. Berbagai data mereka yang tidak bisa diverifikasi tersebut adalah sebuah data alternatif untuk melawan berbagai data yang selama ini ditampilkan oleh media maupun lembaga resmi yang memiliki otoritas, dengan menganggap bahwa data otoritatif tersebut juga telah dikendalikan dan dimanipulasi oleh para elit global.

   Parahnya penggemar teori konspirasi ini ( semacam iluminati, anti vaksin, Jurus Sehat ala Rosul dll ) adalah kalangan umat islam. Bahkan dalam Youtubenya dr.Zakir Naik juga mengkritik para muridnya ( yang mayoritas adalah seorang da'i ) yang terbawa konspirasi ini.

   Dalam wawancara bersama Komunitas Literasi Islam Prof. Fahmi menjelaskan bahwa secara psikologis, apa yang terjadi pada umat Islam  hari ini adalah wujud rasa kecewa karena tidak memiliki sesuatu untuk dibanggakan. Alhasih, gharizah baqa' nya akan mencari sesuatu yang ia banggakan, sekalipun itu tidak masuk akal.

   Bahkan saat ini pun umat Islam memang sudah kehilangan semua hal yang bisa dibanggakan. Secara Ekonomi umat Islam kalah, militer kalah, teknologi kalah, politik jangan ditanya karena mayoritas negeri muslim "terjajah". Sehingga ketika muncul spekulasi teori konspirasi, langsung senang karena merasa lebih hebat dari mereka. Kita tahu bagaimana strategi mereka, kita tahu siapa dalangnya dsb.

   Ditambah kemampuan literasi kaum muslim yang sangat rendah akibat "dijajah" secara pemikiran, membuat umat Islam sangat mudah terbawa berita Hoaks hingga konspirasi. Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai seorang muslim agar terhindar dari konspirasi semacam ini?

   Allah berfirman dalam surat Al-Isra',

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran,penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (AQS. Al-Isra` : 36).

   Mendengar ayat diatas sebagai seorang mukmin jelas kita harus sangat berhati - hati dalam bertindak dan menyaring informasi, karena setiap aktifitas kita akan dimintai pertanggung jawaban. Maka ada beberapa tips agar kita terhindar dari hal - hal semacam ini.

  1. Asah kemampuan berliterasi kita. Literasi adalah kemampuan untuk menulis, membaca, mengolah informasi dan pengetahuan kecakapan hidup. Tanpa kemampuan ini dan kemauan mengakses informasi akan menjerumuskan seseorang pada hoaks dan konspirasi. Konspirasi tak dipungkiri memang ada, biasanya dalam hal kekuasaan. Namun untuk menuduh sesuatu tersebut adalah konspirasi, harus ada bukti yang akurat dan tak terbantahkan. Bukan asal tuduh. Ini sangat - sangat membutuhkan kemampuan literasi.
  2. Tabayyun ke sumber yang terpercaya. Dalam ranah ilmiah jelas sumber terpercaya bukanlah kata dokter x atau profesor y, namun jurnal ilmiah. Pun tak sembarang jurnal ilmiah, jurnal tersebut harus memiliki reputasi. Mengapa harus jurnal ilmiah yang bereputasi?. Karena di jurnal lah hasil penelitian tersebut dapat diperiksa dengan ketat, terkait metode, analisis, pengambilan kesimpulan, kebaruan penelitian, dan lain-lain. Istilahnya peer-review. Pemeriksa juga bukan sembarang orang, tapi harus yang pakar di bidang tersebut, yang artinya mereka menguasai kaidah-kaidah ilmiah yang diperlukan. Kalau tidak memenuhi kriteria, peer reviewer bisa menyuruh penulis makalah untuk melakukan revisi, entah mayor atau minor. Atau bisa juga ditolak. Bahkan makalah yang dipublikasikan di jurnal ilmiah saja masih bisa dikritik. Maka sangat mustahil ada hoaks apalagi konspirasi.Untuk mengakses jurnal semua orang bisa dengan mudah. Hanya tak semua orang mau bersabar dalam meniti proses literasi ini, sehingga kebanyakan memilih jalan singkat untuk percaya kata dokter x, profesor y, dll yang belum terverifikasi kebenarannya.
  3. Apabila kita merasa kemampuan literasi masih rendah maka sebagai seorang muslim haruslah terus mengasahnya. Namun ketika memperoleh informasi dan belum mampu untuk menghukumi maka jadilah "muqallid muttabi" yakni orang yang mengikut pada pendapat orang lain, namun tetap tahu sumbernya, jangan bertaqlid buta.

   Karena berliterasi sesungguhnya telah diajarkan oleh Islam, sebagaimana Islam menjaga sanad suatu hadits dan meneliti dengan detail para perawi' hadits. Selamat mengasah kemampuan berliterasi agar umat Islam kembali menjadi khilifah fil ard dan menebar rahmat ke seluruh alam. Wallahualambissowab.

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA