Tentang Disruption, Saya Tidak Sepakat dengan Prof. Rhenald Kasali

Oleh Ahmad Faiz Zainuddin

 

Akhir-akhir ini saya sering dapat broadcast WA (WhatsApp), postingan Facebook, dan pembicaraan simpang siur yang isinya adalah semacam peringatan bahkan ancaman tentang bahaya “Era Disruption”.

Terakhir bahkan ada seorang penulis yang mungkin karena semangat sekali, menyatakan bahwa saking mengkhawatirkannya era disruption ini “bisa membuat anak cucu kita mati berdiri sambil memeluk kitab suci yang entah akan menolong dengan cara apa”.

Maka, saya terpaksa bikin tulisan ini, walaupun sedang musim ujian di program MBA saya di UK dan USA.

Setelah saya lacak, histeria dan demam disruption ini sepertinya salah-satunya berawal dari buku, ceramah dan tulisan-tulisan Prof. Rhenald Kasali, guru besar Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Indonesia (UI), dan salah satu world management guru, khususnya di bidang change management atau manajemen perubahan.

Saya sangat setuju dan menghormati beliau sebagai salah satu tokoh penggerak perubahan yang saya kagumi dan ikuti tulisan-tulisannya. Dan sampai saat ini pun saya masih menghormati beliau.

Tulisan ini sama sekali nothing personal, hanya sekadar perimbangan wacana saja agar perspektif kita lebih utuh untuk menyikapi gegap gempita demam “Disruption Era” yang salah kaprah.

Saya merasa ada yang kurang lengkap dari pemaparan beliau yang akhirnya bikin banyak orang ketakutan dan salah paham.

Banyak orang awam yang akhirnya jadi panik nanti masa depan anak-anaknya bagaimana jika pekerjaan-pekerjaan yang ada sekarang bakal lenyap.

Banyak eksekutif perusahaan jadi panik jangan-jangan mereka akan jadi korban disruption berikutnya dan akhirnya tergopoh-gopoh mau bertindak tapi jadi mati gaya karena bingung entah mau melakukan apa.

Saya bisa memahami jika Prof. Rhenald bikin banyak orang jadi ketakutan. Bahkan di acara bedah buku beliau di Periplus yang saya tonton lewat Youtube, sang moderator sendiri sampai bertanya, “Prof, ini kita ke sini mau cari ide bisnis di era disruption, tapi kok malah pada pesimis nih menatap masa depan setelah mendengar pemaparan profesor…”

Dan Prof. Rhenald masih juga belum memberikan jawaban yang tegas bagaimana menyikapi perubahan drastis ini.

Saya juga memahami mengapa Prof. Rhenald di buku-bukunya, tulisan-tulisan dan ceramah-ceramahnya banyak menghasilkan kepanikan dan ketakutan. Mungkin ini berawal dari paradigma change management yang menjadi bidang keahlian beliau.

Salah-satu tokoh utama dalam ilmu manajemen perubahan adalah Profesor Emeritus Harvard Business School, John P. Kotter, dengan teori beliau tentang 8 Steps to Change. Dalam teori ini, langkah pertama untuk membuat sebuah organisasi (dan individu) mau berubah adalah dengan increase urgency alias membuat orang-orang merasakan urgensi perubahan. Dan cara paling ampuh untuk itu adalah dengan bikin mereka “ketakutan” apa dampaknya jika tidak mau berubah. Mungkin dengan niat baik inilah Prof. Rhenald hendak menyadarkan masyarakat agar segera “berubah”.

Saya sepakat dengan niat baik untuk menggugah kesadaran masyarakat agar berubah, tapi saya tidak sepakat dengat pendekatan yang entah disadari atau tidak oleh beliau telah menebarkan banyak ketakutan dan kegalauan.

Mengapa saya tidak sepakat? Berikut ini alasannya:

*) Sebenarnya cara “menebarkan ketakutan dan kekhawatiran” ini baik-baik saja diterapkan untuk jenis perubahan yang tidak membutuhkan kreativitas, tapi jadi tidak produktif jika tujuan kita adalah untuk melahirkan inovasi, kreativitas, dan terobosan-terobosan baru. Padahal untuk survive dan berjaya di era disruption, salah satu syarat utamanya adalah: kreativitas.

*) Tidak pernah (atau setidaknya jarang sekali) ide-ide kreatif dan terobosan-terobosan inovatif terlahir dari rasa takut. Buku babon setebal hampir 800 halaman tentang kreativitas The Encyclopedia of Creativity menyebutkan bahwa salah-satu penghalang utama kita untuk menghadirkan solusi kreatif adalah jika kita sedang mengalami emotional barrier (hambatan emosional). Dan di antara semua jenis emosi penghalang kreativitas ini, rasa takut adalah yang paling melumpuhkan.

Jadi, anda tidak bisa memaksa orang yang sedang dilanda ketakutan tentang bahaya era disruption untuk mencari solusi kreatif tentang bagaimana sukses mengatasinya. Anda hanya akan berhasil membuat mereka ketakutan, merasa terpaksa harus berubah, semangat ikut training-nya, tetapi bingung dan mati gaya harus melakukan apa.

*) Cara yang lebih pas untuk membuat orang terbuka pintu hatinya untuk mau berubah sekaligus terinspirasi untuk jadi kreatif menemukan solusi adalah dengan memberikan mereka rasa optimisme akan hadirnya kesempatan yang sangat besar menanti di depan mata.

Berikut ini beberapa contoh tentang optimisme yang melahirkan kreativitas:

*) Bill Gates melahirkan Microsoft bukan karena takut kehilangan pekerjaan, tetapi terinspirasi sekali akan hadirnya komputer, dan optimis bahwa dia bisa bikin software bagus. Akhirnya dia telepon ibunya bahwa dia bakal 6 bulan tidak pulang untuk mengerjakan proyek MS-DOS dari IBM.
*) Mark Zuckerberg bikin Facebook bukan berangkat dari ketakutan akan masa depannya. Bahkan dia pertaruhkan masa depannya dengan DO (drop out) dari Harvard demi mengejar impian “menghubungkan tiap orang di muka bumi”. Pada saat ceramah di acara wisuda di Harvard, dia mengatakan bahwa yang bikin dia bisa melahirkan Facebook adalah karena dia merasa tenang, tidak takut apapun. Dan dia ingin menekankan pentingnya setiap orang untuk “bebas dari rasa takut”, serta untuk mencoba hal-hal baru yang inovatif.
*) Steve Jobs, Thomas Alfa Edison, Elon Musk, Jeff Bezos, menyebutkan bahwa para inovator kreatif yang bikin perubahan-perubahan radikal abad ini, hampir semua tidak ada yang melahirkannya dalam suasana batin ketakutan akan ancaman situasi masa depan. Mereka semua adalah para optimist yang melihat kesempatan besar di tengah kebanyakan orang yang sedang kalut dan takut menghadapi tantangan zamannya.
*) Terakhir, di level lokal, Trio Unicorn Indonesia (startup bernilai di atas Rp 14 triliun: Gojek, Traveloka & Tokopedia) tidak lahir dari orang-orang yang ketakutan akan masa depan. Mereka semua mendirikan perusahaan-perusahaan tersebut dengan suasana batin optimis dan terinspirasi oleh peluang besar di depan mata.
*) Singkat kata: takut & pesimis = bingung & mati gaya. Sebaliknya, tenang & optimis = kreatif & solutif

Era disruption adalah era yang seharusnya membuat kita optimis, bukan malah ketakutan. Mengapa? Karena ini hanyalah era transisi menuju era abundance (keberlimpahan).

Minggu lalu saya baru pulang dari training di Singularity Univeristy. Ini adalah salah-satu lembaga yang meneliti, mengajarkan dan mempopulerkan istilah Disruption Era. Lembaga ini di disponsori oleh NASA, Google, dan perusahaan-perusahaan teknologi paling top di Silicon Valley, bahkan bertempat di pusat penelitian NASA di sana. Di pusatnya, Istilah Disruption Era itu menimbulkan aura positif, optimis, dan penuh semangat.

Saya tidak tahu mengapa begitu sampai di Indonesia malah Disruption Era diartikan salah kaprah sebagai istilah yang menakutkan dan penuh ancaman. Mungkin karena Prof. Rhenald sebagai juru bicara utamanya menyampaikannya sepenggal saja (sisi seramnya), sehingga banyak orang salah paham, panik dan ketakutan. Itulah mengapa belajar setengah-setengah itu berbahaya, little bit learning is dangerous.

Era disruption adalah fase ke-3 dari 6 fase Exponential Growth. Yang menelurkan teori ini adalah Peter Diamandis (co-founder dari Singularity University).

Menurut beliau, abad ini akan ditandai perubahan besar-besaran yang terjadi dalam 6 fase (6D’s of Exponential Growth):

1) Digitalization

Transformasi dari analog menjadi digital. Misal: Kodak menemukan foto digital. Atau musik, film, buku dll dijadikan bentuk digital MP3, MP4, PDF dll

2) Deception

Kodak tertipu karena dikira teknologi ini amatir yang tidak bakal bisa menggantikan keindahan dan ketajaman foto manual, karena saat itu resolusinya masih 0,1 Mega Pixel.

3) Disruption

Di luar kendali Kodak, tiap 18 bulan, ketajaman foto digital naik 2 kali lipat secara eksponensial. Dan pada saat ketajamannya mencapai 2 Mega Pixel, kualitasnya sudah sama dengan foto analog. Saat itulah Kodak mulai terdisrupsi.

Fase inilah yang bikin kehebohan di sana sini. Karena di fase ini, Uber mendisrupsi perusahaan taksi, AirBnB mendisrupsi hotel, dll. Terjadi kepanikan massal karena dipikir dunia (minimal bisnis kita) akan runtuh.

4) Dematerialization

Semua produk digital akhirnya tidak perlu wadah “material” karena tiba-tiba semua bisa disimpan di Cloud yang siap diunduh kapan pun dan dimana pun. Jadi silakan dibuang semua hardisk yang berisi koleksi foto digital anda. Upload saja ke Google Photo yang gratis penyimpanannya, kapanpun, dimanapun, pakai alat apapun yang kompatibel. Jika anda perlu foto itu tinggal download.

5) Demonetization

Begitu semua tidak dalam wadah material, maka harganya makin lama makin turun. Dan satu saat bisa sangat murah dan terjangkau buat semua. Begitu buku sudah di-pdf-kan, harganya nyaris nol. Silakan saja ke koleksi 300 juta buku gratis di: www.pdfdrive.net. Sekarang semua musik, foto, buku, film, serial tv sudah dibikin versi digitalnya, yang kita masih diminta bayar. Tapi ini makin lama akan makin murah, karena tidak ada lagi “biaya cetak”.

6) Democratization

Pada puncaknya, semua produk akan menjadi murah dan tersedia buat semua orang. Anda telah merasakan sebagian. Video call gratis, HP murah, belajar dan baca buku, nonton film dan dengar musik gratis, dll. Inilah fase Abundance for All, keberlimpahan buat semua.

Peter Diamandis menulis buku khusus yg menjelaskan fenomenna Abundance ini. Sekadar intermezzo: saat Bill Clinton mempromosikan buku ini, Peter ditanya sama Bill,“mengapa anda jadi orang kok sangat optimis?”

Peter menjawabnya,“karena saya tidak pernah baca berita (apalagi hoax), dan saya hanya percaya sama data-data ilmiah. Dan semua data ilmiah ini mengarah ke sana bahwa kita semua akan berkelimpahan, abundance for all”.

Mungkin ada baiknya kita tiru kebiasaaan Peter Diamandis ini agar kita tidak serba pesimis dan ketakutan: Jangan banyak baca berita, mulailah baca data-data ilmiah.

Oleh karena itu, semestinya era disruption itu tidak perlu ditakuti atau bikin panik. Cuma perlu dipahami bahwa ini bagian dari revolusi kemajuan peradaban yang makin lama akan makin cepat dan insya Allah mengarah pada perbaikan buat semua. The greatest good for the greatest number of people.

Kalau dalam revolusi ada korban-korban yang bergelimpangan karena tidak cukup paham dan tanggap, itu hal yang biasa. Nanti juga mereka akan belajar. Dan kita semua pun perlu belajar lebih tuntas untuk menyambut Era Baru yang sangat menjanjikan ini.

Kesimpulan:

Terimakasih Prof. Renald Kasali yang atas jasa bapak telah menggugah banyak orang dan perusahaan untuk shock dan mau berubah. Tapi semoga ini tidak kebablasan menjadi ketakutan dan kekhawatiran massal. Karena itu perlu dilengkapi juga dengan wacana penyeimbang yang menyuntikkan optimisme dan harapan.

Sebab, ide-ide besar kreatif dan terobosan-terobosan baru inovatif untuk survive dan berjaya di era disruption ini tidak akan pernah lahir dari rasa takut dan panik, tapi akan tumbuh subur di pikiran orang-orang dan perusahaan-perusahaan yang tenang dan optimis.

Salam takdzim buat Prof. Rhenald Kasali dan kawan-kawan semua yang membaca tulisan ini.

Bloomington, November 2017

Ahmad Faiz Zainuddin

Mahasiswa MBA
Warwick Business School, UK
Indiana University, USA

Alumnus Singularity University, Silicon Valley, USA

(jft/Tribun)

 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...